Berat badan berlebih dan obesitas pada masa anak dapat berkaitan dengan kesehatan fisik, mental, dan sosial. WHO menyebut anak dapat menghadapi stigma, diskriminasi, perundungan, kualitas hidup yang lebih rendah, hingga hambatan dalam performa sekolah.
Obesitas juga dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 serta penyakit kardiovaskular.
Namun, faktor yang memengaruhi berat badan beragam, yang merupakan hasil interaksi berbagai faktor biologis, lingkungan, dan psikososial. Akses terhadap makanan sehat, kesempatan bergerak dengan aman, kebiasaan tidur, serta lingkungan keluarga dan sekolah ikut berperan.
Dukungan sehari-hari bisa dimulai dari kebiasaan keluarga, mulai dari menyediakan makanan beragam, mengajak anak aktif bergerak, menjaga waktu tidur, memberi ruang untuk bermain, serta pengurangan waktu sedenter (duduk lama) dan penggunaan layar sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
Pendekatan ini membantu orang tua mendampingi kesehatan anak tanpa menyalahkan atau mempermalukan mereka. Fokusnya adalah mendukung pertumbuhan yang sehat.
Referensi
Azza Fithra Alhanifa, Tresna Ananda Dewi Purbasari, dan Putu Cintya Denny Yuliyatni, “Prevalence, Trends, and Projections of Overweight and Obesity Among Children and Adolescents in Indonesia, 1993–2050: A Meta-Analysis of Observational Studies,” Majalah Kesehatan Indonesia 7, no. 3 (2026): 131–154, https://doi.org/10.47679/makein.2026326.
UNICEF Indonesia, "The Cost of Inaction on Childhood Obesity in Indonesia: Summary for Policymakers," (Jakarta: UNICEF Indonesia, 2026), diakses 23 Oktober 2026.
World Health Organization, “BMI-for-Age (5–19 Years),” diakses 23 Oktober 2026.
World Health Organization, “Obesity and Overweight,” diakses 23 Oktober 2026.