Mateusz K. Mateuszczyk et al., “Erythroderma, Alopecia, Anhidrosis, and Vitiligo as Complications of a Red Ink Tattoo—A Case Report,” Clinics and Practice 15, no. 12 (November 28, 2025): 224, https://doi.org/10.3390/clinpract15120224.
Tato Merah Memicu Reaksi Imun yang Mengubah Hidup Pria Polandia Ini

- Tinta tato merah paling sering dikaitkan dengan reaksi alergi berat.
- Pigmen tato bisa memicu respons imun sistemik, bukan hanya lokal.
- Orang dengan penyakit autoimun perlu ekstra waspada sebelum bertato.
Bagi seorang pria asal Polandia berusia 30-an, tato di lengan kanan awalnya hanyalah bentuk ekspresi diri. Namun, empat bulan setelah tato itu dibuat, tubuhnya mulai memberi sinyal aneh. Ruam merah gatal muncul di lengan dan dada, lalu menyebar makin luas hingga berkembang menjadi eritroderma, peradangan atau inflamasi kulit berat yang bisa mengancam nyawa.
Awalnya, kondisi ini disangka eksim. Dugaan itu bertahan sampai dokter melihat pola yang janggal: perubahan kulit mirip erupsi (eruption-like changes) muncul di area tato berwarna merah, terutama setelah pengobatan dihentikan. Di titik inilah, tato yang semula dianggap tak relevan mulai dicurigai sebagai pemicu utama.
Seiring waktu, dampaknya meluas. Rambut di seluruh tubuh rontok, kemampuan berkeringat menghilang, dan bercak vitiligo mulai muncul. Ini menandai gangguan serius pada sistem imun, bukan sekadar reaksi kulit biasa.
Tinta merah dan sistem imun yang terlalu siaga
Diagnosis akhirnya mengarah pada reaksi imun ekstrem yang dipicu pigmen tato merah. Dalam laporan kasus yang dipublikasikan dalam jurnal medis MDPI, tim dari Wroclaw Medical University menjelaskan bahwa tinta merah memang paling sering dikaitkan dengan reaksi alergi berat dibanding warna lain.
Masalahnya, komposisi tinta tato tidak selalu transparan. Pigmen merah diketahui bisa mengandung zat berbahaya seperti merkuri atau pewarna sintetis azo, yang bersifat toksik dan berpotensi karsinogenik. Dalam kasus ini, tim medis bahkan tidak bisa menguji tinta yang digunakan karena sampelnya tidak tersedia.
Yang membuat kondisinya makin kompleks, pasien ini memiliki tiroiditis Hashimoto, yaitu penyakit autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuhnya lebih sensitif. Biopsi kulit menunjukkan bahwa kelenjar keringat hampir sepenuhnya hilang, bahkan di area kulit yang tidak ditato. Artinya, reaksi imun tidak lagi bersifat lokal—tubuh sudah terlibat sepenuhnya.
'Harga mahal' dari reaksi langka

Setelah bertahun-tahun menjalani pemeriksaan dan pengobatan, solusi yang tersisa terbilang ekstrem, yaitu operasi pengangkatan seluruh kulit bertato merah. Perlahan, kondisi kulitnya membaik. Rambut tumbuh kembali, dan vitiligo berhenti menyebar setelah ia juga menerima obat imunosupresan.
Namun, tidak semua kerusakan bisa dipulihkan. Hingga kini, kemampuan berkeringatnya belum kembali. Risiko heat stroke menghantui kesehariannya. Ia harus membawa botol semprot air untuk mendinginkan tubuh dan tidak lagi bisa bekerja atau berolahraga seperti sebelumnya.
Kasus seperti ini memang jarang. Survei menunjukkan sekitar 6 persen orang mengalami reaksi sistemik atau masalah kesehatan menetap setelah bertato, sementara hingga 67 persen melaporkan reaksi kulit dengan tingkat keparahan berbeda. Uni Eropa telah memperketat regulasi tinta tato sejak 2022, tetapi banyak negara lain belum memiliki aturan serupa.
Bagi dunia medis, donasi jaringan dan laporan kasus seperti ini membuka jalan untuk memahami bagaimana pigmen tato berinteraksi dengan sistem imun manusia. Bagi publik, laporan kasus ini bisa menjadi pertimbangan untuk keputusan kesehatan, terutama jika hidup dengan penyakit autoimun.
Referensi


















