Sebanyak 50–60 Persen Pasien Kanker Prostat Datang saat Stadium Lanjut

- Di Indonesia, kanker prostat menempati posisi lima besar kanker terbanyak pada laki-laki, dengan estimasi mencapai 13.000 kasus baru setiap tahunnya.
- Yang mengkhawatirkan, sebanyak 50–60 persen pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Kondisi ini membuat penanganan menjadi lebih sulit dan peluang kesembuhan makin menurun.
- Risiko kanker prostat meningkat signifikan pada laki-laki di atas 50 tahun.
Siloam Hospitals ASRI baru menggelar “The 5th Siloam Urology-Nephrology Summit 2025” di Jakarta, Minggu (24/8/2025). Forum ilmiah tahunan ini mempertemukan pakar urologi dan nefrologi dari dalam maupun luar negeri untuk berbagi wawasan terkini seputar penyakit ginjal dan saluran kemih.
Salah satu topik yang menarik adalah paparan dari dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, SpU(K), PhD, Dokter Urologi Siloam Hospitals ASRI, yang menyoroti kanker prostat.
Kanker ini tercatat sebagai kanker paling sering didiagnosis kedua pada laki-laki di dunia. Data global menunjukkan, sekitar 1,41 hingga 6 juta laki-laki didiagnosis kanker prostat pada tahun 2022, setara dengan 7,3 persen dari seluruh kasus kanker pada laki-laki.
1. Data kanker prostat di Indonesia
Di Indonesia, Prof. Rizal memaparkan bahwa kanker prostat menempati posisi lima besar kanker terbanyak pada laki-laki, dengan estimasi mencapai 13.000 kasus baru setiap tahunnya. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada jumlah kasus, melainkan fakta bahwa 50–60 persen pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Kondisi ini membuat penanganan menjadi lebih sulit dan peluang kesembuhan makin menurun.
"Satu studi itu menunjukkan bahwa pasien-pasien yang datang ke kita itu hampir 50-60 persen sudah stadium lanjut, sehingga ini menjadi satu tantangan bagi kita dalam melakukan penanganan atau deteksi dini kanker prostat di Indonesia," jelas Prof. Rizal
Seperti banyak jenis kanker lainnya, kanker prostat yang terdeteksi pada stadium awal (localized atau regional) memiliki prognosis sangat baik, dengan angka harapan hidup lima tahun mendekati 100 persen. Sebaliknya, ketika kanker sudah menyebar ke organ lain (metastasis), angka harapan hidup lima tahunnya merosot tajam menjadi sekitar 30 persen. Ini artinya, dari 10 pasien stadium IV, hanya tiga yang mampu bertahan dalam lima tahun.
Meski demikian, menurut pengalaman klinis di lapangan, perkembangan metode pengobatan terkini mulai menunjukkan hasil yang lebih positif, bahkan bagi pasien dengan kanker prostat stadium lanjut.
"Tapi mungkin data ini akan berubah karena dari pengalaman pribadi dalam melakukan penanganan kanker prostat, yang sudah stadium lanjut pun dengan pengobatan yang ada saat ini, itu cenderung lebih banyak yang memberikan respons dengan cukup baik," tambahnya.
2. Deteksi dini masih jadi PR besar

Fenomena keterlambatan diagnosis kanker prostat ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Data sementara dari negara-negara tetangga, contohnya Malaysia, menunjukkan tren serupa. Sekitar 50 persen pasien baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium IV. Kondisi ini menekankan keterlambatan deteksi merupakan masalah regional yang membutuhkan perhatian serius.
Salah satu indikator penting dalam skrining kanker prostat adalah Prostate-Specific Antigen (PSA), yaitu penanda biologis yang bisa diukur dari darah.
"Rata-rata PSA-nya 10 tahun yang lalu dengan sekarang, ditemukan sama, tidak turun. itu rata-rata sekitar sekian ratus PSA,"
Angka ini jauh melampaui batas normal yang seharusnya di bawah 4 ng/mL. Fakta ini menandakan bahwa sebagian besar pasien masih datang ketika penyakitnya sudah berkembang cukup jauh.
Menurut Prof. Rizal, kondisi ini menjadi PR besar bagi dunia medis. Ia mengimbau untuk meningkatkan kesadaran, memperluas akses skrining, dan mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
3. Mengenali faktor risiko kanker prostat
Selain tantangan deteksi dini, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor-faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan terkena kanker prostat. Usia menjadi faktor utama. Risiko kanker prostat meningkat signifikan pada laki-laki di atas 50 tahun.
Namun, faktor keluarga juga tak kalah penting. Prof. Rizal mengingatkan bahwa riwayat kanker prostat pada kerabat sedarah berhubungan erat dengan adanya mutasi genetik, salah satunya mutasi BRCA1 dan BRCA2. Meski awalnya dikenal sebagai gen yang terkait dengan kanker payudara, penelitian menunjukkan mutasi ini juga dapat meningkatkan risiko kanker prostat.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, genetic testing kini mulai banyak digunakan di Indonesia untuk mengidentifikasi risiko kanker secara lebih personal. Tes ini memungkinkan deteksi dini faktor bawaan, sehingga pencegahan dan pemantauan bisa dilakukan lebih optimal.
Di luar faktor genetik, gaya hidup juga berperan besar. Riwayat penyakit menular seksual, obesitas, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol terbukti dapat meningkatkan kerentanan terhadap kanker prostat.
Dengan makin jelasnya tantangan deteksi dini serta data kasus yang terus meningkat, kanker prostat perlu mendapat perhatian lebih serius di Indonesia. Edukasi masyarakat hingga pemanfaatan teknologi medis mutakhir menjadi kunci untuk menekan angka keterlambatan diagnosis.