Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi pemeriksaan gigi dan mulut oleh dokter gigi (pexels.com/ArvindPhilomin)
  • Karies biasanya muncul pada jaringan gigi di sekitar tambalan, bukan pada bahan tambalannya.

  • Risiko bisa berkaitan dengan proses karies yang masih aktif, tambalan yang retak atau aus, maupun celah di tepinya.

  • Noda gelap belum tentu karies. Pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan apakah tambalan perlu diperbaiki atau diganti.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang merasa masalah gigi sudah selesai setelah gigi yang berlubang ditambal. Namun, beberapa tahun kemudian, rasa ngilu atau lubang baru bisa muncul pada gigi yang sama. Apa mungkin gigi yang sudah ditambal bisa berlubang lagi?

Jawabannya, bisa. Tambalan gigi memang membantu memperbaiki bagian gigi yang rusak, tetapi tidak membuat gigi kebal terhadap kerusakan di masa depan. Lubang baru dapat terbentuk di tepi tambalan atau pada bagian gigi lainnya, terutama jika kebersihan mulut kurang terjaga atau tambalan sudah mulai aus.

Berikut beberapa penyebab gigi yang sudah ditambal bisa berlubang lagi yang perlu kamu ketahui.

Apa yang membuat karies muncul di sekitar tambalan?

Karies terbentuk ketika bakteri di dalam plak mengubah gula dari makanan dan minuman menjadi asam. Asam dapat mengikis mineral gigi. Jika proses ini berulang, bagian gigi bisa melemah dan akhirnya berlubang. Gigi yang sudah ditambal pun tetap bisa mengalami proses tersebut, terutama di bagian tepi tambalan atau di permukaan gigi lain.

Tambalan yang retak, aus, terkelupas, atau memiliki celah di tepinya juga dapat menjadi tempat plak berkumpul. Seiring waktu, kondisi itu bisa memudahkan karies berkembang di jaringan gigi sekitarnya. Risiko karies pasien secara keseluruhan turut berperan, misalnya kebersihan gigi yang kurang baik, sering mengonsumsi makanan atau minuman manis, atau mulut kering. Bahan tambalan juga dapat berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Proses karies bisa berlanjut di gigi meski tambalan masih ada, sementara tambalan sendiri dapat berubah atau rusak setelah digunakan. Tambalan dan mahkota gigi juga tidak selalu bertahan seumur hidup.

Gigi berlubang ditandai dengan noda gelap?

ilustrasi dokter gigi memeriksa gigi berlubang (unsplash.com/Mufid Majnun)

Garis gelap di tepi tambalan atau perubahan warna gigi memang bisa bikin orang curiga gigi berlubang. Namun, tampilan itu saja belum cukup untuk memastikan ada karies aktif. Karies pada tahap awal kadang belum menimbulkan gejala.

Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis yang terbit pada 2025 menilai 25 penelitian tentang metode untuk mendeteksi karies di sekitar tambalan. Kesimpulannya, tidak ada satu metode yang dinilai cukup akurat jika digunakan sendirian. Dokter gigi dapat menggabungkan pemeriksaan langsung dengan foto rontgen jika diperlukan, lalu menilai hasilnya berdasarkan kondisi dan risiko karies pasien.

Kapan perlu menemui dokter gigi?

Karies tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan. Jika berkembang, gigi dapat menjadi sensitif terhadap makanan atau minuman panas, dingin, maupun manis; terasa sakit; atau tambalannya tampak pecah dan terasa kasar.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya temui dokter gigi, terutama jika gejala menetap atau memburuk.

Karies yang ditemukan di dekat tambalan juga tidak selalu mengharuskan seluruh tambalan diganti. Bergantung pada kondisi gigi, dokter gigi mungkin cukup memperbaiki atau menutup kembali bagian tertentu. Jika kerusakannya lebih luas, tambalan mungkin perlu diganti.

Cara mengurangi risiko karies berulang

Kebiasaan merawat seluruh gigi tetap penting, termasuk gigi yang sudah ditambal. Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida, membersihkan sela gigi setiap hari, membatasi makanan dan minuman manis, serta menjalani pemeriksaan gigi berkala. Jika mulut terasa kering, termasuk karena obat tertentu, sampaikan hal itu kepada dokter gigi karena dapat meningkatkan risiko karies.

Tambalan membantu memperbaiki gigi yang berlubang, tetapi tidak menghentikan faktor yang menyebabkan karies. Jika gigi yang sudah ditambal kembali terasa ngilu atau tepinya berubah, pemeriksaan dokter gigi dapat memastikan apakah penyebabnya karies, kerusakan tambalan, atau hal lain.

Referensi

Haitham Askar et al., “Secondary Caries: What Is It, and How It Can Be Controlled, Detected, and Managed?” Clinical Oral Investigations 24, no. 5 (2020): 1869–76, https://doi.org/10.1007/s00784-020-03268-7.

Falk Schwendicke et al., “How to Intervene in the Caries Process in Adults: Proximal and Secondary Caries? An EFCD-ORCA-DGZ Expert Delphi Consensus Statement,” Clinical Oral Investigations 24 (2020): 3315–21, https://doi.org/10.1007/s00784-020-03431-0.

National Institute of Dental and Craniofacial Research, “Oral Hygiene,” diakses 7 November 2026.

National Institute of Dental and Craniofacial Research, “Dental Fillings,” diakses 7 November 2026.

Jason Chi-Kit Ku et al., “Accuracy of Detection Methods for Secondary Caries around Direct Restorations: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Dentistry 153 (2025): 105541, https://doi.org/10.1016/j.jdent.2024.105541.

National Institute of Dental and Craniofacial Research, “Tooth Decay,” diakses 7 November 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article