ilustrasi kerja tim (pexels.com/Ofspace LLC, Culture)
Lalu, apa yang sebenarnya membuat karyawan merasa terikat dengan perusahaan? Menurut laporan Marsh, faktor terbesarnya adalah keyakinan terhadap masa depan perusahaan. Setelah itu, ada kesempatan untuk mencapai aspirasi karier jangka panjang, pengakuan atas kinerja yang baik, peluang untuk terus belajar dan berkembang, serta rasa pencapaian dari pekerjaan.
Artinya, karyawan tidak hanya membutuhkan pekerjaan yang bisa dijalani setiap hari, tetapi juga ingin melihat masa depan yang jelas di dalam perusahaan. Mereka perlu merasa bahwa kontribusinya dihargai dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan serta mencapai tujuan kariernya.
Sayangnya, dibandingkan rata-rata Asia Tenggara, karyawan Indonesia masih menunjukkan penilaian yang lebih rendah pada aspek pembelajaran dan kejelasan kerja. Hal ini mencakup keyakinan bahwa perusahaan mau belajar dari kesalahan, kejelasan prioritas pekerjaan, kesempatan mencapai aspirasi karier jangka panjang, hingga transparansi dalam penilaian kinerja.
Di sisi lain, ada hal positif yang patut diapresiasi. Sebanyak 93 persen karyawan Indonesia mengatakan bahwa atasan mereka mampu menjelaskan dampak perubahan perusahaan dengan baik. Selain itu, 83 persen menyebut perusahaan menyediakan sarana untuk membantu mengelola stres dan kesejahteraan karyawan. Kedua angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara, masing-masing sebesar 81 persen dan 71 persen.
Pada akhirnya, rasa nyaman dan keterikatan karyawan terhadap perusahaan gak hanya dibangun dari lingkungan kerja yang positif, namun juga kesempatan untuk berkembang dan merasa dihargai. Karena itu, perusahaan perlu memastikan setiap karyawan punya ruang untuk melihat masa depan kariernya dengan lebih jelas.