Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Kesalahan Menggunakan Mulsa yang Bisa Merusak Tanaman
ilustrasi menanam pohon (pexels.com/alfomedeiros)

Mulsa bisa membantu menjaga kelembapan tanah, melindungi akar, dan menekan pertumbuhan gulma. Namun, penggunaan yang keliru justru dapat membuat tanah terlalu lembap, menghambat sirkulasi udara, atau mengganggu pertumbuhan tanaman.

Karena itu, penting mengetahui cara penggunaan mulsa yang tepat agar manfaatnya tetap optimal. Yuk, simak beberapa kesalahan menggunakan mulsa yang sebaiknya kamu hindari!

1. Mencampurkan mulsa dengan tanah

ilustrasi mengambil tanah menggunakan sekop (pexels.com/greta-hoffman)

Mulsa berbahan kulit kayu sebaiknya tetap berada di permukaan tanah dan gak dicampurkan ke dalamnya. Kompos dapat dicampurkan dengan topsoil untuk meningkatkan kualitas tanah, sedangkan mulsa kulit kayu sebaiknya digunakan di permukaan. Mulsa berbahan kayu yang digunakan sebagai pembenah tanah juga dapat mengurangi nitrogen saat material tersebut terurai.

“Mencampurkan mulsa dengan tanah dapat membuat proses menggali dan mencabut gulma menjadi lebih sulit serta dapat mengubah ketersediaan nutrisi dan struktur tanah,” ujar Greg Baka, pekebun berpengalaman dan pemilik Easy Digging, dikutip dari Better Homes & Gardens.

Untuk kebun sayuran, mulsa berbahan kayu seperti serpihan kulit kayu bukan pilihan yang ideal. Greg Baka menyarankan penggunaan kompos karena dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah. Lapisan mulsa kayu juga dapat membuat proses mencabut gulma menjadi lebih sulit karena material perlu disingkirkan terlebih dahulu.

2. Menggunakan mulsa yang masih segar

ilustrasi menanam pohon (pexels.com/alfomedeiros)

Mulsa yang masih segar dapat membawa biji gulma dan residu herbisida ke dalam kebun. Material seperti potongan semak, kotoran hewan, dan jerami perlu dibiarkan selama beberapa bulan agar residu tersebut dapat tercuci, sementara biji gulma dapat berkecambah lalu mati. Cara lainnya adalah membuat material tersebut menjadi kompos terlebih dahulu sebelum digunakan.

Penggunaan material yang sudah melalui proses tersebut dapat membantu menghindari masalah dari mulsa segar. Biji gulma yang terbawa bersama material dapat tumbuh kembali setelah mulsa ditempatkan di kebun. Karena itu, mulsa sebaiknya sudah melalui proses pengomposan sebelum digunakan jika bahan yang tersedia masih segar.

3. Gak mencabut gulma sebelum memasang mulsa

ilustrasi potongan rumput (pexels.com/nhavan)

Lapisan mulsa dapat membantu menekan gulma kecil dan masih muda, tetapi gak akan menghilangkan gulma yang sudah tua dan tumbuh kuat. Gulma yang sudah besar dan jumlahnya banyak sebaiknya disingkirkan sebelum mulsa ditambahkan ke kebun. Jika tidak, gulma dapat tumbuh kembali atau terus menyebar di bawah lapisan mulsa.

Karena itu, bersihkan area kebun terlebih dahulu sebelum memberikan mulsa. Gulma yang sudah ada perlu dicabut sebelum permukaan tanah ditutup. Dengan begitu, mulsa digunakan untuk membantu menekan pertumbuhan gulma baru, bukan sekadar menutupi gulma yang sudah tumbuh.

4. Menggunakan terlalu banyak mulsa

ilustrasi menyekop tanah (pexels.com/fotiosphotos)

Lapisan mulsa yang terlalu tebal dapat menghambat akar mendapatkan udara dan air yang dibutuhkan. Mulsa yang terlalu dalam juga dapat menjadi tempat berkembangnya jamur dan membentuk lapisan yang membuat air sulit mencapai tanah. Karena itu, hindari menumpuk mulsa secara berlebihan di permukaan tanah.

Sebelum menambahkan lapisan baru, periksa terlebih dahulu kondisi mulsa yang sudah ada. Mulsa lama yang masih menumpuk dapat membuat lapisan keseluruhan menjadi terlalu tebal. Penambahan mulsa sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan material yang sudah berada di permukaan tanah.

5. Menumpuk mulsa hingga menyentuh batang pohon

ilustrasi menanam pohon (pexels.com/alfomedeiros)

Memberikan mulsa di sekitar pohon memang bermanfaat, tetapi material tersebut sebaiknya gak ditumpuk hingga menempel pada batang. Kondisi tersebut dapat membuat pangkal akar terlalu lembap dan menyebabkan pembusukan. Tumpukan mulsa yang menempel pada batang juga dapat menarik serangga yang membuat lubang dan melemahkan batang.

“Hal itu dapat membuat pangkal akar terlalu lembap sehingga menyebabkan pembusukan,” ujar Jeff Gibson, manajer lanskap di Ball Horticultural Company, dikutip dari Better Homes & Gardens.

Karena itu, selalu sisakan jarak antara mulsa dan batang pohon. Hal yang sama berlaku ketika memberikan mulsa di sekitar semak dan tanaman tahunan. Mulsa sebaiknya hanya berada di sekitar tanaman tanpa menempel langsung pada bagian pangkalnya.

6. Menggunakan jenis mulsa yang gak sesuai dengan tanaman

ilustrasi menggemburkan tanah (pexels.com/thirdman)

Gak semua tanaman membutuhkan jenis mulsa yang sama. Tanaman yang berasal dari lingkungan kering dapat kesulitan tumbuh di tanah yang terlalu basah, terutama jika mulsa organik membuat kondisi tanah tetap lembap. Tanaman seperti lavender, rosemary, sedum, dan sukulen termasuk yang sebaiknya gak diberi mulsa organik di sekitarnya.

Untuk tanaman seperti salvia dan tanaman padang rumput asli, penggunaan mulsa juga sebaiknya tipis. Bahkan, mulsa gak diperlukan jika tanaman tersebut sudah tumbuh rapat. Jadi, jenis tanaman perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis dan jumlah mulsa yang digunakan.

7. Menggunakan mulsa yang diberi pewarna

ilustrasi menanam tanaman di pot (pexels.com/cottonbro)

Saat memilih mulsa dalam kemasan, perhatikan labelnya dengan teliti. Beberapa jenis mulsa menggunakan pewarna alami, sedangkan jenis lainnya dapat menggunakan pewarna semprot yang mengandung racun yang berbahaya bagi hewan peliharaan dan anak-anak. Zat tersebut juga dapat meresap ke dalam tanah dan membahayakan mikroorganisme yang bermanfaat.

Sebagai alternatif, Jeff Gibson merekomendasikan mulsa dari daun yang sudah dikomposkan. Material tersebut memiliki tampilan alami sekaligus dapat membantu memperkaya tanah di area kebun. Serasah daun juga dapat menjadi habitat bagi kupu-kupu dan serangga bermanfaat lainnya.

Penggunaan mulsa yang tepat bisa membantu tanaman tumbuh lebih sehat tanpa menimbulkan masalah baru pada tanah. Jadi, pastikan kamu menghindari kesalahan di atas agar mulsa tetap memberikan manfaat maksimal bagi tanaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article