ilustrasi seorang laki-laki mengalami nyeri dada akibat masalah jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Ada beberapa kondisi haji sebaiknya ditunda karena risiko komplikasi selama perjalanan dan ibadah terlalu tinggi.
Nyeri dada yang muncul saat berjalan pelan, saat istirahat, atau makin sering dalam beberapa minggu terakhir bisa menjadi tanda penyakit jantung koroner yang belum stabil. Kondisi ini dikenal sebagai unstable angina dan dapat berkembang menjadi serangan jantung sewaktu-waktu.
Jika nyeri dada masih sering muncul atau obat belum mampu mengontrol gejala, haji sebaiknya ditunda sampai kondisi lebih stabil.
Orang yang baru mengalami serangan jantung membutuhkan waktu pemulihan sebelum melakukan perjalanan jauh dan aktivitas berat. Pada fase awal setelah serangan jantung, jantung masih rentan terhadap gangguan irama, sesak, atau serangan ulang.
Sebagian besar panduan menyarankan untuk menunda perjalanan jauh setidaknya beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung tingkat keparahan serangan jantung dan hasil evaluasi dokter jantung.
Setelah prosedur seperti pemasangan stent, operasi bypass, atau operasi katup jantung, tubuh perlu waktu untuk pulih. Risiko perdarahan, infeksi, nyeri, hingga sesak masih bisa terjadi pada masa pemulihan.
Karena itu, keputusan berangkat haji sebaiknya menunggu sampai dokter memastikan luka operasi sembuh, fungsi jantung membaik, dan aktivitas fisik sudah kembali cukup baik.
Orang dengan gagal jantung sering kali masih bisa berhaji jika gejalanya ringan dan stabil. Namun, jika mudah sesak meski hanya berjalan pendek, sering bengkak pada kaki, sulit tidur telentang, atau baru dirawat karena penumpukan cairan, risikonya akan jauh lebih tinggi.
Perjalanan panjang, cuaca panas, dehidrasi, dan aktivitas fisik berlebihan dapat memperburuk gagal jantung. Studi menyebutkan bahwa pasien gagal jantung berisiko lebih tinggi mengalami perburukan gejala saat bepergian, terutama jika mengalami kekurangan cairan atau kelelahan berlebihan. Evaluasi sebaiknya dilakukan 4–6 minggu sebelum keberangkatan.
Jantung berdebar hebat, sering pingsan, atau gangguan irama yang belum terkontrol juga perlu diperhatikan. Beberapa aritmia dapat memburuk akibat dehidrasi, kelelahan, kurang tidur, atau paparan panas.
Jika denyut jantung masih sering terlalu cepat, terlalu lambat, atau belum stabil dengan obat, dokter mungkin menyarankan untuk menunda perjalanan terlebih dahulu.