Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Operasi Robotik vs Konvensional: Mana yang Lebih Minim Risiko?

Operasi Robotik vs Konvensional: Mana yang Lebih Minim Risiko?
Ilustrasi dokter spesialis bedah melakukan operasi kaki di ruang operasi. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Intinya Sih
  • Teknologi bedah robotik kini banyak digunakan di bidang ortopedi karena menawarkan presisi tinggi melalui pemetaan digital dan panduan komputer, berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan keterampilan manual dokter.

  • Siloam Hospitals Mampang memperkuat layanan ortopedi dengan fasilitas modern seperti robotic-assisted surgery, navigasi bedah, prosedur minimal invasif, serta regenerative medicine untuk menghadirkan perawatan yang lebih personal dan presisi.

  • Menurut dr. Isa An Nagib, Sp.OT, Subsp.CO(K), FICS, operasi robotik menghasilkan sayatan lebih kecil, kerusakan jaringan lebih minim, serta risiko komplikasi seperti infeksi dan perdarahan lebih rendah dibandingkan operasi konvensional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia bedah ortopedi. Jika selama bertahun-tahun operasi konvensional menjadi standar dalam penanganan berbagai masalah tulang dan sendi, kini teknologi bedah robotik mulai banyak digunakan untuk membantu dokter melakukan tindakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi. 

Berbeda dengan operasi konvensional yang sepenuhnya mengandalkan keterampilan dan penilaian manual dokter bedah, sistem robotik memanfaatkan pemetaan digital dan panduan komputer untuk membantu perencanaan serta pelaksanaan prosedur.

Meski sama-sama bertujuan memperbaiki fungsi dan kualitas hidup pasien, tetapi kedua metode ini memiliki sejumlah perbedaan dalam hal akurasi, proses operasi, pemulihan hingga hasil jangka panjang yang menarik untuk dipahami.

Table of Content

Meminimalkan sayatan

Meminimalkan sayatan

Bertransformasi menuju pusat layanan ortopedi terintegrasi, Siloam Hospitals Mampang memperkuat layanan melalui pendekatan menyeluruh. Kelengkapan fasilitas seperti layanan diagnostik, radiologi, sports performance center, kamar operasi modern, robotic-assisted surgery, navigasi bedah, prosedur minimal invasif, hingga regenerative medicine seperti stem cell dan orthobiologics menjadi bagian dari upaya rumah sakit menghadirkan layanan yang lebih presisi, personal, dan sesuai kebutuhan pasien.

"Teknik operasi konvensional pastinya mempunyai sayatan yang lebih besar. Pada operasi apa pun itu, misalnya pada operasi penggantian sendi lutut kita kasih contoh, operasi konvensional kan pastinya sayatannya yang dibuat itu jauh lebih besar, bisa mungkin satu atau lebih," jelas dokter spesialis ortopedi, subspesialis cedera olahraga, dr. Isa An Nagib, Sp.OT, Subsp.CO(K), FICS.

Sayatan yang lebih besar saat operasi dan komplikasi yang akan timbul juga pasti akan lebih besar. Dengan metode yang terbaru, operasi dengan metode robotik, sayatannya akan lebih kecil.

Jaringan minim dilukai

Tiga pria berpose di depan latar bertuliskan Siloam Orthovolution 2026 saat konferensi pers di Jakarta, mengenakan pakaian formal dan kartu identitas.
Press Conference Orthovolution 2026 (IDN Times/Misrohatun)

Dengan robotik, operasi juga tidak terlalu banyak merusak jaringan di sekitar daripada area yang dilakukan tindakan konvensional karena tidak merusak jaringan.

"Jadi sebetulnya kalau mengoperasi pasien itu, sebetulnya kita merusak. Mau tidak mau kita merusak untuk memperbaiki sesuatu yang ada di dalamnya. Tapi mau tidak mau, karena kita mau menjangkau itu, kita harus merusak dulu," ujar dr. Nagib.

Dengan teknik robotik ini, jaringan-jaringan di area yang akan dioperasi, dipastikan akan lebih minim dilukai atau dirusak.

Bagaimana dengan risikonya?

Dengan robotik, risiko yang akan timbul saat operasi akan lebih rendah, termasuk untuk komplikasi-komplikasi seperti infeksi, perdarahan akan lebih minimal.

"Sudah barang tentu nanti output-nya yang kita harapkan adalah pasien lebih happy, lebih cepat rehabilitasi untuk latihan, beraktivitas kembali seperti kondisi sebelum dia sakit. Jadi goal-nya ke sana sebetulnya," lanjut dr. Nagib.

Meski begitu, bukan berarti operasi dengan metode konvensional tidak baik, tetapi memang dengan berkembangnya teknologi, ditemukanlah teknik atau metode-metode terbaru yang lebih menguntungkan untuk pasien.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More