“Trauma dapat mengubah cara kita bersikap dan menjalani kehidupan. Trauma juga dapat memengaruhi hubungan kita dengan mengubah cara kita berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain," ujar Jenna Hennessy, PhD dalam Very Well Mind.
Tips Membangun Hubungan Dewasa meski Ada Trauma Masa Lalu

Pengalaman di masa lalu, termasuk saat masa anak-anak dapat membentuk cara seseorang untuk memahami diri sendiri maupun membangun hubungan dewasa. Ketika seseorang dengan trauma masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh, hubungan dapat mengalami kesulitan mengatur emosi, membangun kepercayaan, dan berkomunikasi.
Meski demikian, pengalaman trauma masa lalu bukan berarti seseorang tidak dapat membangun hubungan dewasa. Proses mengenali luka, mendapatkan bantuan profesional, serta menciptakan hubungan aman dapat diupayakan. Berikut adalah beberapa tips untuk menciptakan hubungan yang dewasa meski di masa lalu pernah mengalami trauma.
1. Bagaimana trauma masa lalu memengaruhi hubungan ketika dewasa?

ilustrasi trauma bonding (pexels.com/Alex Green) Mengutip Psychology Today, seseorang yang pernah mengalami trauma di masa lalu seringkali menunjukkan sikap yang lebih sensitif terhadap emosi. Mudah terpicu jika mengalami penolakan, kritik maupun jarak emosional. Selain itu, trauma masa kecil juga bisa mengganggu seseorang dalam menilai suatu hubungan. Pasangan mungkin mengalami pola attechement penuh kecemasan atau justru suka menghindar. Sikap seperti ini menciptakan dinamika dalam hubungan, bukan tidak mungkin pasangan merasa mengalami konflik yang berulang.
Sayangnya, banyak individu dengan trauma di masa lalu yang tidak sadar tengah menciptakan konflik karena tidak menyadari hal semacam ini. Ditambah lagi, individu yang mengalami trauma masa lalu kerap menghadapi kesulitan komunikasi, terlebih dalam mengekspresikan emosi.
2. Memvalidasi pengalaman dan membangun ulang value sebuah hubungan

ilustrasi trauma bonding (pexels.com/Timur Weber) Penting untuk menyembuhkan trauma dalam diri. Sebab, melansir Very Well Mind, trauma adalah respons emosional terkait peristiwa menyedihkan yang seringkali dipicu rasa takut, bingung dan tidak berdaya. Psikolog Klinis, Jenna Hennessy, PhD, menegaskan bahwa salah satu efek jangka panjang dari trauma adalah hubungan yang kurang harmonis.
Trauma memang bisa memicu ketakutan, membuat waspada, bahkan perasaan mati rasa. Untuk itu, Jenna memberikan saran agar trauma tidak terus-menerus menghantui hubungan. Tentunya langkah pertama adalah memvalidasi pengalaman trauma itu, lalu membangun kesadaran pada pikiran agar bereaksi lebih baik terhadap situasi tertentu.
Mengubah cara pandang terhadap diri sendiri, orang lain, dan duinai di sekitar, akan membuat trauma lebih mudah disembuhkan. Terakhir, Jenna menegaskan untuk mencari bantuan dan dukungan profesional yang dapat membantu individu keluar dari trauma.
3. Melakukan terapi pola pikir dan perilaku

Ilustrasi trauma (Unsplash.com/ Annie Spratt) Diana Tutschek, M.S., seorang Konseler Berlisensi yang menangani masalah kesehatan menyarankan untuk individu dengan trauma masa lalu melakukan pencegahan trauma masa kanak-kanak. Dalam catatan di Psychology Today, Diana menegaskan bantuan profesional melalui terapi dapat sangat membantu untuk menyelesaikan masalah seperti ini.
Terapi yang terstruktur akan membantu seseorang untuk memproses dan mengintegrasikan ingatan traumatis. Tujuan dilakukannya terapi adalah menelusuri respons terhadap pengalaman di masa lalu yang mungkin membuat seseorang terluka, seperti pengabaian, kehilangan, dan pergolakan emosi lainnya.
Selain itu, terapi perilaku kognitif juga bisa mengatasi trauma di masa kecil dengan mengubah pola perilaku dan pola pikir. Melalui proses ini, individu dapat memproses ulang keyakinan dalam dirinya yang mungkin tidak relevan untuk menjalin hubungan dewasa.





















