Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Paparan Pestisida Picu Risiko Kanker 150 Persen Lebih Tinggi

Studi: Paparan Pestisida Picu Risiko Kanker 150 Persen Lebih Tinggi
ilustrasi menyemprot pestisida (pexels.com/Rosyid Arifin)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Studi menemukan paparan pestisida meningkatkan risiko kanker hingga 150 persen, terutama pada komunitas pedesaan dan adat yang terpapar campuran berbagai bahan kimia secara terus-menerus.

  • Analisis molekuler menunjukkan pestisida dapat mengganggu fungsi sel, melemahkan mekanisme perlindungan tubuh, dan paling berdampak pada hati sebagai organ utama metabolisme zat kimia.

  • Penelitian ini menegaskan pentingnya menilai risiko lingkungan secara menyeluruh karena manusia terpapar campuran zat dalam jangka panjang, dipengaruhi pula oleh perubahan iklim dan ketimpangan sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Paparan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari sering terasa tidak mengancam, yang hadir dalam makanan, air, hingga udara, dan karena itu sering dianggap aman selama dampaknya tidak terasa secara langsung.

Namun, dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal Nature Health, para peneliti dari berbagai institusi internasional menunjukkan bahwa paparan pestisida di lingkungan tidak hanya sekadar isu pertanian, tetapi juga berkaitan dengan risiko kanker yang meningkat secara signifikan.

Pendekatan yang digunakan dalam studi ini berbeda dari penelitian yang sudah-sudah. Alih-alih melihat satu zat secara terpisah, para peneliti mencoba memahami bagaimana manusia terpapar campuran pestisida dalam kondisi nyata, persis seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Table of Content

Di wilayah dengan paparan tinggi, risiko kanker meningkat rata-rata hingga 150 persen lebih tinggi

Di wilayah dengan paparan tinggi, risiko kanker meningkat rata-rata hingga 150 persen lebih tinggi

Penelitian ini dilakukan di Peru, sebuah negara dengan kombinasi unik: pertanian intensif, variasi ekosistem yang luas, serta ketimpangan sosial yang cukup tinggi. Kondisi ini menjadikannya lokasi yang relevan untuk memahami dampak paparan lingkungan terhadap kesehatan manusia.

Data menunjukkan, beberapa kelompok masyarakat, terutama komunitas pedesaan dan adat, terpapar hingga 12 jenis pestisida sekaligus dalam kadar tinggi. Paparan ini tidak terjadi sesekali, melainkan berlangsung terus-menerus.

Dengan memetakan penyebaran pestisida selama enam tahun (2014–2019) dan menghubungkannya dengan data lebih dari 150.000 pasien kanker, tim peneliti menemukan pola yang konsisten, bahwa di wilayah dengan paparan tinggi, risiko kanker meningkat rata-rata hingga 150 persen lebih tinggi.

Yang menarik, 31 bahan kimia yang dianalisis dalam studi ini bahkan tidak diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Artinya, risiko tidak selalu datang dari zat yang sudah jelas berbahaya, tetapi juga dari kombinasi paparan yang kompleks.

Dampak biologis yang terjadi diam-diam

Ilustrasi sel kanker.
ilustrasi sel kanker (unsplash.com/National Cancer Institute)

Salah satu temuan paling penting dari studi ini adalah bagaimana pestisida memengaruhi tubuh, bahkan sebelum kanker berkembang.

Analisis molekuler menunjukkan bahwa:

  • Pestisida dapat mengganggu fungsi sel.
  • Mengubah “identitas” sel normal.
  • Melemahkan mekanisme perlindungan alami tubuh.

Hati menjadi organ yang paling terdampak, karena berperan sebagai pusat metabolisme zat kimia. Dalam konteks ini, hati berfungsi seperti sensor awal yang menunjukkan bahwa tubuh sedang mengalami paparan lingkungan.

Yang perlu digarisbawahi:

  • Perubahan ini terjadi secara perlahan.
  • Sering tanpa gejala.
  • Bersifat kumulatif.

Efeknya baru terasa ketika dikombinasikan dengan faktor lain seperti infeksi, peradangan, atau stres lingkungan.

Inilah yang membuat risiko pestisida sulit dikenali sejak awal.

Implikasi besar untuk kesehatan global

Temuan ini menantang cara lama dalam menilai risiko bahan kimia. Selama ini, pendekatan yang digunakan cenderung:

  • Menguji satu zat dalam kondisi laboratorium.
  • Menetapkan batas aman berdasarkan dosis tunggal.

Namun dalam dunia nyata:

  • Manusia terpapar campuran berbagai zat sekaligus.
  • Dalam jangka panjang.
  • Dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

Studi ini juga menyoroti peran faktor eksternal seperti perubahan iklim. Peristiwa ekstrem seperti El Niño dapat:

  • Mengubah pola penggunaan pestisida.
  • Memperluas penyebarannya di lingkungan.

Dampaknya tidak merata. Kelompok yang paling rentan, seperti komunitas pedesaan dan masyarakat adat, justru menerima paparan paling tinggi.

Lebih luas lagi, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan. Cara kita mengelola tanah, air, dan sistem pertanian secara langsung memengaruhi risiko penyakit di masa depan.

Paparan pestisida dapat menimbulkan risiko berkembang perlahan, tersembunyi di balik rutinitas yang tampak biasa, yang mana efeknya baru terlihat setelah waktu yang panjang.

Pesan dari penelitian ini, perlindungan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada individu, tetapi juga lingkungan tempat tinggal. Memahami hubungan ini adalah langkah awal untuk membangun sistem kesehatan yang lebih adil, lebih preventif, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Referensi

"Pesticides and Cancer: A Study Reveals the Biological Mechanisms Behind an Environmental Health Risk." Institut Pasteur. Diakses April 2026.

Jorge Honles et al., “Mapping Pesticide Mixtures to Cancer Risk at the Country Scale With Spatial Exposomics,” Nature Health, April 1, 2026, https://doi.org/10.1038/s44360-026-00087-0.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More