Dulu, barang yang rusak tidak selalu berakhir di tempat sampah. Ketika sandal putus, orang mencoba memperbaikinya sendiri. Ketika kipas angin berhenti berputar, ada tukang servis yang dipanggil untuk memeriksanya. Bahkan, pakaian yang robek pun masih dijahit agar kembali layak digunakan. Selama barang tersebut masih bisa diselamatkan, membuangnya bukan pilihan pertama.
Namun, kebiasaan itu perlahan mulai berubah. Sekarang, ketika HP rusak, blender tidak berfungsi, atau pakaian mulai sobek, membeli barang baru sering terasa lebih praktis daripada memperbaikinya. Kebiasaan memperbaiki barang bahkan mulai dianggap merepotkan, kuno, atau tidak sebanding dengan waktu yang harus dikeluarkan. Sebenarnya, kenapa hal yang dulu terasa wajar ini sekarang justru semakin jarang dilakukan?