Jun Zeng et al., “Enzyme-converted O Kidneys Allow ABO-incompatible Transplantation Without Hyperacute Rejection in a Human Decedent Model,” Nature Biomedical Engineering, October 3, 2025, https://doi.org/10.1038/s41551-025-01513-6.
"Breakthrough: Scientists Created a 'Universal' Kidney To Match Any Blood Type." ScienceAlert. Diakses Februari 2026.
Terobosan Medis: Ginjal 'Universal' untuk Semua Golongan Darah

- Ilmuwan berhasil mengubah ginjal golongan darah A menjadi O menggunakan enzim, sehingga berpotensi cocok untuk hampir semua penerima.
- Ginjal “universal” ini berfungsi baik selama dua hari setelah transplantasi pada manusia sebelum tanda penolakan muncul.
- Jika dikembangkan lebih lanjut, metode ini bisa memperpendek waktu tunggu transplantasi, terutama bagi pasien bergolongan darah O.
Transplantasi ginjal telah menjadi terapi penyelamat nyawa bagi pasien penyakit ginjal sejak tahun 1950-an. Namun, hingga kini, prosedur ini masih sangat bergantung pada kecocokan golongan darah antara donor dan penerima. Ketidaksesuaian sedikit saja dapat memicu reaksi imun yang berujung pada penolakan organ.
Manusia memiliki empat golongan darah utama—A, B, AB, dan O—yang dibedakan oleh keberadaan antigen tertentu pada permukaan sel. Antigen inilah yang dapat “dibaca” sistem imun sebagai ancaman. Golongan darah O tidak memiliki antigen A maupun B, sehingga dianggap sebagai donor universal, tetapi justru penerima dengan golongan darah O hanya bisa menerima organ dari sesama O.
Konsekuensinya sangat besar. Pasien bergolongan darah O mencakup lebih dari 50 persen daftar tunggu transplantasi, dan rata-rata harus menunggu 2–4 tahun lebih lama dibanding golongan darah lain. Hambatan ini membuat ribuan pasien kehabisan waktu sebelum organ yang cocok tersedia.
Bagaimana mengubah ginjal menjadi universal?
Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Biomedical Engineering, tim peneliti dari UVA Health dan Mount Sinai melaporkan sebuah terobosan: mengonversi ginjal donor bergolongan darah A menjadi golongan darah O. Proses ini dilakukan menggunakan enzim, yaitu protein yang memicu reaksi kimia, untuk menghilangkan antigen A dari jaringan ginjal.
Teknik ini dikenal sebagai enzyme-converted O (ECO). Ginjal direndam dan dialiri cairan khusus (perfusion fluid) yang mengandung enzim selama sekitar 2 jam. Metode perfusi ini bukan hal baru dalam dunia transplantasi; perangkat serupa sudah lama digunakan untuk menjaga organ tetap layak sebelum ditanamkan.
Untuk menguji apakah ginjal ECO dapat berfungsi di tubuh manusia, para peneliti melakukan transplantasi pada seorang penerima dengan kondisi mati otak, dengan persetujuan keluarga. Menariknya, penerima ini memiliki kadar antibodi anti-A yang tinggi, kondisi yang biasanya berisiko tinggi menyebabkan penolakan cepat. Namun, selama 2 hari pertama, ginjal bekerja dengan baik tanpa tanda penolakan. Reaksi imun baru muncul pada hari ketiga, seiring munculnya kembali antigen A pada ginjal.
Harapan baru, tapi masih perlu waktu

Temuan ini menunjukkan bahwa ginjal dapat “disamarkan” sementara dari sistem imun penerima. Meski efeknya belum permanen, tetapi pendekatan ini berpotensi menunda atau mengurangi reaksi penolakan awal, terutama jika dikombinasikan dengan terapi imunosupresif standar yang biasa digunakan dalam praktik klinis.
Para peneliti menekankan bahwa teknologi ini masih berada pada tahap awal. Namun, dampak potensialnya sangat besar. Jika organ dari berbagai golongan darah dapat dikonversi menjadi “universal”, akses terhadap donor ginjal bisa meningkat drastis dan kesenjangan waktu tunggu antar golongan darah dapat dipersempit.
Seperti banyak inovasi medis besar lainnya, perjalanan dari laboratorium ke praktik klinis masih panjang. Tetapi studi ini menandai langkah penting menuju masa depan di mana golongan darah bukan lagi penghalang utama bagi seseorang untuk mendapatkan transplantasi ginjal yang menyelamatkan hidup.
Referensi


















