Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Virginia Woolf, Pelopor Sastra Modern dari Abad ke-20

Mengenal Virginia Woolf, Pelopor Sastra Modern dari Abad ke-20
Virginia Woolf (newsbytesapp.com/flickr)
Intinya Sih
  • Virginia Woolf, penulis asal Inggris, dikenal sebagai pelopor sastra modernisme dengan gaya aliran kesadaran yang menggambarkan pikiran dan perasaan karakter secara mendalam.
  • Kehidupan Woolf dipenuhi tantangan pribadi, termasuk kehilangan keluarga dan gangguan mental, namun ia tetap produktif menulis serta mendirikan penerbit independen Hogarth Press bersama suaminya.
  • Melalui karya seperti Mrs. Dalloway dan To The Lighthouse, Woolf merevolusi narasi sastra dengan teknik stream of consciousness yang menginspirasi banyak penulis modern setelahnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Virginia Woolf adalah seorang penulis asal Inggris dan merupakan salah satu tokoh utama sastra modernisme. Ia dikenal dengan gaya penulisannya yang inovatif, terutama teknik aliran kesadaran (stream of consciousness) yang bisa menggambarkan pikiran dan perasaan karakter secara mendalam.

Beberapa karya Virginia Woolf yang dikenal hingga sekarang adalah Mrs. Dalloway (1925) dan To The Lighthouse (1927). Kisah dalam buku-buku tersebut mengeksplorasi waktu, identitas, dan pengalaman batin manusia, di mana hal tersebut masih jarang ditemukan pada karya sastra di masa itu. Agar lebih mengenal sosok Virginia Woolf, berikut adalah profil singkat tentang dirinya.

1. Terlahir dari keluarga intelektual

Virginia Woolf
Virginia Woolf (humanidades.com)

Virginia Woolf lahir di London, Inggris pada tanggal 25 Januari 1882, dengan nama Adeline Virginia Stephen. Ayahnya bernama Sir Leslie Stephen, merupakan seorang tokoh sastra dan penulis terkemuka, serta editor pertama dari Dictionary of National Biography. Sedangkan, ibunya bernama Julia Prinsep Stephen, dikenal punya kecantikan luar biasa dan koneksi sosial yang bagus, terutama di dunia seni. Dirinya sempat menjadi model untuk lukisan beberapa pelukis terkenal di zamannya.

Sejak kecil, Virginia tumbuh bersama tiga saudara kandung dan empat saudara tiri, masing-masing dari hasil pernikahan terdahulu orangtuanya. Hubungan persaudaraan mereka sedikit banyak tertuang dalam tulisan-tulisan di surat kabar keluarga Hyde Park Gate News. Dikutip dari laman Britanica, di usia sembilan tahun, Virginia disebut sebagai sosok jenius di balik surat kabar tersebut. Dari situlah, kemampuan menulis Virginia Woolf mulai tersorot.

2. Gangguan mental yang berulang

Virginia Woolf
Virginia Woolf (humanidades.com)

Keluarga Stephen sempat berpindah dari London ke Talland House di pantai Cornwall yang terjal. Perubahan cuaca dan suasana membuat Virginia harus pintar beradaptasi. Namun saat kehidupannya mulai tertata rapi kembali, dunia seakan runtuh ketika sang ibu meninggal pada tahun 1895 pada usia 49 tahun. Virginia pada umur 13 tahun pun berhenti menulis catatan lucu tentang keluarga.

Hampir setahun berlalu, ia kembali menulis surat ceria untuk saudara laki-lakinya, Thoby. Sayangnya, ia baru saja sembuh dari depresi ketika pada tahun 1897, saudara tirinya Stella Duckworth meninggal di usia 28 tahun. Ini menjadi peristiwa yang dicatat oleh Virginia dalam buku hariannya sebagai "mustahil untuk ditulis". Kemudian pada tahun 1904, setelah ayahnya meninggal, Virginia mengalami gangguan mental hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa.

3. Perjalanan kepenulisan Virgina Woolf

Virginia Woolf
Virgina Woolf (lithub.com)

Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal seperti kedua saudara laki-lakinya yang dididik di Cambridge, namun Virginia dan semua saudara perempuannya memiliki akses untuk memanfaatkan perpustakaan megah milik ayah mereka. Dilansir laman Biography, ayah Virginia Woolf memiliki koneksi yang sangat luas dan baik secara sosial maupun artistik. Ia mengenal baik William Makepeace Thackeray, seorang novelis dan penulis satir asal Inggris, juga George Henry Lewes, seorang penulis, filsuf, kritikus sastra, serta ilmuan asal Inggris.

Rumah seolah menjadi sekolah tidak resmi bagi Virginia Woolf. Di sana ia bebas membaca buku dan terlibat dalam perdebatan intelektual bersama keluarganya. Sebelum dikenal sebagai novelis, Woolf lebih dulu meniti jalan sebagai penulis esai dan kritikus.

Ia sempat menjadi kontributor di The Times Literary Supplement pada tahun 1905. Pengalaman ini melatih analisisnya terhadap struktur cerita, memperkaya sudut pandang tentang sastra, dan membentuk gaya penulisannya yang tajam namun puitis.

4. Novel pertama dan peran penting Hogarth Press

Buku Virginia Woolf
Buku Virginia Woolf (www.gramedia.com)

Virginia Woolf mulai mengerjakan draft untuk novel pertamanya Melymbrosia, dari tahun 1908 hingga 1909. Melymbrosia adalah versi awal dari novel pertamanya yang kemudian diterbitkan dengan judul The Voyage Out pada tahun 1915. Dalam prosesnya, draft Melymbrosia mengalami banyak revisi besar. Woolf mencoba menyederhanakan struktur cerita dan ia mulai mengembangkan gaya yang lebih fokus pada psikologi tokoh, meskipun belum sepenuhnya eksperimental seperti karya-karya berikutnya.

Virginia menikah dengan Leonard Woolf, seorang penulis dan pemikir politik pada tanggal 10 Agustus 1912. Bersama suaminya, ia mendirikan Hogarth Press, sebuah penerbitan independen yang kemudian menerbitkan banyak karya penting, termasuk karya Woolf sendiri. Dengan adanya Hogarth Press, Virginia Woolf jadi lebih bebas bereksperimen dengan gaya penulisannya hingga melahirkan karya sastra modern.

Seiring waktu, ia lebih dikenal melalui karya-karya yang menampilkan eksperimen bentuk dan gaya narasi. Novel-novel terkenalnya, seperti Mrs. Dalloway (1925) dan To The Lighthouse (1927) menunjukkan ciri khas dalam menggambarkan waktu, ingatan, dan kesadaran manusia secara mendalam. Bisa dibilang ini adalah awal munculnya teknik aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jadi pembeda karya Woolf dengan penulis lain pada masanya.

5. Pengaruh Virginia Woolf terhadap sastra modern

Virginia Woolf
Virginia Woolf (www.newsbytesapp.com/flickr)

Penggunaan teknik stream of consciousness oleh Virginia Woolf menjadi titik balik yang penting dalam sejarah sastra modern. Sebagai penulis, Woolf tak lagi menempatkan cerita sebagai rangkaian peristiwa yang berjalan lurus, melainkan sebagai aliran pikiran yang bebas, penuh pergulatan emosi, ingatan, dan kesadaran yang terus bergerak. Pendekatan ini membuat pembaca lebih dekat dengan karakter dalam cerita yang sedang dibacanya.

Dikutip dari laman Britannica, aliran kesadaran (stream of consciousness) adalah teknik naratif dalam fiksi non-dramatis yang bertujuan untuk menggambarkan aliran berbagai kesan-visual, auditori, fisik, asosiatif, dan subliminal yang memengaruhi kesadaran individu dan menjadi bagian dari kesadaran karakter seiring dengan alur pemikiran rasional karakter tersebut.

Teknik ini tertuang dalam Mrs. Dollaway dan To The Lighthouse, di mana Woolf memperlihatkan bahwa kehidupan batin sang tokoh bisa menjadi pusat cerita. Ia mengaburkan batas antara masa lalu dan masa kini, serta menghadirkan realitas yang tak hanya bersifat fisik, tapi juga psikologis.

Teknik ini kemudian menginspirasi banyak penulis setelahnya untuk lebih berani mengeksplorasi struktur narasi dan kedalaman karakter. Penulis seperti James Joyce dan William Faulkner, misalnya, turut mengembangkan teknik serupa dalam karya mereka, menciptakan narasi yang lebih bebas dan eksperimental. Bahkan hingga saat ini, pendekatan tersebut masih digunakan dalam berbagai bentuk sastra untuk menggambarkan realitas batin secara lebih autentik.

Dalam perjalanan kariernya sebagai seorang penulis dan novelis, Virginia Woolf tak hanya menghadirkan gaya penulisan baru di abad ke-20, tapi juga mengubah arah perkembangan sastra. Ia membuka jalan bagi generasi penulis selanjutnya untuk menjadikan pikiran, kesadaran, dan perasaan manusia sebagai pusat cerita. Ini menjadi sebuah warisan yang terus hidup dan kita temui pada karya sastra hingga saat ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us