"Pahami Syarat Istitaah Kesehatan sebelum Berangkat Ibadah Haji." Kementerian Kesehatan RI. Diakses April 2026.
WalidH Elrewihby et al., “Acute Kidney Injury in Hospitalized Patients During Muslim Pilgrimage (Hajj: 1432),” Saudi Journal of Kidney Diseases and Transplantation 29, no. 5 (January 1, 2018): 1128, https://doi.org/10.4103/1319-2442.243971.
“Health Guidelines for Kidney Patients." Saudi Ministry of Health. Diakses April 2026.
Pirhossein Kolivand et al., “Epidemiology and Economic Burden of End-stage Kidney Disease by Age, Gender, and Province Among Iranian Hajj Pilgrims in 2012-22: A Retrospective Study of 469,581 Participants,” BMC Nephrology 26, no. 1 (July 30, 2025): 424, https://doi.org/10.1186/s12882-025-04248-3.
Istyarahma Kansya Kusumastuti et al., “RISK FACTORS OF CHRONIC KIDNEY DISEASE AMONG INDONESIAN PROSPECTIVE HAJJ PILGRIMS (DATA ANALYSIS OF SISKOHATKES 2024),” Jurnal Berkala Epidemiologi 13, no. 3 (September 30, 2025): 238–45, https://doi.org/10.20473/jbe.v13i32025.238-245.
Tips agar Jemaah dengan Penyakit Ginjal Tetap Sehat saat Haji

Cuaca panas, dehidrasi, infeksi, dan kelelahan fisik dapat memperburuk fungsi ginjal selama haji.
Jemaah dengan penyakit ginjal perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum berangkat, termasuk menyesuaikan obat, pola makan, dan kebutuhan cairan.
Jemaah yang menjalani dialisis perlu merencanakan jadwal dan lokasi hemodialisis sejak jauh hari.
Penyakit ginjal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal. Banyak orang masih merasa cukup sehat, bisa beraktivitas, dan tetap menjalani rutinitas sehari-hari. Namun, saat tubuh berada dalam kondisi yang lebih berat seperti saat beribadah haji, ginjal harus bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan cairan, garam, dan tekanan darah.
Ibadah haji melibatkan berjalan jauh, berdiri lama, paparan panas, perubahan pola makan, dan risiko dehidrasi. Semua itu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah dengan gangguan ginjal, terutama yang sudah memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, batu ginjal, atau rutin cuci darah.
Table of Content
Mengapa jemaah dengan penyakit ginjal perlu lebih berhati-hati?
Ginjal berfungsi menyaring limbah dari darah dan membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Saat tubuh kekurangan cairan atau mengalami infeksi, kerja ginjal bisa terganggu dan kondisi yang sebelumnya stabil dapat memburuk.
Selama haji, risiko dehidrasi cukup tinggi karena cuaca panas, aktivitas fisik yang berat, dan kadang kurang minum. Selain itu, diare, muntah, infeksi saluran kemih, atau penggunaan obat nyeri tertentu juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal akut.
Sebuah studi pada pasien yang dirawat selama musim haji menemukan bahwa sekitar 10 persen mengalami acute kidney injury atau cedera ginjal akut. Infeksi, hipertensi, dan diabetes menjadi faktor yang paling sering ditemukan pada pasien-pasien tersebut.
Risiko ini penting diperhatikan karena banyak jemaah haji berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta. Pada data jemaah haji Indonesia, penyakit ginjal kronis termasuk salah satu penyebab kematian dan sering muncul bersamaan dengan hipertensi serta penyakit jantung.
Apa yang perlu dilakukan sebelum berangkat?

Persiapan medis sebaiknya dilakukan dari jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, bukan beberapa hari sebelum berangkat.
Jemaah dengan penyakit ginjal sebaiknya berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam atau ginjal untuk memastikan kondisi tubuh cukup stabil untuk menjalani haji.
Pemeriksaan biasanya meliputi tekanan darah, fungsi ginjal, kadar kreatinin, kadar elektrolit, dan penyesuaian obat jika diperlukan.
Jika memiliki riwayat batu ginjal, infeksi saluran kemih, atau bengkak pada kaki, itu juga perlu dibicarakan dengan dokter karena bisa memengaruhi kebutuhan cairan selama haji.
Bawalah obat dalam jumlah cukup untuk seluruh perjalanan, plus cadangan beberapa hari. Simpan obat di tas yang mudah dijangkau dan jangan memindahkan obat ke wadah tanpa label agar tidak tertukar. Simpan semua obat dengan baik selama haji.
Cara mengatur cairan selama beribadah haji
Banyak orang menganggap semua pasien ginjal harus minum air lebih banyak. Padahal, kebutuhan cairan pada pasien penyakit ginjal bisa berbeda-beda tergantung jenis penyakit dan stadium.
Pada orang dengan batu ginjal atau fungsi ginjal ringan yang masih cukup baik, minum cukup air penting untuk mencegah dehidrasi. Namun, pada pasien dengan gagal ginjal lanjut, terutama yang menjalani dialisis atau memiliki gagal jantung, terlalu banyak minum justru bisa menyebabkan sesak napas, bengkak, dan penumpukan cairan.
Karena itu, ikuti anjuran dokter mengenai berapa banyak cairan yang boleh diminum setiap hari. Jangan menunggu sangat haus baru minum, karena rasa haus sering kali terlambat muncul saat tubuh sudah mulai kekurangan cairan.
Hindari terlalu lama berada di bawah paparan sinar matahari, terutama antara pukul 10 pagi hingga 4 sore. Cuaca panas dapat meningkatkan kehilangan cairan dan garam dari tubuh, yang pada akhirnya membebani ginjal.
Bagaimana dengan makanan?

Pola makan selama haji sering berubah. Jadwal makan bisa tidak teratur, pilihan makanan terbatas, dan banyak makanan tinggi garam atau tinggi protein.
Padahal, pada penyakit ginjal, konsumsi garam yang terlalu tinggi dapat memicu tekanan darah naik dan bengkak. Sementara itu, terlalu banyak protein, terutama dari daging merah, dapat menambah beban kerja ginjal.
Pilih makanan yang lebih sederhana dan mudah dicerna. Batasi makanan yang terlalu asin, terlalu gurih, instan, atau sangat tinggi protein. Prioritaskan nasi, roti, buah, sayur matang, sup, dan sumber protein secukupnya sesuai anjuran dokter.
Siapa yang perlu ekstra hati-hati?
Jemaah dengan penyakit ginjal kronis stadium awal hingga sedang masih bisa berangkat haji jika kondisi tubuh stabil dan dinyatakan layak oleh dokter. Namun, mereka tetap perlu lebih berhati-hati karena cuaca panas, dehidrasi, infeksi, dan kelelahan fisik dapat memperburuk fungsi ginjal.
Sementara itu, orang dengan gagal ginjal yang sudah membutuhkan hemodialisis rutin atau dialisis peritoneal umumnya tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan untuk berhaji. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi karena pasien membutuhkan perawatan intensif, pemantauan ketat, serta jadwal terapi yang sulit disesuaikan dengan rangkaian ibadah haji.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan sangat penting untuk menentukan apakah kondisi ginjal masih cukup stabil dan aman untuk menjalani ibadah haji.
Penyakit ginjal bukan berarti seseorang tidak bisa berhaji. Banyak jemaah dengan gangguan ginjal tetap dapat menjalani ibadah dengan baik, asalkan kondisi tubuh stabil dan persiapannya matang.
Yang paling penting adalah mengenali batasan tubuh. Jangan memaksakan diri saat cuaca terlalu panas, jangan menunda minum atau makan, dan segera mencari bantuan medis jika muncul tanda seperti bengkak berat, sesak, lemas berlebihan, muntah terus-menerus, atau jumlah urine berkurang drastis. Dengan persiapan yang baik, ibadah tetap bisa dijalani dengan lebih aman dan nyaman.
Referensi


![[QUIZ] Dari Cara Kamu Mengatasi Sakit Kepala, Ini Tingkat Stres Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250506/pexels-anthonyshkraba-production-8374281-1bf597d5bcf3c62d3c3224d16c5ab0ce-7ce977d22d416f9f609177bfa758a9c1.jpg)





![[QUIZ] Cek Lingkar Perut dan Tinggi Badan, Apakah Kamu Masuk Zona Aman?](https://image.idntimes.com/post/20250802/1000147210_14ceb2b9-8e49-4a8a-8d5c-3657900481aa.jpg)
![[QUIZ] Detoks Media Sosial, Kamu Perlu 1 Hari, 1 Minggu, atau 1 Bulan?](https://image.idntimes.com/post/20260108/fpkdl_3bd58e8e-a2d0-4996-85f9-dce3924b9c70.jpg)


![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Mengelola Amarah](https://image.idntimes.com/post/20230413/pexels-cottonbro-studio-9063608-799c959c8a681bc3037abd5954852522.jpg)



![[QUIZ] Dari Durasi Workout Kamu, Kami Bisa Tebak Masalah Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20251001/2149552268_25252593-fc7d-4716-9c8b-1d03c608a056.jpg)

