Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
YKI: Paparan Serat Asbes yang Terhirup Berisiko Sebabkan Kanker Paru
ilustrasi asbes sebagai atap rumah (flickr.com/RecycleforShropshire)
  • YKI menegaskan kanker paru masih menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi; GLOBOCAN 2022 mencatat Indonesia memiliki sekitar 408.661 kasus baru dan 242.988 kematian per tahun.
  • Merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru, disusul paparan asbestos, asap rokok, radon, polusi udara, serta zat karsinogen di lingkungan kerja.
  • Risiko asbes meningkat saat serat terlepas dan terhirup, terutama dari material rusak atau dibongkar; YKI meminta penanganan dan pembuangan dilakukan sesuai prosedur keselamatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah meningkatnya perhatian publik mengenai penggunaan atap asbes sebagai material bangunan, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) memandang perlu memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat memahami faktor risiko kanker paru secara tepat.

Hal ini juga bertepatan dengan Hari Kanker Paru Sedunia yang tahun ini mengusung semangat "Bersama Melawan Kanker Paru". Masyarakat diajak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker paru melalui informasi kesehatan yang akurat, berimbang, dan berbasis bukti ilmiah.

Kanker paru penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan bahwa Hari Kanker Paru Sedunia merupakan momentum untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat.

"Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang didasarkan pada bukti ilmiah," kata Prof. Aru dalam keterangan tertulis.

Berdasarkan GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian setiap tahun, setara dengan 1.120 kasus baru dan 665 kematian setiap hari.

Merokok tetap merupakan faktor risiko utama kanker paru. Faktor risiko lain yang telah terbukti secara ilmiah meliputi paparan asbestos, asap rokok, gas radon, polusi udara, serta berbagai zat karsinogen di lingkungan kerja.

Paparan serat asbes tingkatkan risiko kanker

ilustrasi tanda peringatan asbes (pixabay.com/thebeebesknees)

Menjawab pertanyaan yang berkembang di masyarakat mengenai apakah atap asbes menyebabkan kanker paru, YKI menegaskan bahwa ilmu pengetahuan membedakan antara keberadaan material yang mengandung asbestos dengan paparan serat asbestos yang terhirup.

Material yang mengandung asbestos dalam kondisi utuh memiliki potensi pelepasan serat lebih rendah dibanding material yang rusak, lapuk, dipotong, dibor, dipecahkan, atau dibongkar.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada tingkat paparan asbestos yang benar-benar aman. Ketika seratnya yang berukuran mikroskopik terlepas ke udara dan terhirup, paparan tersebut telah terbukti meningkatkan risiko kanker paru dan penyakit terkait asbestos lainnya.

National Cancer Institute (NCI) menyebut bahwa serat asbestos yang terhirup dapat menetap di jaringan paru selama bertahun-tahun sehingga memicu inflamasi kronis dan meningkatkan risiko kanker paru maupun mesotelioma.

Pelepasan asbes harus sesuai prosedur

Prof. Aru menjelaskan bahwa seluruh jenis asbestos telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia (karsinogen group 1) oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).

“Yang penting dipahami masyarakat adalah bahwa risiko kesehatan berkaitan dengan paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan terhirup, terutama ketika material yang mengandung asbestos mengalami kerusakan, dipotong, dibor atau dibongkar. Karena itu, komunikasi kesehatan harus selalu disampaikan secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu,” jelas Prof. Aru.

YKI mengimbau masyarakat yang masih menggunakan material asbes agar tidak melakukan pembongkaran, pemotongan, pengeboran, atau penghancuran secara sembarangan karena kegiatan tersebut berpotensi melepaskan serat asbestos ke udara.

Apabila material telah rusak atau perlu diganti, proses pelepasan dan pembuangannya sebaiknya dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja untuk meminimalkan paparan terhadap penghuni maupun pekerja.

Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai juga sangat dianjurkan bagi pekerja yang harus menangani material yang diduga mengandung asbestos.

Curated For You

Editorial Team

Related Article