Ada beberapa penjelasan secara epidemiologis, tetapi SKI tidak dapat memastikan penyebab pada setiap individu.
1. Dilahirkan sebelum imunisasi bayi diterapkan secara nasional
Peserta yang berusia 35–64 tahun pada 2023 diperkirakan lahir antara tahun 1959 dan 1988. Mereka lahir sebelum Indonesia mengadopsi program vaksinasi hepatitis B universal untuk bayi pada tahun 1997.
Sebuah penelitian mencatat bahwa sebelum program tersebut diterapkan, prevalensi HBsAg pada populasi umum diperkirakan sekitar 5–10 persen. Penelitian terhadap 967 anak yang dilakukan 15 tahun setelah program dimulai juga menunjukkan bahwa cakupan tiga dosis sudah relatif tinggi di lima wilayah penelitian, tetapi cakupan vaksin dosis lahir masih kurang dari 50 persen.
Kesenjangan antargenerasi dalam SKI konsisten dengan manfaat pencegahan sejak bayi. Namun, akses layanan, tempat lahir, riwayat penularan dalam keluarga, dan paparan darah juga dapat berkontribusi.
2. Infeksi mungkin sudah terjadi sejak bayi
Usia saat seseorang tertular menentukan kemungkinan virus menetap.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi yang didapat saat dewasa berkembang menjadi hepatitis B kronis pada kurang dari 5 persen kasus. Sebaliknya, infeksi pada bayi dan anak usia dini menjadi kronis pada sekitar 95 persen kasus.
Pada orang dewasa, mereka melum tentu baru tertular. Virus mungkin masuk ke dalam tubuh saat persalinan atau masa kanak-kanak, kemudian bertahan selama puluhan tahun.
3. Peluang paparan bertambah seiring waktu
Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh tertentu, termasuk dari ibu kepada bayi saat persalinan, hubungan seksual, penggunaan jarum yang terkontaminasi, alat medis yang tidak steril, serta prosedur tato atau tindik yang tidak aman.
Makin panjang usia seseorang, makin panjang pula periode ketika berbagai paparan dapat terjadi. Namun, pola usia dalam SKI tetap tidak dapat digunakan untuk menentukan cara penularan pada peserta.