- Demam tinggi (bisa mencapai 40 derajat Celcius).
- Batuk.
- Pilek akut.
- Mata merah dan berair (konjungtivitis)
Siklus Penyakit Campak dari Awal hingga Sembuh

Campak adalah penyakit sangat menular akibat virus Morbillivirus, menyebar lewat percikan batuk atau bersin dan bisa menular ke banyak orang dalam populasi tanpa kekebalan.
Penyakit ini memiliki empat fase: awal tanpa gejala, prodromal dengan demam dan batuk, fase ruam saat imun melawan virus, lalu pemulihan.
Faktor seperti kekurangan vitamin A dan imun lemah memperberat gejala, sementara vaksinasi MMR tetap jadi cara paling efektif mencegah penularan campak secara luas.
Campak kerap dianggap sebagai penyakit anak biasa karena identik dengan ruam merah di kulit. Padahal, infeksi yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus ini termasuk salah satu penyakit paling menular di dunia. Dalam populasi yang belum memiliki kekebalan, satu orang bisa menularkan virus ke belasan orang lainnya hanya lewat percikan batuk atau bersin.
Yang jarang disadari, campak memiliki siklus perjalanan penyakit yang cukup terstruktur, mulai dari fase tanpa gejala hingga benar-benar pulih. Memahami alurnya penting agar kamu bisa lebih waspada, mengenali tanda awal, serta mencegah penularan sejak dini, terutama pada bayi, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Yuk, ketahui bagaimana siklus penyakit campak mulai dari awal hingga sembuh!
Table of Content
1. Fase awal: virus masuk tanpa gejala (hari 0–10)
Siklus campak dimulai saat kamu menghirup percikan droplet dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Virus masuk melalui saluran pernapasan dan menempel pada sel-sel imun di area hidung dan tenggorokan.
Pada 2–3 hari pertama, tidak ada gejala apa pun. Kamu terlihat sehat, padahal virus sudah mulai berkembang biak secara diam-diam.
Memasuki hari ke-4 hingga ke-6, virus menyebar melalui aliran darah (viremia) ke berbagai organ seperti kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, hingga saluran pernapasan.
Masa inkubasi ini rata-rata berlangsung 10–14 hari (bisa 7–21 hari). Selama periode ini, tubuh belum menunjukkan tanda-tanda sakit sehingga sering kali kamu tidak sadar kamu sudah terinfeksi.
2. Fase prodromal: gejala awal mulai muncul (hari 10–14)
Sekitar hari ke-10 setelah terinfeksi, gejala awal mulai terasa. Biasanya berupa:
Tiga gejala utama ini sering disebut sebagai “3C”: cough, coryza, conjunctivitis. Pada fase ini juga muncul bercak putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spots. Ini adalah tanda khas campak.
Pada fase inilah penularan berada di puncaknya. Kamu sudah bisa menularkan virus sejak 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelahnya. Jadi, meskipun ruam belum terlihat, virus sudah sangat aktif menyebar.
3. Fase ruam: gejala memuncak (hari 14–18)

Sekitar hari ke-14, ruam merah mulai muncul. Biasanya diawali dari belakang telinga dan garis rambut, lalu menyebar ke wajah, leher, badan, hingga kaki dalam waktu 3–4 hari. Ruam ini muncul karena sistem imun mulai menyerang sel-sel yang terinfeksi virus. Artinya, kemunculan ruam sebenarnya menandakan tubuh sedang melawan infeksi.
Di fase ini, demam bisa kembali tinggi dan penderita tampak sangat lemas. Pada sebagian kecil kasus, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah atau kekurangan vitamin A, bisa terjadi komplikasi seperti:
- Pneumonia
- Radang otak (ensefalitis)
- Diare berat
Kendati jarang, komplikasi inilah yang membuat campak berbahaya.
4. Fase pemulihan: tubuh mengalahkan virus (hari 18 dan seterusnya)
Setelah ruam menyebar maksimal, warnanya akan berubah menjadi kecokelatan lalu perlahan memudar dan mengelupas ringan. Biasanya dalam minggu ke-3 atau ke-4, penderita mulai pulih sepenuhnya.
Pada fase ini, tubuh sudah membentuk antibodi spesifik (IgM lalu IgG) untuk melawan virus. Sel-sel imun menghentikan replikasi virus hingga akhirnya virus benar-benar hilang dari tubuh.
Setelah sembuh, kamu umumnya memiliki kekebalan seumur hidup terhadap campak. Namun, dalam kasus yang sangat jarang, virus bisa menetap dalam bentuk tidak aktif dan bertahun-tahun kemudian menyebabkan komplikasi langka bernama subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), gangguan otak progresif yang serius.
5. Faktor yang memengaruhi keparahan campak
Beberapa hal bisa membuat siklus penyakit campak menjadi lebih berat, seperti:
- Kekurangan vitamin A.
- Sistem imun lemah.
- Kehamilan (berisiko keguguran atau persalinan prematur).
Organisasi kesehatan dunia merekomendasikan suplementasi vitamin A pada anak yang terkena campak untuk mengurangi risiko komplikasi. Yang paling penting, vaksinasi MMR (measles, mumps, rubella) mampu mencegah infeksi sejak awal. Sejak program vaksinasi diperluas secara global, angka kasus campak turun drastis.
Dengan memahami perjalanan penyakit ini, kamu bisa lebih cepat mengenali gejalanya, melakukan isolasi lebih dini, dan mencegah penularan ke orang lain, terutama bayi dan orang dengan imun lemah.
Campak memang tergolong penyakit yang bisa sembuh sendiri, tapi bukan berarti aman. Pencegahan melalui vaksinasi tetap menjadi langkah paling efektif untuk memutus rantai penularan.
Referensi
CDC. Diakses pada Februari 2026. "Measles Clinical Diagnosis Fact Sheet."
CDC. Diakses pada Februari 2026. "Measles (Rubeola)."
EMCrit. Diakses pada Februari 2026. "Measles in the adult hospitalized patient."
MSD Manual. Diakses pada Februari 2026. "Measles."
Rheumatology Advisor. Diakses pada Februari 2026. "Measles: What You Need to Know Now."



![[QUIZ] Kalau Punya Anak, Kamu Bakal Jadi Tipe Bapak Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250517/premium-photo-1664279990106-9f5c41bd7f5a-b87dbf88049ea09327ded00ec8bf5046-e7f7326c95d633244190a220a2836080.jpeg)














