ilustrasi sekelompok orang berfokus pada handphone (pexels.com/cottonbro)
Coba perhatikan polanya, bukan hanya satu unggahan. Jika seseorang berkali-kali membagikan konten emosional, kemudian terlihat sangat mengandalkan respons orang lain untuk merasa lebih baik, ada kemungkinan unggahan tersebut memang dibuat untuk mendapatkan perhatian.
Media sosial memang membuat respons semacam ini datang dengan cepat. Satu unggahan emosional bisa menghasilkan banyak komentar, pesan pribadi, dan likes dalam waktu singkat. Penelitian terbaru juga menemukan adanya hubungan antara sadfishing dan perilaku mencari perhatian, meski fenomena ini tetap perlu dilihat berdasarkan konteks masing-masing orang.
“Kita semua tahu bahwa di media sosial, orang-orang lebih mudah tertarik pada konten yang dramatis, emosional, dan tragis. Namun sebenarnya, siapa pun yang kesulitan mendapatkan cukup perhatian dalam kehidupan nyata sangat rentan menggunakan sadfishing,” ujar Nicole.
Kalau gak terlalu dekat, kamu gak perlu ikut menyelesaikan masalahnya, cukup beri respons baik jika memang ingin membantu. Pada akhirnya, gak semua curhatan adalah sadfishing. Jadi, tetaplah berempati tanpa lupa menjaga batasan diri.