Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bikin Merinding! Ini Penyebab Bulu Mata Bisa Dihuni Kutu
ilustrasi bulu mata (pexels.com/ Mypointofview)
  • Kutu yang ditemukan di bulu mata biasanya adalah kutu kemaluan (Phthirus pubis), bukan tungau Demodex.

  • Penularan paling sering terjadi melalui kontak intim. Perpindahan lewat tangan atau barang yang baru dipakai orang terinfeksi juga mungkin terjadi.

  • Kutu di bulu mata anak perlu diperiksa tenaga kesehatan. Temuan ini bukan bukti adanya kekerasan seksual, tetapi dokter perlu menilai kemungkinan paparan dan keamanan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rasa gatal di kelopak mata sering dianggap sebagai iritasi atau radang. Namun, ada penyebab yang lebih jarang, yaitu kutu dan telurnya menempel di pangkal bulu mata. Kondisi ini disebut phthiriasis palpebrarum dan biasanya disebabkan kutu kemaluan, Phthirus pubis.

Kutu ini lebih dikenal hidup di rambut kemaluan, tetapi juga dapat ditemukan di alis, janggut, ketiak, dada, dan bulu mata.

Berikut ini beberapa penyebab bulu mata bisa dihuni kutu. Kenali dan hindari, ya!

1. Kontak intim dengan orang yang terinfeksi

Kutu kemaluan umumnya berpindah melalui kontak dekat antarmanusia, terutama kontak seksual. Saat rambut tubuh bersentuhan, kutu dapat berpindah ke orang lain dan kemudian menetap di rambut kasar di bagian tubuh lain, termasuk bulu mata.

2. Tangan memindahkan kutu dari bagian tubuh lain ke mata

Phthirius pubis. (commons.wikimedia.org/Doc. RNDr. Josef Reischig, CSc.)

Seseorang yang memiliki kutu di rambut kemaluan atau rambut tubuh dapat memindahkannya ke area mata lewat tangan, misalnya setelah menyentuh area yang terinfeksi lalu mengucek mata.

Sebuah laporan kasus medis pada 2025 mencatat tangan yang terkontaminasi sebagai salah satu jalur kutu mencapai bulu mata.

3. Kontak dekat atau barang yang baru dipakai orang terinfeksi

Penularan lewat pakaian, seprai, atau handuk mungkin terjadi, tetapi lebih jarang dibandingkan kontak langsung.

Kutu kemaluan hanya hidup pada manusia dan tidak ditularkan oleh hewan peliharaan. Karena itu, kutu di bulu mata bukan tanda bahwa seseorang kurang menjaga kebersihan.

Kutu di bulu mata anak perlu dinilai dokter

Pada anak, kutu dapat berpindah melalui kontak dekat dengan orang dewasa yang terinfeksi atau melalui barang yang digunakan bersama. Namun, temuan kutu kemaluan di bulu mata anak juga bisa menjadi petunjuk kemungkinan paparan seksual atau kekerasan, sehingga perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.

Studi retrospektif di Prancis yang terbit pada 2026 mencatat 20 kasus pada anak. Sumber penularan berhasil diketahui pada sekitar separuh kasus; pada sejumlah anak, ditemukan pula orang terdekat yang terinfeksi kutu kemaluan. Peneliti tidak menemukan kasus kekerasan seksual dalam kelompok tersebut, tetapi jalur penularan tidak diperiksa secara sistematis pada semua kasus. Karena jumlah kasusnya kecil, hasil ini tidak dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa sering penularan tertentu terjadi.

Kutu berbeda dari tungau Demodex

Demodex follicularum. (commons.wikimedia.org/K.V. Santosh)

Tidak semua keluhan gatal atau kotoran di pangkal bulu mata berarti ada kutu. Tungau Demodex, misalnya, merupakan organisme kecil yang dapat hidup di folikel rambut manusia dan berbeda dari kutu kemaluan.

Dokter mata membedakan keduanya melalui pemeriksaan, termasuk dengan mikroskop khusus pada mata.

Kelopak mata yang gatal, merah, berair, atau memiliki benda kecil yang melekat di pangkal bulu mata sebaiknya diperiksa. Gejala tersebut bisa menyerupai radang kelopak mata, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Jangan mengoleskan sampo atau obat kutu biasa di dekat mata. Penanganan untuk bulu mata memerlukan cara yang aman bagi mata dan arahan tenaga kesehatan.

Referensi

Fuxiang Yuan, Dong Tang, dan Zhanyu Zhou, “Phthiriasis Palpebrarum: A Systematic Review and Illustrative Case Presentation,” European Journal of Ophthalmology 36, no. 1 (2026): 138–46, https://doi.org/10.1177/11206721251371361.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Pubic ‘Crab’ Lice,” diakses 27 Oktober 2026.

College of Optometrists, “Phthiriasis Palpebrarum (Pediculosis Ciliaris),” diakses 27 Oktober 2026.

Yusuf Samet Atlıhan et al., “The Hidden Danger in the Eyelids: Diagnosis and Treatment of Bilateral Phthiriasis Palpebrarum—A Rare Pediatric Case Report,” Turkiye Parazitoloji Dergisi, terbit daring 9 September 2025, https://doi.org/10.4274/tpd.galenos.2025.66934.

Marie Damez et al., “Pediatric Phthiriasis Palpebrarum: A French Multicentric Retrospective Study of 20 Cases,” J Pediatr Clin Pract 21 (2026): 200219, https://doi.org/10.1016/j.jpedcp.2026.200219.

Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of Pubic Lice,” diakses 27 Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article