Anies Kritik Kondisi Ekonomi, Minta Pemerintah Transparan dan Serius Urus Bangsa

- Anies Baswedan menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk dengan rupiah melemah, harga naik, dan daya beli turun, serta meminta pemerintah transparan agar kepercayaan publik tidak terus menurun.
- Ia mengkritik pemerintah karena dianggap tidak konsisten dalam kebijakan ekonomi dan kurang memberi keteladanan, terutama terkait penggunaan anggaran yang dinilai tidak sesuai dengan imbauan penghematan.
- Anies mendesak pemerintah jujur menyampaikan kondisi ekonomi sebenarnya, memberikan arah kebijakan yang jelas, serta memimpin secara solid di tengah tekanan global dan ancaman cuaca ekstrem.
Jakarta, IDN Times - Tokoh nasional sekaligus mantan calon presiden, Anies Baswedan, mengkritik kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya, pemerintah harus berani membuka data secara transparan dan menyampaikan situasi sebenarnya kepada publik agar kepercayaan pasar dan masyarakat tidak terus menurun.
Anies menilai, berbagai indikator ekonomi menunjukkan tekanan yang serius. Mulai dari nilai tukar rupiah yang melemah, harga kebutuhan pokok yang naik, hingga daya beli masyarakat yang semakin menurun.
“Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja. Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus. Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak,” ujar Anies dalam postingan di akun media sosial pribadinya, Rabu (20/5/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan diperkirakan semakin berat. Selain ketidakpastian global akibat geopolitik internasional, ancaman cuaca ekstrem juga dinilai akan memperparah tekanan ekonomi nasional.
“Tantangan di depan juga masih panjang. Geopolitik yang memanas, konflik membayang di Timur Tengah, dan para ilmuwan mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan itu sudah ada di depan mata. Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan. Maka beratnya berlipat,” katanya.
1. Pasar dan publik butuh kepastian

Anies mengatakan, dalam situasi penuh tekanan seperti sekarang, hal yang paling dibutuhkan masyarakat dan pelaku pasar adalah kepastian. Namun menurut dia, pemerintah justru belum menunjukkan arah kebijakan yang jelas dan konsisten.
“Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal: kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula. Tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran. Dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa,” ucapnya.
Ia kemudian menyoroti sikap pemerintah yang dinilai kerap menampilkan data positif semata dan menutup-nutupi persoalan yang ada. Kondisi itu, kata Anies, membuat pasar dan investor kehilangan kepercayaan.
“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah. Hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” ujar dia.
2. Kritik pemerintah soal prioritas anggaran

Selain menyinggung kebijakan ekonomi, Anies juga mengkritik sikap pemerintah yang dianggap tidak memberi keteladanan kepada masyarakat. Ia menilai, ada ketimpangan antara imbauan penghematan kepada rakyat dengan penggunaan anggaran negara oleh pemerintah.
“Keteladanan juga tidak hadir. Di saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” katanya.
Anies menegaskan, berbagai peringatan mengenai kondisi ekonomi Indonesia bukan hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari lembaga internasional dan media asing. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menganggap enteng situasi yang terjadi.
“Peringatan sudah datang dari mana-mana. Dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuangan internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengamati Indonesia. Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan adalah hajat hidup ratusan juta orang. Maka situasi ini harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan,” tuturnya.
3. Anies minta pemerintah jujur kepada publik

Dalam pernyataannya, Anies secara terbuka meminta pemerintah berhenti menenangkan publik dengan narasi semu. Ia mendorong pemerintah menyampaikan kondisi ekonomi secara apa adanya dan memberikan arah kebijakan yang jelas.
“Oleh karena itu, saya mengajak kepada pemerintah. Berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka data apa adanya. Sampaikan masalah dengan jujur. Berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten. Pimpin secara solid, ajeg, dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itu yang akan menenangkan rakyat,” ujar Anies.
Di akhir pernyataannya, Anies juga mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi tekanan ekonomi dan situasi global yang dinilai masih penuh ketidakpastian.
“Suka tidak suka, masa-masa berat masih ada di depan kita. Tekanan ekonomi belum mereda. Cuaca ekstrem akan hadir dan menerpa. Dan dunia di luar sedang bergolak. Tentu kita tetap harus optimis bahwa kita akan bisa melewati itu semua. Asal kita berjalan dengan mata terbuka. Bukan dengan ilusi yang dibuat-buat. Kita pasti bisa, tapi syaratnya satu, serius. Mari kita serius mengurus bangsa ini,” kata dia.


















