Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi Terbaru Ungkap 3 Penyebab Utama Kematian Ibu di AS

Ilustrasi ibu hamil.
ilustrasi ibu hamil (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya sih...
  • Studi terbaru menemukan overdosis obat yang tidak disengaja, pembunuhan, dan bunuh diri sebagai penyebab utama kematian ibu di AS.
  • Lebih dari setengah kematian akibat overdosis dan kekerasan terjadi saat kehamilan, bukan hanya setelah melahirkan.
  • Temuan ini menegaskan perlunya skrining kesehatan mental, penggunaan zat, dan kekerasan dalam rumah tangga sebagai bagian rutin perawatan prenatal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama bertahun-tahun, pembicaraan tentang kematian ibu hampir selalu berpusat pada komplikasi medis seperti perdarahan, infeksi, atau tekanan darah tinggi. Namun, data terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda dan lebih kompleks.

Penelitian dalam The New England Journal of Medicine mengungkap bahwa penyebab kematian ibu hamil dan ibu nifas di Amerika Serikat (AS) justru didominasi oleh faktor nonmedis: overdosis obat yang tidak disengaja, pembunuhan, dan bunuh diri.

Studi ini dipimpin oleh tim peneliti dari Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons. Mereka menganalisis data sertifikat kematian seluruh perempuan yang meninggal saat hamil atau dalam 42 hari setelah melahirkan, sepanjang tahun 2018–2023. Hasilnya mengejutkan banyak kalangan medis.

Temuan tersebut menantang asumsi lama bahwa komplikasi obstetri adalah ancaman utama. Sebaliknya, kekerasan dan penggunaan zat menjadi faktor dominan yang sering kali luput dari perhatian sistem kesehatan.

Temuan studi

Analisis baru ini menunjukkan bahwa overdosis obat yang tidak disengaja menjadi penyebab kematian terbanyak, dengan angka 5,2 kematian per 100.000 kelahiran. Disusul oleh pembunuhan dan bunuh diri, yang jika digabung mencapai 3,9 kematian per 100.000 kelahiran.

Menariknya, lebih dari setengah kematian akibat overdosis dan kekerasan terjadi saat perempuan masih hamil, bukan hanya pada periode nifas. Sebaliknya, empat penyebab medis utama—penyakit kardiovaskular, infeksi, hipertensi, dan perdarahan—lebih sering terjadi pada periode segera setelah melahirkan.

Studi ini juga mengidentifikasi disparitas rasial yang signifikan. Overdosis dan bunuh diri lebih sering terjadi pada perempuan kulit putih, sementara pembunuhan lebih banyak dialami perempuan kulit hitam. Lebih dari tiga perempat kematian akibat kekerasan melibatkan senjata api.

Selama periode enam tahun pengamatan, angka kematian ibu secara keseluruhan relatif stabil, kecuali peningkatan sementara pada masa pandemi COVID-19.

Mengapa penyebab ini sering terlewat?

Seorang ibu hamil sedang beristirahat di sofa.
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/cottonbro studio)

Dalam dua dekade terakhir di AS, berbagai intervensi medis untuk mencegah komplikasi kehamilan makin luas diterapkan. Namun, skrining penggunaan zat, depresi, atau kekerasan pasangan intim belum selalu menjadi bagian standar yang konsisten di semua layanan kesehatan maternal.

Peneliti utama studi tersebut, Hooman Azad, menyatakan bahwa overdosis dan kekerasan “tidak biasanya berada dalam radar” ketika tenaga kesehatan memikirkan strategi menurunkan angka kematian ibu. Padahal, data menunjukkan kontribusinya terus meningkat.

Salah satu hambatan historis adalah kurangnya standardisasi pencatatan status kehamilan dalam sertifikat kematian, sehingga tren ini sebelumnya sulit dilacak secara akurat. Studi terbaru ini menggunakan pendekatan data yang lebih sistematis untuk mengidentifikasi kasus secara komprehensif.

Temuan ini menegaskan bahwa keselamatan ibu bukan hanya soal stabilitas tekanan darah atau penanganan perdarahan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental, keamanan rumah tangga, dan akses layanan adiksi.

Apa artinya bagi perawatan kehamilan?

Pesan penting dari temuan studi ini adalah perlunya pendekatan multidisipliner dalam perawatan ibu hamil. Skrining rutin untuk penggunaan zat dan risiko overdosis, depresi dan pikiran bunuh diri, serta kekerasan pasangan intim perlu menjadi bagian integral dari kunjungan prenatal dan postpartum.

Berbagai organisasi kesehatan selama ini memang menekankan pentingnya pendekatan komprehensif terhadap kesehatan ibu, termasuk aspek sosial dan psikologis, tetapi implementasinya masih bervariasi.

Merujuk pasien ke layanan kesehatan mental, program rehabilitasi penggunaan zat, serta layanan sosial dapat menjadi strategi penyelamatan jiwa. Para peneliti memperkirakan bahwa dengan intervensi terfokus pada pencegahan overdosis dan kekerasan, ratusan nyawa bisa diselamatkan setiap tahun.

Keselamatan perempuan hamil memerlukan perlindungan menyeluruh baik itu di ruang periksa, di rumah, dan di komunitas.

Studi terbaru ini mengubah cara masyarakat memandang kematian ibu. Ancaman terbesar bukan hanya komplikasi medis klasik, tetapi juga overdosis dan kekerasan—dua isu yang kerap berada di luar fokus obstetri tradisional.

Mengintegrasikan skrining kesehatan mental dan keamanan sosial dalam perawatan kehamilan sangat penting. Keselamatan ibu dimulai dari pengakuan bahwa risiko medis dan sosial berjalan berdampingan, dan keduanya sama pentingnya untuk ditangani.

Depresi, pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele dan tidak boleh dianggap sebagai kelemahan pribadi. Jika kamu atau orang terdekat mengalami perasaan putus asa, kehilangan minat hidup, atau muncul pikiran untuk mengakhiri hidup, segera cari bantuan profesional. Kamu dapat menghubungi Sejiwa 119 (ekstensi 8) atau https://www.healing119.id/ untuk dukungan kesehatan jiwa, atau mendatangi fasilitas layanan kesehatan terdekat seperti puskesmas dan rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri/psikologi klinis.

Kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan berbasis gender juga bukan masalah privat yang harus dipendam sendiri. Jika kamu merasa tidak aman, mengalami ancaman, atau kekerasan fisik maupun emosional, kamu dapat menghubungi SAPAA129 (Sahabat Perempuan dan Anak) di 129 atau WhatsApp 08111-129-129, serta Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di kota/kabupaten masing-masing. Keamanan dan keselamatanmu adalah prioritas.

Penggunaan zat adiktif, termasuk obat-obatan terlarang atau penyalahgunaan obat resep, adalah kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan medis dan dukungan, bukan stigma. Jika kamu atau keluarga membutuhkan bantuan terkait ketergantungan zat, layanan rehabilitasi dapat diakses melalui BNN (Badan Narkotika Nasional) di 184 atau fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan program rehabilitasi. Mencari bantuan adalah langkah berani dan penting untuk melindungi diri serta masa depan keluarga.

Referensi

"The Most Common Causes of Maternal Death May Surprise You." Columbia University. Diakses Februari 2026.

Hooman A. Azad et al., “Overdose, Homicide, and Suicide as Causes of Maternal Death in the United States,” New England Journal of Medicine 394, no. 7 (February 11, 2026): 722–23, https://doi.org/10.1056/nejmc2512078.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Studi Terbaru Ungkap 3 Penyebab Utama Kematian Ibu di AS

17 Feb 2026, 09:27 WIBHealth