Mengapa Pemakaman Khamenei Digelar Empat Bulan setelah Wafat?

- Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tertunda lebih dari empat bulan karena situasi perang antara Iran, AS, dan Israel yang membuat prosesi kenegaraan tidak aman untuk dilaksanakan.
- Pemerintah Iran menegaskan jenazah Khamenei disimpan dalam ruang pendingin sesuai hukum Syiah tanpa pembalseman kimia, diperbolehkan karena kondisi luar biasa selama konflik berlangsung.
- Setelah perang mereda, Iran menggelar pemakaman akbar di Teheran hingga Mashhad dengan jutaan pelayat dan puluhan delegasi asing, menjadikannya prosesi kenegaraan terbesar dalam sejarah negara itu.
Jakarta, IDN Times – Pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei baru digelar lebih dari empat bulan setelah ia tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Penundaan tersebut menjadi sorotan karena dalam tradisi Islam, jenazah umumnya dimakamkan sesegera mungkin setelah meninggal dunia.
Muncul berbagai spekulasi mengenai alasan di balik penundaan itu, termasuk rumor jenazah Khamenei sempat dimakamkan secara sementara. Namun, pemerintah Iran membantah kabar tersebut dan menegaskan penundaan terjadi akibat situasi perang yang masih berlangsung antara Iran dengan AS dan Israel.
Menurut otoritas Iran, kondisi keamanan selama perang membuat prosesi pemakaman negara tidak memungkinkan untuk diselenggarakan. Setelah konflik mereda dan kedua pihak menyepakati penghentian sementara perang melalui nota kesepahaman, Iran mulai mempersiapkan rangkaian penghormatan yang berlangsung selama sepekan.
Pemakaman Khamenei pun dirancang sebagai salah satu prosesi kenegaraan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran. Selain dihadiri jutaan warga, upacara tersebut juga diikuti puluhan pemimpin dan delegasi asing dari berbagai negara.
1. Perang jadi alasan utama penundaan pemakaman Khamenei

Penundaan pemakaman selama lebih dari empat bulan merupakan kondisi yang tidak lazim dalam tradisi Islam. Dalam syariat Islam, jenazah pada umumnya dimakamkan dalam waktu sesingkat mungkin setelah seseorang meninggal.
Namun, pemerintah Iran menyatakan kondisi luar biasa akibat perang membuat pelaksanaan pemakaman tidak dapat dilakukan sesuai kebiasaan. Ketika Khamenei tewas dalam serangan udara di kompleks kediamannya di Teheran, Iran masih berada di bawah serangan intensif AS dan Israel.
Selama berminggu-minggu setelah kematiannya, berbagai wilayah Iran masih menghadapi ancaman serangan sehingga penyelenggaraan prosesi kenegaraan berskala besar dinilai berisiko terhadap keselamatan masyarakat maupun para pejabat negara.
Otoritas Iran juga membantah rumor yang menyebut jenazah Khamenei telah dimakamkan sementara. Pemerintah menegaskan jenazah disimpan sesuai ketentuan agama hingga situasi keamanan memungkinkan untuk menggelar prosesi penghormatan secara terbuka.
2. Jenazah disimpan sesuai ketentuan agama

Penundaan pemakaman memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana jenazah Khamenei dirawat selama lebih dari empat bulan. Pemerintah Iran menjelaskan jenazah tetap diperlakukan sesuai standar keagamaan dan hukum yang berlaku.
Iran menegaskan, tidak melakukan pembalseman menggunakan bahan kimia karena praktik tersebut umumnya tidak dianjurkan dalam ajaran Islam. Pakar kontraterorisme Mohammed Omar kepada Fox News Digital mengatakan jenazah Khamenei kemungkinan besar disimpan di ruang pendingin.
“Jenazah itu hampir pasti disimpan dalam penyimpanan dingin, bukan dibalsem, karena Islam melarang pembalseman menggunakan bahan kimia,” ujarnya.
Ia menjelaskan dalam fikih Syiah, penundaan pemakaman diperbolehkan dalam kondisi luar biasa, termasuk ketika terjadi perang atau situasi darurat.
“Hukum Syiah mengizinkan penundaan pemakaman dan penyimpanan dalam suhu dingin pada keadaan luar biasa, dan pengecualian bagi seorang pemimpin tertinggi bukanlah hal yang sulit diperoleh,” katanya.
3. Pemakaman terbesar dalam sejarah Iran

Setelah perang mereda, pemerintah Iran menyiapkan prosesi penghormatan berskala besar yang berlangsung sejak 3 hingga 9 Juli 2026.
Jenazah Khamenei disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla, Teheran, salah satu kompleks keagamaan terbesar di Iran. Lokasi tersebut dihiasi berbagai spanduk bergambar Khamenei sebelum dibuka untuk penghormatan publik.
Pemerintah Iran memperkirakan antara 15 hingga 20 juta orang akan mengikuti rangkaian prosesi tersebut. Jika angka itu tercapai, pemakaman Khamenei akan menjadi pemakaman kenegaraan terbesar dalam sejarah Iran.
Setelah prosesi di Teheran selesai, jenazah dijadwalkan dibawa ke kota suci Najaf dan Karbala di Irak sebelum dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, pada 9 Juli. Mashhad merupakan kota kelahiran Khamenei sekaligus salah satu lokasi paling suci bagi umat Muslim Syiah.
4. Bukan sekadar pemakaman, tetapi simbol politik

Selain menjadi penghormatan terakhir bagi Khamenei, pemerintah Iran juga menjadikan prosesi ini sebagai simbol persatuan nasional di tengah situasi pascaperang. Pemimpin salat Jumat Kota Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, bahkan menyebut kehadiran masyarakat dalam prosesi pemakaman sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam Iran.
“Partisipasi besar masyarakat dalam prosesi pemakaman pemimpin yang gugur syahid dan para syuhada lainnya pada hakikatnya akan menjadi referendum baru bagi Republik Islam,” katanya kepada media pemerintah Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengajak masyarakat memenuhi prosesi tersebut.
“Seluruh rakyat Iran harus menulis lembaran gemilang dalam sejarah Iran Islam melalui kehadiran mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Seruan bangsa untuk menuntut balas harus bergema hingga ke telinga seluruh dunia.”
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengajak seluruh warga Iran menghadiri pemakaman tanpa memandang latar belakang politik maupun etnis.
“Kehadiran Anda dalam jumlah besar akan menjadi jawaban tegas terhadap logika terorisme, kekerasan, dan intimidasi serta menjadi pesan yang jelas kepada dunia bahwa bangsa Iran tetap bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan dan martabatnya,” kata Pezeshkian.
5. Di balik prosesi akbar, dukungan publik masih dipertanyakan

Di sisi lain, sejumlah analis menilai prosesi pemakaman tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi politik di Iran saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran dilanda gelombang demonstrasi akibat tekanan ekonomi, inflasi, serta pembatasan kebebasan sipil. Aksi protes tersebut beberapa kali direspons aparat keamanan dengan tindakan represif.
Meski demikian, Khamenei tetap memiliki posisi penting di kalangan umat Muslim Syiah, tidak hanya di Iran tetapi juga di Irak, Lebanon, Pakistan, dan sejumlah negara lain. Sebagai pemimpin tertinggi sekaligus ulama Syiah berpengaruh, ia memiliki otoritas politik dan keagamaan yang menjadikan pemakamannya sebagai peristiwa dengan dimensi nasional, regional, sekaligus religius.



















