Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Menjaga Kewarasan saat Berita Dipenuhi Kabar Negatif

5 min read
5 Cara Menjaga Kewarasan saat Berita Dipenuhi Kabar Negatif
Ilustrasi membaca berita (magnific.com/katemangostar)
  • Paparan kabar negatif berulang dapat memicu lelah emosional, cemas, sulit fokus, dan pesimis, sehingga mengikuti informasi perlu diimbangi dengan menjaga kesehatan mental.
  • Pembaca dianjurkan membatasi waktu membaca berita, memilih sumber tepercaya, memverifikasi kabar mengejutkan, serta mengatur akun media sosial yang memicu tekanan.
  • Jeda dari media sosial, aktivitas menenangkan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan berbagi perasaan dapat membantu; kecemasan yang mengganggu aktivitas perlu mendapat perhatian profesional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membuka media sosial atau portal berita terkadang membuat suasana hati berubah dalam hitungan menit. Belum selesai mencerna satu kabar buruk, sudah muncul berita lain tentang konflik, bencana, masalah ekonomi, atau berbagai peristiwa yang memicu kekhawatiran. Situasi ini bisa membuat kamu merasa lelah secara emosional meskipun hanya membaca berita dari layar ponsel.

Mengikuti perkembangan informasi memang penting agar kamu memahami keadaan di sekitar. Namun, paparan kabar negatif yang terus-menerus bisa membuat pikiran terasa penuh. Kamu mungkin menjadi lebih mudah cemas, kesulitan berkonsentrasi, atau merasa pesimis ketika melihat berbagai masalah yang terjadi di dunia.

Di tengah arus informasi yang sulit dihentikan, menjaga kesehatan mental menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kamu tetap bisa mengikuti berita tanpa harus mengorbankan ketenangan diri. Ada beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan agar kamu tetap mendapat informasi sekaligus menjaga kondisi emosional.

  1. 1. Batasi waktu untuk membaca berita

    Seseorang meluangkan waktu khusus untuk membaca berita melalui perangkat digital di dalam ruangan yang nyaman.
    Ilustrasi menentukan waktu khusus untuk membaca berita (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Keinginan untuk terus mengikuti perkembangan berita terkadang membuat kamu membuka portal berita atau media sosial berulang kali dalam sehari. Kamu mungkin merasa perlu mengetahui setiap informasi terbaru agar gak ketinggalan kabar penting. Sayangnya, kebiasaan ini bisa membuat pikiran terus terpapar berbagai peristiwa yang menguras emosi.

    Cobalah menentukan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya pada pagi atau sore hari. Kamu juga bisa membatasi durasinya sekitar 15–20 menit, lalu berhenti setelah mendapatkan informasi utama. Sesuaikan batas waktu tersebut dengan kebutuhanmu, terutama jika pekerjaanmu mengharuskan kamu mengikuti perkembangan informasi.

    Jika sudah selesai membaca, alihkan perhatian ke aktivitas lain yang lebih menenangkan. Kamu bisa kembali bekerja, berjalan kaki sebentar, atau menikmati waktu bersama orang terdekat. Dengan jadwal yang lebih teratur, kamu tetap bisa mengetahui kabar penting tanpa harus memeriksa berita setiap beberapa menit.

  2. 2. Pilih sumber berita yang tepercaya

    Perempuan tampak samping sedang melihat ponsel, ilustrasi pentingnya memilih media dengan standar jurnalistik.
    Ilustrasi pilih media yang memiliki standar jurnalistik (magnific.com/magnific)

    Arus informasi di internet bergerak sangat cepat. Ketika satu peristiwa menjadi perhatian publik, berbagai unggahan dengan judul provokatif bisa bermunculan. Sebagian informasi mungkin belum terverifikasi, disajikan tanpa konteks, atau sengaja dibuat untuk memancing reaksi emosional pembaca.

    Untuk menghindari kebingungan, pilih media yang memiliki standar jurnalistik dan kebiasaan memeriksa fakta. Jika menemukan kabar mengejutkan, periksa apakah informasi serupa juga diberitakan oleh sumber tepercaya lainnya. Jangan langsung membagikan unggahan hanya karena judulnya terlihat meyakinkan atau membuat kamu marah dan takut.

    Kamu juga bisa memilah akun yang diikuti di media sosial. Jika suatu akun terus menyebarkan informasi menyesatkan atau membuatmu merasa tertekan, kamu berhak berhenti mengikuti atau membisukannya. Mengatur sumber informasi merupakan langkah praktis agar kamu gak terus-menerus terpapar konten yang mengganggu ketenangan pikiran.

  3. 3. Sadari bahwa kamu gak bisa mengendalikan semua hal

    Ilustrasi seseorang menyebarkan informasi yang telah diverifikasi melalui perangkat digital secara bertanggung jawab.
    Ilustrasi menyebarkan informasi yang sudah terverifikasi (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Berita tentang konflik, ketidakadilan, bencana, atau kondisi ekonomi bisa memunculkan perasaan khawatir dan tidak berdaya. Kamu mungkin terus memikirkan dampak suatu peristiwa, bahkan ketika hal tersebut berada di luar jangkauanmu. Jika berlangsung terus-menerus, pikiran seperti ini bisa menghabiskan energi emosional.

    Cobalah membedakan hal yang bisa kamu kendalikan dan hal yang berada di luar kendalimu. Kamu mungkin gak bisa menghentikan sebuah konflik atau menyelesaikan masalah besar sendirian. Namun, kamu masih bisa mengambil tindakan sesuai kemampuan, seperti membantu orang yang terdampak, menyumbangkan dana melalui lembaga tepercaya, atau menyebarkan informasi yang sudah terverifikasi.

    Memahami batas kendali bukan berarti kamu bersikap acuh terhadap masalah di sekitar. Kamu tetap bisa memiliki empati sambil menyadari bahwa dirimu juga membutuhkan istirahat. Ketika rasa cemas muncul, ingatkan diri bahwa kamu boleh peduli terhadap suatu masalah tanpa harus memikirkan dan menyelesaikannya sepanjang waktu.

  4. 4. Beri jeda dari media sosial

    Ilustrasi mematikan notifikasi berita pada perangkat digital untuk mengurangi gangguan informasi harian.
    Ilustrasi matikan notifikasi berita (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Media sosial sering membuat satu kabar muncul berulang kali melalui unggahan, komentar, video, hingga diskusi yang panjang. Bahkan setelah membaca berita utama, kamu mungkin terus menggulir layar untuk mencari perkembangan terbaru. Tanpa disadari, waktu istirahat justru dipenuhi berbagai informasi yang memicu kekhawatiran.

    Jika mulai merasa kewalahan, cobalah mengambil jeda dari media sosial selama beberapa jam atau lebih lama sesuai kebutuhan. Matikan notifikasi berita yang gak mendesak dan hindari membuka ponsel sesaat sebelum tidur. Kamu tetap bisa mencari informasi penting pada waktu yang sudah ditentukan tanpa harus terus mengikuti setiap pembaruan.

    Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang membantu pikiran beristirahat. Misalnya, berjalan kaki, memasak, membaca buku, merapikan kamar, atau mengobrol dengan teman. Aktivitas sederhana ini bisa mengalihkan perhatian dari arus informasi dan memberimu kesempatan untuk kembali fokus pada kehidupan sehari-hari.

  5. 5. Rawat diri dan bicarakan perasaanmu

    Ilustrasi seseorang menuliskan perasaan yang muncul untuk mengenali dan mengekspresikan emosi secara jujur.
    Ilustrasi menuliskan perasaan yang muncul (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Paparan kabar negatif bisa memengaruhi suasana hati, terutama ketika kamu merasa memiliki hubungan emosional dengan peristiwa yang diberitakan. Kamu mungkin menjadi lebih mudah marah, gelisah, sulit tidur, atau kehilangan semangat menjalani aktivitas. Karena itu, perhatikan perubahan kondisi diri setelah mengikuti berita dan pastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi, seperti tidur yang cukup, makan secara teratur, bergerak, serta meluangkan waktu untuk beristirahat. Kamu juga bisa menuliskan perasaan yang muncul setelah membaca berita atau berbagi cerita dengan orang yang dipercaya agar kekhawatiran lebih mudah dikelola.

    Mengikuti berita membuatmu lebih memahami berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Meski begitu, kamu perlu mengenali kapan informasi mulai memengaruhi ketenangan pikiran. Membatasi waktu membaca berita, memilih sumber tepercaya, dan mengambil jeda dari media sosial bisa menjadi langkah awal untuk mengelola paparan informasi. Kamu gak harus mengetahui setiap perkembangan secara langsung untuk menjadi orang yang peduli. Ada kalanya kamu perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan kembali memperhatikan hal-hal yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Dunia mungkin tetap dipenuhi berbagai kabar yang mengkhawatirkan, tetapi kamu masih punya ruang untuk menjaga diri. Jika merasa sedih atau takut, gak perlu memaksakan diri untuk segera terlihat baik-baik saja. Berbagi cerita dengan orang terdekat bisa membantu, sedangkan kecemasan yang terus mengganggu tidur, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Kamu bisa mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental jika diperlukan. Tetaplah peka terhadap keadaan sekitar sambil memberi kesempatan kepada pikiran dan tubuh untuk beristirahat. Sebab, menjaga kesehatan mental juga merupakan bagian penting dari kemampuan untuk terus menjalani hidup dan peduli kepada sesama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More