Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Haruskah Menjauh dari Berita Buruk demi Kesehatan Mental?
ilustrasi membaca berita (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Paparan berita negatif berulang dapat memicu cemas, marah, sedih, dan lelah; membatasi waktu membaca berita membantu menjaga kesehatan mental tanpa berarti tidak peduli.
  • Sebagian berita buruk mencerminkan realitas seperti kenaikan harga, bencana, kehilangan pekerjaan, dan masalah sosial, sehingga tetap penting memahami kondisi untuk menentukan sikap.
  • Keseimbangan dapat dijaga dengan memilih sumber tepercaya, mengurangi paparan saat mengganggu aktivitas, serta menunjukkan kepedulian lewat bantuan, informasi benar, atau dukungan sekitar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berita buruk semakin mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial membuat berbagai informasi tentang bencana, konflik, masalah ekonomi, hingga penderitaan masyarakat dapat muncul berkali-kali dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat membuat kita merasa lelah dan ingin mengurangi paparan terhadap informasi yang membuat pikiran semakin berat.

Menjaga kesehatan mental memang penting, tetapi kita juga tidak hidup terpisah dari kondisi di sekitar. Ada kalanya berita yang dilihat bukan sekadar informasi yang membuat cemas, melainkan gambaran mengenai masalah nyata yang sedang dihadapi banyak orang. Karena itu, persoalannya bukan hanya tentang perlu atau tidaknya menjauh dari berita buruk demi kesehatan mental, tetapi bagaimana kita menyikapinya tanpa kehilangan rasa peduli terhadap realita.

1. Berita buruk memang bisa memengaruhi mental

ilustrasi bermain gadget (magnific.com/pvproductions)

Terlalu sering melihat berita negatif dapat membuat pikiran terus berada dalam kondisi waspada. Kita bisa merasa cemas, marah, sedih, atau tidak berdaya ketika berulang kali melihat informasi mengenai masalah yang berat. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, konsumsi berita justru dapat membuat semakin sulit beristirahat dari tekanan.

Karena itu, membatasi konsumsi berita bukan berarti kita tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kita tetap dapat memilih waktu tertentu untuk membaca berita dan menghindari kebiasaan terus-menerus memeriksa media sosial untuk mencari informasi terbaru. Cara tersebut dapat membantu kita mendapatkan informasi tanpa membiarkan berita menguasai seluruh perhatian sepanjang hari.

2. Sebagian berita buruk adalah realita yang kita hadapi

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/IslandHopper X)

Tidak semua berita buruk hanya berupa informasi yang dilihat melalui layar. Berita tentang kenaikan harga, bencana, kehilangan pekerjaan, atau masalah sosial tertentu dapat menggambarkan kondisi yang benar-benar terjadi di sekitar kita. Bahkan, kita atau orang terdekat bisa saja ikut merasakan dampaknya secara langsung.

Karena itu, menjauh sepenuhnya dari berita buruk tidak menjamin lepas dari masalah tersebut. Kita tetap perlu mengetahui kondisi yang terjadi agar dapat memahami keadaan dan menentukan sikap dengan lebih baik. Menjaga kesehatan mental tetap penting, tetapi hal tersebut tidak harus dilakukan dengan mengabaikan realita yang sedang dihadapi banyak orang.

3. Menjaga diri tidak harus berarti berhenti peduli

ilustrasi bermain gadget (magnific.com/benzoix)

Kita tidak harus mengikuti setiap perkembangan berita untuk menunjukkan bahwa kepedulian. Membaca informasi dari sumber yang terpercaya dapat menjadi pilihan yang lebih sehat daripada terus mengikuti setiap unggahan dan komentar yang muncul di media sosial. Dengan cara tersebut, kita tetap mengetahui apa yang terjadi tanpa terus-menerus terpapar informasi yang sama.

Kita juga dapat menentukan bentuk kepedulian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jika sebuah masalah membutuhkan bantuan, mungkin bisa dilakukan dengan berdonasi, menyebarkan informasi yang benar, dan membantu orang di sekitar. Kepedulian tidak harus selalu ditunjukkan dengan terus-menerus mengonsumsi berita sampai membuat diri sendiri kelelahan.

4. Perlu menemukan batas antara peduli dan menjaga diri

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/camilo jimenez)

Tidak ada batasan khusus untuk jumlah berita buruk yang perlu dikonsumsi. Kita perlu memperhatikan bagaimana informasi yang dibaca memengaruhi kondisi diri, terutama jika mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau aktivitas sehari-hari. Ketika dampaknya sudah terasa berlebihan, mengurangi paparan berita dapat menjadi langkah yang masuk akal.

Namun, membatasi berita juga tidak berarti harus menutup mata terhadap realitas. Kita tetap dapat mencari informasi penting melalui sumber terpercaya, memahami masalah yang terjadi, lalu kembali menjalani aktivitas tanpa terus-menerus berada dalam arus berita negatif. Dengan keseimbangan tersebut, kita dapat menjaga kesehatan mental sekaligus mempertahankan empati terhadap orang lain.

Menjaga kesehatan mental dan memiliki kepedulian terhadap keadaan sekitar bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kita boleh mengambil jarak atau menjauh dari berita buruk demi kesehatan mental, terutama ketika sudah kewalahan. Meski begitu, tetap perlu menyadari bahwa sebagian berita buruk merupakan realita yang sedang dihadapi orang lain. Menemukan cara untuk tetap terinformasi dan peduli tanpa membiarkan arus berita mengendalikan kehidupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article