Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan NUTRITION 2026 dari American Society for Nutrition melibatkan 128 peserta berusia 14–21 tahun. Kesamaan semuanya adalah mereka terbiasa melewatkan sarapan sedikitnya enam kali dalam seminggu.
Para peserta kemudian secara acak dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok tetap melewatkan sarapan, kelompok kedua mendapat sarapan dengan sekitar 15 gram protein, dan kelompok ketiga mendapat sarapan tinggi protein dengan sekitar 30 gram protein berkualitas tinggi.
Peneliti tidak sekadar meminta peserta “cobalah sarapan”. Lebih dari 18.000 porsi makanan disiapkan selama penelitian, termasuk burrito, quesadilla, telur orak-arik, dan smoothie. Pada awal penelitian serta setelah tiga dan enam bulan, peserta kelompok sarapan menerima makanan yang telah disiapkan dan konsumsi mereka dilacak melalui penimbangan wadah makanan serta 24-hour dietary recall (mereka diminta mengingat dan melaporkan semua makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir untuk menilai asupan gizi). Kepatuhan terhadap makanan yang diberikan dilaporkan lebih dari 90 persen.
Ketiga kelompok mengonsumsi jumlah kalori harian yang kurang lebih sama. Perbedaannya muncul pada apa yang terdapat di dalam kalori tersebut.
Remaja yang sarapan mendapat lebih banyak serat, zat besi, zink, dan kolin dibanding mereka yang tetap tidak sarapan. Pada kelompok tinggi protein, asupan protein, zat besi, dan kolin juga lebih tinggi daripada kelompok sarapan protein normal.
Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang mana kualitas pola makan sangat penting. Pola makan sehat butuh kecukupan dan keberagaman zat gizi.