Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Tak Perlu Hewan, Virus Pandemi Bisa Langsung Menular ke Manusia
ilustrasi virus dan bakteri (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Penelitian baru menemukan bahwa banyak virus pandemi dapat menular ke manusia tanpa perlu adaptasi panjang sebelumnya.

  • Analisis genom virus menunjukkan perubahan evolusi biasanya terjadi setelah virus menyebar pada manusia, bukan sebelumnya.

  • Paparan manusia terhadap beragam virus dari hewan menjadi faktor utama yang memungkinkan terjadinya pandemi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan beranggapan bahwa virus dari hewan harus mengalami proses adaptasi yang panjang sebelum mampu menular dan menyebar pada manusia. Proses evolusi ini diyakini terjadi di hewan perantara atau melalui mutasi bertahap sebelum akhirnya memicu wabah besar.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda. Dalam banyak kasus, virus ternyata sudah memiliki kemampuan dasar untuk menginfeksi manusia bahkan sebelum mengalami perubahan evolusi besar.

Temuan ini datang dari tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan di University of California San Diego, Amerika Serikat, yang menganalisis evolusi sejumlah virus penyebab wabah besar. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Cell.

1. Virus zoonosis bisa menular tanpa adaptasi panjang

Banyak penyakit menular pada manusia berasal dari hewan. Fenomena ini dikenal sebagai zoonotic spillover, yaitu ketika virus berpindah dari hewan ke manusia.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis genom berbagai virus yang pernah menyebabkan wabah besar, termasuk:

  • Virus Ebola.

  • Virus Marburg.

  • Virus Mpox.

  • Virus influenza A.

  • SARS‑CoV‑2

Mereka mencari tanda-tanda seleksi evolusioner yang biasanya muncul ketika virus harus beradaptasi dengan inang baru.

Hasilnya, para peneliti tidak menemukan bukti kuat bahwa virus-virus tersebut mengalami perubahan evolusi signifikan tepat sebelum mulai menyebar pada manusia.

Sebaliknya, perubahan genetika justru lebih sering terjadi setelah virus sudah menular antar manusia.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak virus mungkin sudah memiliki kemampuan dasar untuk menginfeksi manusia bahkan sebelum terjadi wabah.

2. Bukti evolusi dapat membedakan asal virus

ilustrasi mikroorganisme (IDN Times/Novaya Siantita)

Untuk memastikan metode analisis mereka akurat, para peneliti juga mempelajari virus yang diketahui mengalami manipulasi atau seleksi di laboratorium.

Dalam kondisi tersebut, virus biasanya meninggalkan “jejak evolusi” yang jelas pada genomnya. Jejak ini muncul karena virus mengalami proses seleksi berulang saat dikembangkan dalam kultur sel atau hewan percobaan.

Ketika pendekatan yang sama digunakan untuk mempelajari SARS‑CoV‑2, hasilnya berbeda.

Para peneliti tidak menemukan pola evolusi yang menunjukkan bahwa virus tersebut telah mengalami seleksi intensif di laboratorium sebelum muncul pada manusia.

Menurut penulis utama penelitian ini, Joel O. Wertheim, pola evolusi tersebut justru konsisten dengan peristiwa zoonosis alami, yaitu ketika virus berpindah dari hewan ke manusia tanpa rekayasa laboratorium.

3. Paparan manusia terhadap virus hewan jadi faktor penting

Temuan lain dari penelitian ini mengubah cara kita memahami awal mula pandemi.

Selama ini, banyak orang mengira virus pandemi harus memiliki mutasi khusus atau adaptasi yang sangat kompleks sebelum mampu menular pada manusia. Namun, hasil analisis evolusi menunjukkan bahwa itu tidak selalu diperlukan.

Banyak virus hewan kemungkinan sudah memiliki kemampuan dasar untuk menginfeksi manusia. Yang menentukan apakah wabah akan terjadi bukan hanya mutasi virus, tetapi juga seberapa sering manusia terpapar virus dari hewan.

Situasi seperti perdagangan satwa liar, perubahan ekosistem, interaksi manusia dengan hewan liar, dan kepadatan populasi manusia dapat meningkatkan peluang virus berpindah dari hewan ke manusia.

Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya pengawasan virus pada hewan serta upaya pencegahan zoonosis di lingkungan tempat manusia dan hewan sering berinteraksi.

Penelitian terbaru ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana pandemi dapat dimulai. Banyak virus dari hewan ternyata tidak memerlukan proses adaptasi panjang sebelum mampu menginfeksi manusia. Sebaliknya, virus sering kali sudah memiliki kemampuan dasar untuk menular, dan perubahan evolusi baru terjadi setelah virus menyebar di populasi manusia.

Temuan ini mengingatkan bahwa pencegahan pandemi tidak hanya bergantung pada mempelajari mutasi virus, tetapi juga pada upaya mengurangi risiko kontak antara manusia dan virus yang berasal dari hewan.

Dengan memahami bagaimana pandemi muncul, ilmuwan dan pembuat kebijakan dapat lebih fokus pada pengawasan virus, pencegahan zoonosis, dan sistem peringatan dini untuk menghadapi risiko wabah di masa depan.

Referensi

Jennifer L. Havens et al., “Dynamics of Natural Selection Preceding Human Viral Epidemics and Pandemics,” Cell, March 1, 2026, https://doi.org/10.1016/j.cell.2026.02.006.

"Recent Pandemic Viruses Jumped to Humans Without Prior Adaptation, UC San Diego Study Finds." UC San Diego. Diakses Maret 2026.

Editorial Team