Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ISPA dan Pneumonia Sering Dianggap Sama, Ini 5 Perbedaannya!
ilustrasi seorang wanita yang terkena ISPA (magnific.com/benzoix)
  • ISPA adalah infeksi akut yang dapat menyerang saluran napas atas hingga bawah, sedangkan pneumonia secara khusus menginfeksi paru-paru dan alveoli.
  • Keduanya dapat dipicu virus atau bakteri; pneumonia juga bisa disebabkan jamur maupun parasit. Antibiotik tidak selalu diperlukan tanpa pemeriksaan tenaga medis.
  • Pneumonia dapat memicu sesak, nyeri dada, napas berat, hingga kekurangan oksigen. Keluhan memburuk, napas cepat, atau bibir kebiruan perlu segera diperiksakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kadang batuk, pilek, demam, atau sesak napas langsung disebut pneumonia, padahal belum tentu, lho. ISPA dan pneumonia memang sama-sama berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan, tetapi keduanya punya perbedaan dari lokasi infeksi, penyebab, hingga tingkat keparahannya. Karena gejalanya bisa terlihat mirip, penting untuk mengenali bedanya supaya gak asal menyimpulkan kondisi tubuh sendiri.

Nah, ISPA bisa menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah, sementara pneumonia secara khusus terjadi ketika infeksi sudah menyerang paru-paru. Meski sekilas gejalanya mirip, pneumonia bisa lebih serius dan perlu mendapat penanganan yang tepat, terutama kalau keluhannya makin berat. Lalu, apa saja yang membedakan ISPA dan pneumonia? Yuk, kenali perbedaannya supaya gak salah mengira!

1. Lokasi infeksinya berbeda

ilustrasi rasa sakit di dada (magnific.com/jcomp)

Ketika hidung tersumbat, tenggorokan terasa gak nyaman, dan kemudian muncul batuk, banyak orang cenderung langsung menganggapnya sebagai pneumonia. Sesungguhnya, ISPA adalah istilah untuk infeksi akut yang dapat menyerang saluran pernapasan dari atas hingga bawah, lho. Sebaliknya, pneumonia secara khusus merupakan infeksi yang menyerang paru-paru, termasuk alveoli di mana pertukaran udara terjadi.

Karena area infeksi tersebut berbeda, keluhan yang timbul juga dapat bervariasi pada tiap orang. ISPA sering kali disertai gejala seperti pilek, hidung tersumbat, tenggorokan sakit, batuk, atau demam, sedangkan pneumonia umumnya lebih sering dihubungkan dengan batuk, demam, kesulitan bernapas, dan nyeri dada. Jadi, jangan terburu-buru membuat kesimpulan hanya berdasarkan satu gejala saja, ya.

2. Penyebabnya sama-sama bisa virus, tetapi tidak terbatas pada itu

ilustrasi demam dan flu (freepik.com/benzoix)

Saat mengalami batuk atau pilek, virus sering kali menjadi salah satu penyebab paling umum pada ISPA. Akan tetapi, ISPA juga dapat disebabkan oleh bakteri atau mikroorganisme lain, bergantung pada jenis infeksi dan bagian saluran pernapasan yang terlibat. Oleh karena itu, istilah ISPA sebenarnya cukup luas dan tidak merujuk pada satu jenis kuman tertentu.

Pneumonia juga dapat disebabkan oleh beragam mikroorganisme, termasuk virus, bakteri, jamur, dan dalam kondisi tertentu parasit. WHO mengidentifikasi virus dan bakteri sebagai penyebab paling umum, sementara Kementerian Kesehatan mencatat bahwa jamur dan parasit juga dapat menjadi penyebab, meskipun lebih jarang. Artinya, pneumonia tidak selalu berarti infeksi bakteri dan gak selalu memerlukan antibiotik sebelum adanya pemeriksaan tenaga medis.

3. Gejalanya bisa mirip, tetapi pneumonia dapat menunjukkan keluhan yang lebih berat

ilustrasi batuk (magnific.com/8photo)

Batuk, demam, tubuh terasa lemas, dan rasa gak enak badan muncul pada infeksi saluran pernapasan atas maupun pneumonia. Ini adalah alasan mengapa keduanya sulit dibedakan hanya berdasarkan gejala awal, terutama saat keluhannya masih gak terlalu parah. Namun, dalam hal pneumonia, gejala seperti kesulitan bernapas, rasa nyeri di dada saat bernapas atau batuk, serta napas yang terasa berat harus lebih diperhatikan.

Pada beberapa orang, pneumonia juga dapat menyebabkan kelelahan ekstrem, menggigil, bahkan kebingungan, terutama di kelompok usia lanjut. Di sisi lain, infeksi saluran pernapasan atas yang ringan sering ditandai dengan gejala di saluran pernapasan seperti pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan batuk. Meskipun begitu, gejala saja gak selalu mencukupi untuk memastikan diagnosis dan tetap diperlukan pemeriksaan kalau keluhan semakin parah.

4. Tingkat keparahannya gak selalu sama

ilustrasi sakit flu dan batuk (magnific.com/benzoix)

Istilah ISPA sering dianggap sebagai kondisi ringan karena banyak kasusnya memang menimbulkan gejala yang dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, ISPA gak selalu dianggap sepele karena infeksi di saluran pernapasan juga bisa berkembang menjadi lebih serius dalam situasi tertentu. Kementerian Kesehatan bahkan menyatakan bahwa dalam klasifikasi klinisnya, ISPA dapat mencakup pneumonia maupun kondisi lainnya.

Pneumonia sendiri bisa berada pada tingkat ringan sampai berat, tergantung kondisi dan faktor risiko orang yang mengalaminya. Pada kasus yang serius, gangguan pada sistem pernapasan dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, yang memerlukan penanganan medis, termasuk perawatan di rumah sakit pada kondisi tertentu. Jadi, kalau mengalami kesulitan bernapas, napas yang cepat, rasa sakit di dada, atau bibir yang tampak kebiruan, jangan hanya menunggu hingga membaik sendiri, ya.

5. Penanganannya bergantung pada penyebab dan kondisi tubuh

ilustrasi periksa ke dokter (magnific.com/freepik)

Saat mengalami ISPA, penanganannya gak selalu berarti harus minum antibiotik. Banyak infeksi saluran pernapasan disebabkan virus, sehingga penanganan biasanya disesuaikan dengan gejala dan kondisi orang yang sakit, sementara pemeriksaan diperlukan jika keluhan menetap atau semakin berat. Istirahat cukup, menjaga asupan cairan, dan memperhatikan perkembangan gejala bisa menjadi bagian dari perawatan, tetapi tetap bukan pengganti pemeriksaan medis ketika dibutuhkan.

Pada pneumonia, penanganannya gak bisa disamaratakan karena dokter perlu melihat penyebab dan seberapa berat infeksinya. Kalau penyebabnya bakteri, dokter bisa meresepkan antibiotik, sementara pneumonia akibat virus gak serta-merta membutuhkan obat tersebut. Nah, karena infeksinya menyerang paru-paru dan bisa berkembang menjadi lebih serius, sebaiknya segera periksa kalau muncul sesak napas atau gejalanya terasa makin berat.

Jadi, ISPA dan pneumonia memang sama-sama menyerang sistem pernapasan, tetapi keduanya punya perbedaan dari lokasi infeksi, gejala, penyebab, hingga penanganannya. Mengenali perbedaannya bisa membantu kamu lebih peka terhadap gejala yang muncul dan gak asal menebak kondisi tubuh sendiri. Nah, kalau batuk atau sesak mulai terasa gak biasa, jangan ditunda untuk cari tahu penyebabnya, ya.

Referensi

“Pneumonia.” World Health Organization (WHO). Diakses September 2026.

“Pneumonia in children.” World Health Organization (WHO). Diakses September 2026.

“Guideline on management of pneumonia and diarrhoea in children up to 10 years of age.” World Health Organization (WHO). Diakses September 2026.

“Infection prevention and control measures for acute respiratory infections in healthcare settings: an update.” World Health Organization, Eastern Mediterranean Health Journal. Diakses September 2026.

“Hasil Utama SKI 2023 – Penyakit Menular (ISPA, Pneumonia, Diare, TB Paru, Malaria).” Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article