Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usia 35–64 Paling Banyak Terindikasi Hepatitis B di Indonesia
ilustrasi hepatitis B (IDN Times/NRF)
  • SKI 2023 mencatat proporsi HBsAg reaktif tertinggi, 3,6 persen, pada usia 35–64 tahun; prevalensi nasional mencapai 2,4 persen dan lebih rendah pada kelompok usia muda.
  • Hasil HBsAg reaktif menandakan kemungkinan infeksi saat pemeriksaan, bukan otomatis hepatitis B kronis; statusnya perlu dikonfirmasi melalui pemantauan minimal enam bulan dan tes lanjutan.
  • Kelompok usia lebih tua lahir sebelum vaksinasi bayi universal 1997 dan mungkin terinfeksi sejak dini; tes darah serta evaluasi lanjutan penting, sementara vaksin mencegah infeksi baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hepatitis B adalah penyakit infeksi organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Penyakit ini dapat berwujud sebagai kondisi akut atau kronis.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat proporsi HBsAg reaktif tertinggi pada kelompok usia 35–64 tahun, masing-masing sebesar 3,6 persen pada usia 35–44, 45–54, dan 55–64 tahun. Angka ini setara dengan sekitar 1 dari 28 orang pada setiap kelompok usia tersebut.

Proporsinya lebih rendah pada kelompok usia yang lebih muda, yaitu 0,1 persen pada anak usia 0–4 tahun, 0,8 persen pada usia 5–14 tahun, 1,4 persen pada usia 15–24 tahun, dan 2,1 persen pada usia 25–34 tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa HBsAg reaktif lebih banyak ditemukan pada orang dewasa.

HBsAg reaktif belum tentu hepatitis B kronis

HBsAg atau hepatitis B surface antigen adalah protein pada permukaan virus hepatitis B. Ketika penanda ini terdeteksi dalam darah, seseorang kemungkinan sedang mengalami infeksi hepatitis B.

Dalam SKI 2023, hasil disebut reaktif apabila konsentrasi HBsAg mencapai atau melebihi 0,05 IU/mL. Pemeriksaan biomedis ini dirancang untuk menghasilkan estimasi tingkat nasional.

Satu kali hasil HBsAg reaktif belum dapat menentukan apakah infeksinya akut atau kronis. Infeksi kronis umumnya ditetapkan apabila HBsAg tetap terdeteksi selama sedikitnya 6 bulan atau melalui kombinasi riwayat dan pemeriksaan lanjutan.

Angka 3,6 persen lebih tepat disebut proporsi HBsAg reaktif atau indikasi adanya infeksi saat pemeriksaan, bukan persentase hepatitis B kronis yang sudah terkonfirmasi.

Mengapa angkanya lebih tinggi pada generasi yang lebih tua?

Ada beberapa penjelasan secara epidemiologis, tetapi SKI tidak dapat memastikan penyebab pada setiap individu.

1. Dilahirkan sebelum imunisasi bayi diterapkan secara nasional

Peserta yang berusia 35–64 tahun pada 2023 diperkirakan lahir antara tahun 1959 dan 1988. Mereka lahir sebelum Indonesia mengadopsi program vaksinasi hepatitis B universal untuk bayi pada tahun 1997.

Sebuah penelitian mencatat bahwa sebelum program tersebut diterapkan, prevalensi HBsAg pada populasi umum diperkirakan sekitar 5–10 persen. Penelitian terhadap 967 anak yang dilakukan 15 tahun setelah program dimulai juga menunjukkan bahwa cakupan tiga dosis sudah relatif tinggi di lima wilayah penelitian, tetapi cakupan vaksin dosis lahir masih kurang dari 50 persen.

Kesenjangan antargenerasi dalam SKI konsisten dengan manfaat pencegahan sejak bayi. Namun, akses layanan, tempat lahir, riwayat penularan dalam keluarga, dan paparan darah juga dapat berkontribusi.

2. Infeksi mungkin sudah terjadi sejak bayi

Usia saat seseorang tertular menentukan kemungkinan virus menetap.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi yang didapat saat dewasa berkembang menjadi hepatitis B kronis pada kurang dari 5 persen kasus. Sebaliknya, infeksi pada bayi dan anak usia dini menjadi kronis pada sekitar 95 persen kasus.

Pada orang dewasa, mereka melum tentu baru tertular. Virus mungkin masuk ke dalam tubuh saat persalinan atau masa kanak-kanak, kemudian bertahan selama puluhan tahun.

3. Peluang paparan bertambah seiring waktu

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh tertentu, termasuk dari ibu kepada bayi saat persalinan, hubungan seksual, penggunaan jarum yang terkontaminasi, alat medis yang tidak steril, serta prosedur tato atau tindik yang tidak aman.

Makin panjang usia seseorang, makin panjang pula periode ketika berbagai paparan dapat terjadi. Namun, pola usia dalam SKI tetap tidak dapat digunakan untuk menentukan cara penularan pada peserta.

Mengapa tubuh bisa terasa sehat selama puluhan tahun?

ilustrasi organ hati atau liver yang diserang oleh virus hepatitis B (unsplash.com/julien Tromeur)

Sebagian besar orang tidak bergejala ketika baru terinfeksi hepatitis B. Kalaupun muncul, gejalanya dapat berupa kelelahan, mual, muntah, nyeri perut, urine gelap, serta kulit atau mata menguning.

Pada infeksi kronis, virus dapat bertahan tanpa keluhan yang jelas. Kerusakan hati juga tidak selalu menimbulkan rasa sakit pada tahap awal.

Sebuah penelitian di Senegal terhadap 1.206 orang tanpa gejala yang baru didiagnosis hepatitis B menemukan bahwa 12,3 persen sudah mengalami fibrosis hati yang signifikan. Sebanyak 31,3 persen memiliki HBV DNA di atas 2.000 IU/mL, sedangkan sekitar 12,9 persen memenuhi kriteria pengobatan berdasarkan pedoman yang digunakan peneliti.

Temuan itu menunjukkan bahwa tidak adanya gejala tidak cukup untuk menilai apakah virus sedang aktif atau hati sudah mengalami jaringan parut.

Siapa yang perlu menjalani tes meski tidak bergejala?

SKI 2023 menemukan prevalensi HBsAg reaktif nasional sebesar 2,4 persen. WHO merekomendasikan agar semua orang dewasa memiliki akses dan ditawari pemeriksaan HBsAg di wilayah yang prevalensi HBsAg populasi umumnya melebihi 2 persen.

Pemeriksaan hepatitis B makin penting pada:

  • Ibu hamil.

  • Orang yang memiliki pasangan atau anggota keluarga serumah dengan hepatitis B.

  • Orang yang memiliki enzim hati tinggi atau penyakit hati.

  • Orang yang hidup dengan HIV atau pernah mengalami hepatitis C.

  • Pasien yang menjalani dialisis.

  • Pernah berbagi jarum atau mengalami paparan darah.

  • Bekerja dengan risiko kontak darah.

  • Tidak mengetahui riwayat vaksinasi maupun status hepatitis B.

Para ahli merekomendasikan pemeriksaan tiga penanda atau triple panel bagi orang dewasa, yaitu: HBsAg, anti-HBs, dan total anti-HBc.

Ketiganya membantu membedakan infeksi yang sedang berlangsung, kekebalan karena vaksinasi, infeksi lama yang telah pulih, dan kondisi rentan terhadap infeksi.

Tenaga kesehatan dapat menentukan tes yang sesuai berdasarkan ketersediaan, kondisi, dan riwayat pasien.

Hasil HBsAg reaktif, lalu harus bagaimana?

ilustrasi konsultasi dokter (pexels.com/Karolina Grabowska)

Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan status infeksi dan mengetahui kondisi hati.

Evaluasi dapat meliputi:

  • Pemeriksaan HBsAg ulang atau konfirmasi, terutama jika hasil tidak sesuai dengan riwayat klinis.

  • HBV DNA, untuk mengukur jumlah materi genetik virus dalam darah.

  • ALT dan AST, guna menilai tanda peradangan hati.

  • Elastografi atau pemeriksaan fibrosis, untuk mengetahui apakah jaringan parut sudah terbentuk.

  • Tes hepatitis D, karena virus hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang memiliki hepatitis B.

Pedoman WHO 2024 memperluas dan menyederhanakan kriteria pengobatan serta menekankan pemeriksaan HBV DNA, penilaian penyakit hati, dan deteksi koinfeksi hepatitis D.

Tidak semua orang dengan hepatitis B kronis langsung memerlukan obat. Mereka yang belum memenuhi kriteria pengobatan tetap butuh pemantauan karena aktivitas virus dan kondisi hati dapat berubah.

Apakah orang dewasa masih bisa menerima vaksin hepatitis B?

Usia dewasa bukan penghalang untuk menerima vaksin hepatitis B. Vaksin diberikan kepada orang yang belum terinfeksi dan belum mempunyai perlindungan.

WHO mencantumkan jadwal tiga dosis pada bulan ke-0, 1, dan 6 bagi individu yang belum pernah divaksinasi, meskipun jadwal dapat disesuaikan dengan produk dan ketentuan program setempat.

Kelompok yang perlu diprioritaskan antara lain pasangan dan anggota keluarga orang dengan hepatitis B, tenaga kesehatan yang terpapar darah, pasien dialisis, orang dengan HIV atau penyakit hati kronis, serta orang dengan risiko paparan berkelanjutan.

Vaksin berfungsi mencegah infeksi baru. Vaksin tidak dapat mengobati infeksi yang sudah ditandai dengan HBsAg reaktif. Karena itu, pemeriksaan status hepatitis B membantu menentukan apakah kamu perlu vaksinasi atau evaluasi medis lebih lanjut.

Orang sehat yang telah menyelesaikan rangkaian vaksin umumnya tidak memerlukan dosis booster rutin. Perlindungan dapat bertahan setidaknya 20 tahun dan kemungkinan seumur hidup.

Data SKI 2023 menunjukkan proporsi HBsAg reaktif tertinggi pada penduduk usia 35–64 tahun, yaitu 3,6 persen.

Sebagian orang mungkin tertular saat lahir atau masa kanak-kanak, terutama karena kelompok tersebut lahir sebelum vaksinasi hepatitis B bayi diberlakukan secara nasional. Virus kemudian dapat menetap tanpa gejala selama puluhan tahun.

Tes darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui status hepatitis B. Hasil reaktif butuh pemeriksaan lanjutan, sedangkan orang dewasa yang belum terinfeksi dan belum terlindungi masih dapat menerima vaksin.

Referensi

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka", 185–190, khususnya 189 (PDF).

World Health Organization, “Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Priyo Budi Purwono et al., “Hepatitis B Virus Infection in Indonesia 15 Years after Adoption of a Universal Infant Vaccination Program: Possible Impacts of Low Birth Dose Coverage and a Vaccine-Escape Mutant,” American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 95, no. 3 (2016): 674–679, https://doi.org/10.4269/ajtmh.15-0121.

Adrià Ramírez Mena et al., “Liver Disease and Treatment Needs of Asymptomatic Persons Living with Hepatitis B in Senegal,” Open Forum Infectious Diseases 9, no. 11 (2022): ofac558, https://doi.org/10.1093/ofid/ofac558.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Testing and Diagnosis for Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

World Health Organization, "Guidelines for the Prevention, Diagnosis, Care and Treatment for People with Chronic Hepatitis B Infection," diakses Juli 2026.

World Health Organization, “Recommended Routine Immunizations for Children,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article