ilustrasi perasaan bahagia (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Takotsubo syndrome lebih dikenal sebagai broken heart syndrome atau sindrom patah hati karena sering muncul setelah kesedihan, ketakutan, kemarahan, atau stres fisik berat. Namun, emosi positif yang sangat intens, seperti pernikahan, reuni, pesta ulang tahun, atau kabar menggembirakan lainnya, juga bisa menjadi pemicunya.
Tubuh tidak hanya bereaksi terhadap emosi negatif. Kegembiraan yang sangat kuat juga dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik dan memicu lonjakan hormon stres seperti adrenalin. Lonjakan ini diduga mengganggu pembuluh darah kecil dan memberikan efek toksik sementara pada sel otot jantung. Meski demikian, mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.
Happy heart syndrome sangat jarang terjadi. Penelitian dari International Takotsubo Registry mengidentifikasi 20 kasus yang dipicu peristiwa menyenangkan dari 485 pasien takotsubo dengan pemicu emosional—sekitar 4,1 persen. Gejala dan hasil jangka pendeknya secara umum serupa dengan kasus yang dipicu emosi negatif.
Kasus terbaru ini tetap tidak membuktikan bahwa kebahagiaan merupakan satu-satunya penyebab. Pasien juga memiliki beberapa faktor risiko kardiovaskular dan sebelumnya pernah mengalami nyeri dada. Sebagai laporan satu kasus, temuan tersebut tidak menunjukkan seberapa besar risiko kondisi ini pada masyarakat umum.