Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Waspada Post Holiday Blues Hari Pertama Ngantor, Ini Saran Dokter

Seorang pekerja mengalami post holiday blues.
ilustrasi post holiday blues (pexels.com/ Gustavo Fring)
Intinya sih...
  • Post holiday blues adalah kondisi emosional sementara setelah libur panjang, ditandai dengan turunnya semangat kerja, sulit berkonsentrasi, dan kelelahan emosional.
  • Secara umum, post holiday blues tidak berbahaya dan biasanya mereda dengan sendirinya. Namun, perlu diwaspadai jika berlangsung lebih dari satu hingga dua minggu.
  • Pada hari pertama ngantor, hindari 'gas penuh' dengan fokus pada orientasi ulang dan tugas ringan. Atur kembali ritme tidur secara bertahap dan jaga kebutuhan dasar tubuh.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hari pertama kembali bekerja setelah libur panjang sering terasa paling berat. Rasa malas muncul, fokus sulit dijaga, tubuh cepat lelah, dan suasana hati ikut menurun. Kondisi ini kerap dianggap sekadar kurang motivasi, padahal dikenal sebagai post holiday blues.

Praktisi kedokteran kerja Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, menjelaskan post holiday blues merupakan respons adaptif tubuh dan otak terhadap perubahan ritme yang terjadi terlalu cepat. Selama libur panjang, ritme biologis melambat, jam tidur bergeser, dan tekanan mental menurun karena tubuh berada dalam mode pemulihan. Saat rutinitas kerja kembali dimulai secara mendadak, otak mengalami kejutan adaptasi yang memicu berbagai keluhan tersebut.

1. Apa itu post holiday blues?

Post holiday blues, dijelaskan oleh Dr. Ray, adalah kondisi emosional sementara yang muncul pada hari pertama hingga beberapa hari setelah libur panjang.

Gejalanya meliputi turunnya semangat kerja, sulit berkonsentrasi, rasa murung atau datar, kelelahan emosional, dan enggan memulai aktivitas kerja. Kondisi ini paling sering dialami pekerja perkantoran dengan jam kerja 9 to 5. Ia menegaskan perubahan ritme yang mendadak memicu rasa berat pada hari masuk kerja.

Setelah liburan berakhir, hormon pemicu rasa senang seperti dopamin dan serotonin menurun, sementara hormon stres seperti kortisol meningkat. Karena itu, kondisi ini bukan soal malas atau tidak profesional.

"Jadi ini bukan soal malas atau tidak profesional. Ini soal tubuh dan otak yang belum sepenuhnya sinkron dengan ritme kerja. Kondisi ini bersifat ringan hingga sedang dan umumnya membaik dalam beberapa hari," ungkapnya kepada IDN Times dalam keterangan tertulis (5/1/2025).

2. Apakah post holiday blues berbahaya?

 Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK.
Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK (dok. Ray Wagiu Basrowi)

Secara umum, post holiday blues tidak berbahaya dan biasanya mereda dengan sendirinya. Kondisi ini perlu diwaspadai jika berlangsung lebih dari satu hingga dua minggu atau disertai gangguan tidur berat, kecemasan berlebihan, dan penurunan fungsi kerja yang nyata.

Dr. Ray mengingatkan, jika fase ini diabaikan dan kamu dipaksa langsung bekerja penuh tanpa masa transisi, risiko stres kerja dan burnout dini justru bisa meningkat.

"Jadi, kalau fase memanjang ini diabaikan dan pekerja langsung dipaksa bekerja penuh tanpa transisi, risiko stres kerja dan burnout dini justru bisa meningkat," kata Dr. Ray yang sering memberi edukasi lewat akun instagram @ray.w.basrowi ini.

3. Apa yang bisa dilakukan pada hari pertama ngantor?

Menurut Dr. Ray, pencegahan post holiday blues tidak membutuhkan pendekatan ekstrem. Justru langkah-langkah sederhana dan realistis lebih efektif. Dia menyarankan melakukan sejumlah hal kecil, seperti:

  • Tidak langsung ‘gas penuh’ pada hari pertama masuk kerja, fokus terlebih dahulu pada orientasi ulang dan tugas ringan atau yang pending selama liburan.
  • Mengatur ulang ritme tidur secara bertahap, bukan mendadak.
  • Mengelola energi, bukan sekadar jam kerja, dengan memberi jeda singkat saat mulai lelah. Selipkan waktu di antara jam kerja untuk menghirup udara luar, minum kopi di selama 5-10 menit, baru lanjut kerja lagi.
  • Menjaga kebutuhan dasar tubuh, seperti makan cukup, hidrasi, dan membatasi kafein berlebihan.

"Hari pertama kerja sebaiknya diperlakukan sebagai hari transisi, bukan hari pembuktian. Produktivitas yang sehat itu bertahap dan berkelanjutan. Harus diingat, bekerja itu maraton, bukan sprint. Cara kita memulai setelah libur sering kali menentukan bagaimana minggu-minggu berikutnya akan dijalani,” pungkas Dr. Ray.

Post holiday blues adalah respons tubuh yang wajar, bukan tanda kamu lemah atau tidak siap bekerja. Dengan transisi yang lebih halus dan perhatian pada ritme tubuh, kondisi ini biasanya membaik dalam waktu singkat. Dengarkan sinyal tubuhmu sebelum memaksakan diri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Apakah Plank Aman untuk Orang dengan Skoliosis?

06 Jan 2026, 23:09 WIBHealth