Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: Risiko Jantung Bisa Mulai Terlihat sejak Usia 20-an
ilustrasi orang-orang usia 20-an (unsplash.com/Eliott Reyna)
  • Studi terbaru terhadap 1.283 dewasa muda dengan usia rata-rata 23 tahun menemukan hampir 80 persen berada pada sindrom CKM tahap 1–3.

  • Tahap CKM yang lebih tinggi berkaitan dengan dinding arteri karotis yang lebih tebal, salah satu tanda awal cedera pembuluh darah.

  • Temuan studi ini menunjukkan faktor risiko penyakit jantung dapat mulai terbentuk jauh sebelum gejala muncul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Usia 20-an sering terasa terlalu muda untuk mulai memikirkan penyakit jantung. Tekanan darah mungkin jarang diperiksa, angka kolesterol belum diketahui, dan pemeriksaan kesehatan rutin mudah dianggap sebagai urusan beberapa dekade lagi.

Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa perubahan yang berkaitan dengan kesehatan jantung dapat mulai terlihat jauh lebih awal.

Studi yang terbit pada 20 Agustus 2026 dalam jurnal Circulation: Population Health and Outcomes ini menemukan bahwa hampir 8 dari 10 peserta dewasa muda dengan usia rata-rata 23 tahun sudah berada pada cardiovascular-kidney-metabolic (CKM) syndrome atau sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik tahap 1 hingga 3. Mereka yang berada pada tahap lebih tinggi juga menunjukkan lebih banyak tanda awal cedera pada arteri.

1. Hampir 80 persen sudah memiliki setidaknya satu masalah CKM

Para peneliti menganalisis 1.283 orang dewasa muda di Amerika Serikat (AS), dengan usia rata-rata 22,9 tahun dan sekitar 54 persennya perempuan.

CKM merupakan konsep dari American Heart Association (AHA) yang menggambarkan hubungan erat antara kesehatan jantung, ginjal, dan metabolisme. Kelebihan lemak tubuh, tekanan darah tinggi, gula darah abnormal, penyakit ginjal, dan penyakit kardiovaskular tidak selalu berdiri sendiri, tetapi dapat saling memengaruhi.

Hasil penelitian menunjukkan:

  • 20,7 persen peserta berada pada tahap 0 atau tidak memiliki faktor risiko CKM yang teridentifikasi.

  • 40,2 persen berada pada tahap 1, terutama berkaitan dengan kelebihan adipositas atau lemak tubuh.

  • 36,2 persen berada pada tahap 2 dengan faktor risiko metabolik.

  • 2,8 persen berada pada tahap 3, yang mencakup penyakit kardiovaskular subklinis atau penyakit ginjal stadium lanjut.

Tidak ada peserta dengan tahap 4 karena orang yang sudah memiliki penyakit kardiovaskular tidak dimasukkan dalam analisis.

2. Perubahan sudah terlihat pada arteri di leher

Para peneliti kemudian menggunakan ultrasonografi (USG) untuk melihat arteri karotis, pembuluh darah besar di sisi leher yang membawa darah menuju otak.

Salah satu yang diukur adalah carotid intima-media thickness (cIMT), yaitu ketebalan lapisan dinding arteri. Dinding yang makin tebal dapat menjadi penanda adanya perubahan awal pada pembuluh darah dan sering digunakan dalam penelitian untuk melihat proses aterosklerosis sebelum penyakit kardiovaskular menjadi jelas secara klinis.

Dibanding peserta tahap 0, rata-rata ketebalan maksimum dinding arteri karotis lebih tinggi sekitar:

  • 0,014 mm pada tahap 1

  • 0,020 mm pada tahap 2

  • 0,100 mm pada tahap 3

Walaupun tampak kecil, tetapi studi menemukan pola yang konsisten, bahwa makin lanjut tahap CKM, makin buruk pula sejumlah indikator kesehatan arteri yang diperiksa.

Perlu digarisbawahi bahwa studi ini mengidentifikasi tanda awal cedera arteri, bukan mendiagnosis penyakit jantung pada hampir 80 persen peserta.

3. Kesehatan jantung juga dinilai dari 8 faktor

ilustrasi usia 20-an (pexels.com/Yan Krukau)

Selain tahap CKM, para peneliti menggunakan Life's Essential 8 dari AHA untuk menilai kesehatan kardiovaskular peserta.

Delapan komponennya adalah:

  1. Pola makan.

  2. Aktivitas fisik.

  3. Paparan nikotin.

  4. Tidur.

  5. Berat badan.

  6. Kadar kolesterol.

  7. Gula darah.

  8. Tekanan darah.

Peserta pada CKM tahap 1 sampai 3 memiliki skor Life's Essential 8 yang secara signifikan lebih rendah dibanding mereka yang berada pada tahap 0.

Pola tidur, aktivitas fisik, merokok, tekanan darah, gula darah, dan faktor lainnya ikut membentuk kesehatan kardiovaskular sepanjang hidup.

4. Bukan berarti 8 dari 10 anak muda akan terkena penyakit jantung

Studi ini merupakan penelitian cross-sectional (semua data dinilai pada satu periode). Para peneliti dapat menemukan hubungan antara tahap CKM dengan kondisi arteri, tetapi tidak membuktikan tahap CKM tertentu menyebabkan kerusakan tersebut atau memastikan siapa yang kelak akan mengalami serangan jantung dan stroke.

Sebagian data gaya hidup juga berasal dari laporan peserta sendiri.

Selain itu, penelitian sengaja melibatkan cukup banyak peserta dari latar belakang sosial ekonomi kurang beruntung. Karena itu, hasil hampir 8 dari 10 peserta tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh orang berusia 20-an, termasuk populasi di Indonesia.

Penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk mengetahui seberapa kuat tahap CKM pada usia muda dapat memprediksi penyakit kardiovaskular puluhan tahun kemudian.

5. Usia 20-an tetap menjadi kesempatan untuk pencegahan

Karena penyakit kardiovaskular umumnya baru menimbulkan masalah klinis bertahun-tahun kemudian, jadi usia muda sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbaiki faktor risiko sedini mungkin.

Caranya:

  • Tidak merokok atau menggunakan nikotin.

  • Aktif bergerak.

  • Tidur cukup.

  • Menerapkan pola makan sehat seimbang.

  • Menjaga berat badan, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah dalam rentang sehat.

Tekanan darah sebaiknya diketahui sejak muda. Begitu pula dengan kolesterol dan gula darah, terutama jika ada faktor risiko atau riwayat keluarga.

Pesan dari studi ini, proses menuju penyakit kardiovaskular dapat mulai terbentuk sejak usia muda, saat orang masih merasa muda dan sehat. Jangan menunggu untuk menjaga kesehatan jantung sampai usia paruh baya.

Referensi

Vaishnavi Krishnan et al., “Association Between Cardiovascular-Kidney-Metabolic Health and Early Arterial Injury in Young Adults in the United States: The Future of Families–Cardiovascular Health Among Young Adults Study,” Circulation: Population Health and Outcomes, August 20, 2026, e013042, doi:10.1161/CIRCOUTCOMES.125.013042.

Chiadi E. Ndumele et al., “Cardiovascular-Kidney-Metabolic Health: A Presidential Advisory From the American Heart Association,” Circulation 148, no. 20 (2023): 1606–1635, doi:10.1161/CIR.0000000000001184.

Donald M. Lloyd-Jones et al., “Life’s Essential 8: Updating and Enhancing the American Heart Association’s Construct of Cardiovascular Health,” Circulation 146, no. 5 (2022): e18–e43, doi:10.1161/CIR.0000000000001078.

Curated For You

Editorial Team

Related Article