Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Stetoskop: Berawal dari Kertas dan Rasa Sungkan
Terbuat dari kayu dan kuningan, ini adalah salah satu stetoskop asli milik dokter Prancis René Théophile Laennec (1781-1826), yang menciptakan stetoskop pertama pada tahun 1816. (commons.wikimedia.org/Science Museum London/Science and Society Picture Library)
  • Gulungan kertas merupakan alat percobaan awal yang kemudian dikembangkan menjadi stetoskop kayu.

  • Laënnec mempelajari hubungan suara jantung dan paru-paru dengan perubahan organ akibat penyakit.

  • Stetoskop juga digunakan untuk mendengarkan suara usus, bukan hanya jantung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 1816, dokter Prancis René Laënnec menghadapi situasi yang membuatnya sungkan. Ia perlu memeriksa seorang perempuan muda dengan gejala penyakit jantung. Saat itu, salah satu cara mendengarkan suara jantung adalah menempelkan telinga langsung ke dada pasien.

Laënnec merasa cara tersebut tidak pantas dilakukan pada pasiennya. Ia kemudian menggulung kertas menjadi tabung, menempelkan satu ujung ke dada perempuan itu, dan mendengarkan melalui ujung lainnya. Suara jantung terdengar lebih jelas. Kisah ini menjadi awal perkembangan stetoskop.

1. Setelah kertas, bentuknya menjadi tabung kayu

Pada awalnya, stetoskop belum memiliki selang lentur dan dua ujung telinga. Laënnec mengembangkan tabung kayu berongga yang digunakan dengan satu telinga.

Menurut artikel sejarah dalam jurnal Clinical Medicine & Research, tabung tersebut panjangnya sekitar 25 sentimeter dan berdiameter 3,5 sentimeter. Alatnya dapat dibongkar menjadi beberapa bagian agar mudah dibawa. Jadi, gulungan kertas adalah titik awal percobaannya, sementara kayu menjadi bahan alat yang kemudian ia kembangkan.

2. Namanya berarti “memeriksa dada”

ilustrasi konsultasi medis dengan dokter menggunakan stetoskop untuk pemeriksaan pasien (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Kata "stetoskop" berasal dari bahasa Yunani, yakni "stethos", yang berarti "dada", dan "skopein", yang berarti memeriksa atau mengeksplorasi.

Nama tersebut merujuk pada bagian tubuh yang diperiksa, meskipun alat ini bekerja melalui pendengaran.

3. Laënnec tidak berhenti pada membuat alat

Laënnec mempelajari suara jantung dan paru-paru, lalu mencocokkannya dengan temuan autopsi—pemeriksaan tubuh setelah seseorang meninggal. Dengan cara itu, ia menelusuri hubungan antara suara yang terdengar ketika pasien masih hidup dan perubahan pada organnya.

Pada tahun 1819, ia menerbitkan karya tentang pemeriksaan menggunakan pendengaran dengan bantuan alat, dikenal sebagai auskultasi tidak langsung.

4. Suara perut juga bisa didengarkan

Ketika dokter memindahkan stetoskop dari dada ke perut, yang diperiksa berbeda. Tenaga kesehatan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan jantung, paru-paru, dan usus. Mereka menilai karakter suara, termasuk kekuatan, durasi, dan frekuensinya.

Karena itu, pemeriksaan dengan stetoskop bukan cuma mendengar ada atau tidaknya bunyi, tetapi dokter juga memperhatikan bagaimana bunyi tersebut terdengar untuk memperoleh informasi tentang tubuh pasien.

Referensi

Misha Choudry et al., “The History and Evolution of the Stethoscope,” Cureus 14, no. 8 (2022): e28171, https://doi.org/10.7759/cureus.28171.

Ariel Roguin, “Rene Theophile Hyacinthe Laënnec (1781–1826): The Man Behind the Stethoscope,” Clinical Medicine & Research 4, no. 3 (2006): 230–35, https://doi.org/10.3121/cmr.4.3.230.

MedlinePlus, “Auscultation,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article