Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bingung Hubungan Dibawa ke Mana? Ini Cara Menanyakannya
ilustrasi laki-laki dan perempuan di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko)

Menanyakan ke mana arah hubungan sering kali terasa menegangkan karena kamu mungkin takut pasangan justru menjauh. Padahal, membicarakan masa depan hubungan bukan berarti menuntut, melainkan bagian dari komunikasi yang sehat.

Banyak orang percaya bahwa hubungan yang tepat akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu dibicarakan. Padahal, setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam memandang komitmen sehingga percakapan tentang masa depan hubungan tetap penting dilakukan. Berikut beberapa cara membahasnya tanpa membuat pasangan merasa tertekan.

1. Pastikan kamu memilih waktu yang tepat untuk membicarakannya

ilustrasi pasangan membaca buku (pexels.com/ronlach)

Sebelum memulai pembicaraan, pahami dulu alasanmu ingin mengetahui arah hubungan, apakah karena merasa bingung, ingin merencanakan masa depan, atau ingin memastikan tujuan kalian sejalan. Jika rasa tidak pasti mulai lebih besar daripada rasa yakin, mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengajak pasangan berdiskusi.

Pilih momen ketika kalian sama-sama santai dan tidak sedang menghadapi tekanan agar percakapan bisa berlangsung dengan nyaman. Hindari membahasnya saat bertengkar atau sedang lelah karena suasana yang tenang akan membantu kalian saling mendengarkan dengan lebih baik.

"Biasanya, waktu yang paling tepat untuk membicarakan arah hubungan adalah ketika rasa tidak pasti mulai mengalahkan rasa yakin. Misalnya, saat kamu terus bertanya-tanya hubungan kalian sebenarnya sudah sampai di tahap mana atau ketika berbagai keputusan, baik yang besar maupun kecil, akan dipengaruhi oleh jawaban dari pertanyaan tersebut," ujar Easton Gaines, PsyD, psikolog klinis holistik di New York, dikutip dari Verywell Mind.

2. Kenali dulu apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hubungan

ilustrasi laki-laki dan perempuan di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko)

Sebelum meminta kejelasan dari pasangan, pahami dulu apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hubungan, mulai dari komitmen, pernikahan, hingga tujuan jangka panjang. Kejelasan terhadap kebutuhan diri sendiri akan membuat percakapan lebih terarah.

Selain itu, tentukan juga batasan yang bisa dan tidak bisa kamu kompromikan. Dengan begitu, kamu tidak hanya mencari jawaban dari pasangan, tetapi juga tahu keputusan terbaik untuk dirimu sendiri.

3. Datangi percakapan dengan rasa ingin tahu, bukan menekan pasangan

ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

Cara menyampaikan pertanyaan akan memengaruhi respons pasangan. Hindari menuntut jawaban saat itu juga. Sebaliknya, buka percakapan dengan nada yang hangat dan terbuka agar pasangan merasa diajak berdiskusi, bukan diinterogasi.

Pendekatan seperti ini dapat membuat suasana pembicaraan terasa lebih nyaman. Dengan begitu, pasangan memiliki ruang untuk mengungkapkan pandangan dan perasaannya secara jujur tanpa merasa tertekan.

"Hubungan terbaik tidak dibangun dengan permainan tebak-tebakan, melainkan dengan pemahaman bersama, komitmen timbal balik, dan kesediaan untuk membicarakan hal-hal yang benar-benar penting," ujar Easton Gaines.

4. Dengarkan jawaban pasangan tanpa langsung menghakimi

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)

Tujuan percakapan ini bukan hanya menyampaikan perasaanmu, tetapi juga memahami sudut pandang pasangan. Karena itu, beri pasangan kesempatan untuk menjelaskan isi pikirannya tanpa disela agar kalian bisa saling memahami.

Jangan terburu-buru menganggap pasangan tidak serius hanya karena jawabannya tidak sesuai harapanmu. Selama komunikasi tetap terbuka, kalian masih memiliki kesempatan untuk memahami kebutuhan masing-masing.

5. Gunakan kalimat yang berfokus pada perasaanmu sendiri

ilustrasi pasangan sedang berkendara (pexels.com/rdne)

Saat membicarakan arah hubungan, usahakan menggunakan kalimat yang dimulai dengan kata "aku" daripada "kamu". Misalnya, katakan, "Aku merasa lebih tenang jika kita memiliki kejelasan tentang hubungan ini," daripada, "Kamu tidak pernah serius membahas masa depan." Cara ini membuat pasangan tidak merasa disalahkan sejak awal.

Kalimat yang berfokus pada pengalaman pribadi juga membantu mengurangi sikap defensif dari lawan bicara. Pasangan akan lebih mudah memahami alasanmu mengangkat topik tersebut karena yang disampaikan adalah kebutuhan, bukan tuduhan. Komunikasi pun menjadi lebih sehat dan produktif.

"Bias konfirmasi bisa membuatmu hanya mendengar apa yang ingin kamu dengar, bukan memahami apa yang sebenarnya disampaikan oleh pasangan," ujar Easton Gaines.

6. Siapkan diri untuk menerima jawaban apa pun

ilustrasi laki-laki dan perempuan duduk berjauhan (pexels.com/cottonbro)

Sebelum memulai percakapan, sadari bahwa hasilnya mungkin tidak selalu sesuai harapan. Bisa saja kamu dan pasangan memiliki tujuan yang sama, memiliki pandangan berbeda, atau bahkan pasangan belum siap memberikan jawaban yang jelas. Apa pun hasilnya, informasi tersebut tetap membantumu mengambil keputusan yang lebih baik.

Jika ternyata tujuan kalian tidak sejalan, bukan berarti percakapan itu gagal. Justru kamu mendapatkan kejelasan lebih awal sehingga tidak terus bertahan dalam hubungan yang tidak sesuai dengan kebutuhanmu. Menghadapi kenyataan memang tidak mudah, tetapi sering kali lebih baik daripada terus hidup dalam ketidakpastian.

"Sebagai terapis, pertanyaan yang paling sering saya dengar adalah, 'Bagaimana jika saya tidak mendapatkan jawaban yang saya harapkan dari pasangan?' Biasanya saya menjawab, 'Kalau begitu, setidaknya kita sudah memiliki kepastian,'" ujar Courtney Sonntag, LMFT, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di Front Porch Therapy, dikutip dari Verywell Mind.

Menanyakan arah hubungan bukan berarti memaksa pasangan untuk segera berkomitmen, melainkan mencari kejelasan tentang tujuan yang kalian jalani bersama. Apa pun jawabannya, keberanian untuk membicarakannya adalah langkah penting dalam membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article