ilustrasi berbagai jenis alat kontrasepsi (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)
1. Seks vaginal atau anal tanpa perlindungan
Hubungan seks vaginal atau anal tanpa kondom dapat meningkatkan kemungkinan penularan HIV dan IMS apabila salah satu pasangan memiliki infeksi yang belum diketahui atau belum ditangani.
Di antara berbagai bentuk paparan seksual, seks anal reseptif memiliki risiko penularan HIV paling tinggi apabila pasangan memiliki HIV dengan viral load yang dapat ditularkan dan tidak digunakan kondom maupun pre-exposure prophylaxis (PrEP).
Lapisan rektum relatif tipis sehingga lebih mudah mengalami luka kecil yang menjadi jalan masuk virus.
Seks vaginal juga dapat menularkan HIV kepada kedua pihak.
Risiko kehamilan juga ada dalam hubungan seksual vaginal jika tidak digunakan kontrasepsi yang efektif.
2. Menggunakan kondom secara tidak konsisten atau tidak tepat
Kondom perlu digunakan sejak awal hingga akhir aktivitas seksual, bukan cuma menjelang ejakulasi. Kondom yang terlambat dipasang, dilepas sebelum aktivitas seksual selesai, digunakan kembali, atau robek dapat mengurangi perlindungannya.
Ketika digunakan dengan benar dan konsisten, kondom merupakan salah satu cara paling efektif untuk menurunkan risiko sebagian besar IMS, termasuk HIV, sekaligus membantu mencegah kehamilan. Namun, kondom tidak memberikan perlindungan penuh terhadap infeksi yang dapat menular melalui kulit di luar area yang tertutup, seperti herpes atau sifilis.
3. Gonta-ganti atau memiliki beberapa pasangan tanpa tes dan perlindungan
Memiliki pasangan baru, lebih dari satu pasangan, atau pasangan yang juga berhubungan seksual dengan orang lain dapat menambah risiko IMS. Risiko makin besar ketika status kesehatan tidak diketahui dan kondom tidak konsisten digunakan.
Namun, jumlah pasangan bukan ukuran moral dan tidak berdiri sendiri untuk menentukan risiko. Seseorang dengan satu pasangan tetap dapat tertular apabila pasangannya memiliki infeksi. Sebaliknya, seseorang dengan beberapa pasangan dapat mengurangi risiko melalui pemakaian kondom, pemeriksaan rutin, vaksinasi, komunikasi, dan PrEP sesuai kebutuhan.
Pedoman skrining pun mempertimbangkan gabungan antara jumlah pasangan, pasangan baru, penggunaan kondom, jenis aktivitas, serta kondisi epidemiologi setempat.
4. Menganggap seks oral bebas risiko
Risiko HIV dari seks oral lebih rendah dibanding seks anal atau vaginal. Akan tetapi, seks oral tetap bisa menularkan gonore, klamidia, sifilis, herpes, HPV, hepatitis, dan sejumlah infeksi saluran cerna.
Infeksi dapat terjadi pada mulut atau tenggorokan maupun berpindah dari infeksi di mulut ke alat kelamin. Karena infeksi tenggorokan sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan urine atau genital saja mungkin tidak menemukannya. Orang yang melakukan seks oral dapat berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan tes usap tenggorokan.
Kondom atau dental dam dapat digunakan sebagai penghalang selama seks oral untuk menurunkan risiko penularan.
5. Seks tanpa kontrasepsi ketika kehamilan tidak diinginkan
Pil KB, implan, suntikan, dan alat kontrasepsi dalam rahim dapat membantu mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari IMS. Kondom adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang juga dapat mengurangi risiko sebagian besar IMS.
Jika ingin mencegah kehamilan sekaligus IMS, pertimbangkan perlindungan ganda, yaitu kondom bersama metode kontrasepsi lain yang sesuai.
6. Berhubungan seksual saat di bawah pengaruh alkohol atau narkoba
Alkohol dan zat lain dapat menurunkan kemampuan menilai situasi, mengingat penggunaan kondom, membicarakan batasan, atau memberikan persetujuan yang jelas.
Tinjauan sistematis terhadap penelitian longitudinal dan studi kasus kontrol menemukan hubungan antara konsumsi alkohol dan kejadian IMS dalam sejumlah populasi. Meski dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak berarti setiap orang yang minum alkohol akan berhubungan seks tanpa perlindungan, tetapi kondisi mabuk dapat menciptakan situasi yang lebih sulit dikendalikan.
Persetujuan tidak sah apabila seseorang tidak sadar atau terlalu terpengaruh zat untuk memahami dan menyetujui apa yang terjadi.
7. Menunda tes dan pengobatan setelah kemungkinan paparan
Banyak IMS tidak menimbulkan gejala. Kamu bisa saja merasa sehat, tetapi tetap memiliki dan menularkan klamidia, gonore, sifilis, HPV, atau HIV.
Menunda pemeriksaan setelah kondom robek, pasangan didiagnosis IMS, atau terjadi paparan lain memungkinkan infeksi berkembang dan menyebar.
IMS yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul, infertilitas, komplikasi kehamilan, kanker akibat HPV, serta meningkatnya kerentanan terhadap HIV.