Bahlil Akui Banjir Hebat di Sumatra Berawal dari Kerusakan Alam

- Bahlil mengakui kerusakan lingkungan sebagai penyebab banjir hebat di Sumatra
- Bahlil klaim akan membenahi peraturan terkait lingkungan dan menata kembali regulasi pertambangan
- Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir Sumatra mencapai 225 jiwa, dengan angka korban yang belum ditemukan masih bisa bertambah
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengakui banjir hebat yang terjadi dalam waktu berdekatan di tiga provinsi di Pulau Sumatra, bermula dari kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, Bahlil menjanjikan bakal membenahi peraturan yang ada kaitannya dengan lingkungan.
Pernyataan Bahlil ini berbeda dari koleganya di Kabinet Merah Putih, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan Pratikno, yang menyebut banjir dan longsor di Sumatra disebabkan badai siklon tropis Senyar.
"Kita tahu persoalan perubahan iklim, longsor, bencana itu kan berawal dari kerusakan lingkungan, sehingga menimbulkan korban banjir," ujar Bahlil di kantor DPP Partai Golkar, Palmerah, Jakarta Pusat pada Jumat, 28 November 2025.
Ia pun mengucapkan duka cita mendalam atas jatuhnya banyak korban di tiga provinsi itu. Bahlil juga mengatakan bakal menata kembali regulasi terkait lingkungan.
"Tugas saya di sektor pertambangan, maka saya akan melakukan langkah-langkah untuk menjaga pengelolaan tambang agar bisa ramah terhadap lingkungan," tutur dia.
Ia juga segera mengadakan rapat dan memberikan instruksi kepada para pengurus Partai Golkar di daerah yang terkena dampak banjir. "Saya minta mereka agar bisa turun ke lapangan langsung," katanya.
1. Bahlil akui keliru menebang pohon untuk aktivitas pertambangan

Lebih lanjut, ketika membuka acara talkshow di kantor DPP Partai Golkar, Bahlil turut mengakui kesalahan di masa lalu lantaran memiliki usaha pertambangan yang kerap harus melakukan penebangan pohon. Alhasil, hal tersebut merusak lingkungan.
"Saya menceritakan sedikit. Saya juga merasa bersalah. Karena waktu saya jadi pengusaha dulu, kebetulan usaha saya dulunya main-main sama tambang, yang semua urusannya pasti tebang pohon," ujar Bahlil.
Ia pun mengakui kondisi banjir hebat yang kini melanda tiga provinsi di Sumatra merupakan konsekuensi dari aktivitas pertambangan yang tidak dikelola dengan baik. "Atas dasar pengalaman itu, dampaknya sekarang adalah apa yang terjadi ketika pertambangan dan perkebunan tidak ditata dan dikelola secara baik. Maka dampaknya kepada sosial. Hal ini yang terjadi karena longsor, karena penggundulan hutan. Banjir juga mengalami hal yang sama," imbuhnya.
Maka, ia mengklaim usai ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi Menteri ESDM, dilakukan penataan ulang menyeluruh proses penambangan agar lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal).
Jika tidak dikelola dengan baik, menurut Bahlil, akan sangat berbahaya sekali bagi masyarakat.
2. Bahlil klaim baru keluarkan izin penambangan bila ada komitmen reklamasi

Ia juga mengatakan, ketika meninjau bekas area pertambangan dari udara menggunakan helikopter, kondisi terbaik adalah ketika reklamasi dan reboisasi sudah dilakukan. Itu sebabnya ia sudah meminta ke para pelaku usaha penambangan agar memberikan komitmen dilakukan reklamasi baru izin turun.
“Kalau belum, waduh. Maka kemudian itulah yang mendorong kami untuk melakukan penataan secara komprehensif, dengan meminta kepada seluruh izin-izin pertambangan agar menjaminkan biaya reklamasinya dulu. Supaya jangan sampai tambang, terus tinggalkan hutan," kata mantan Menteri BKPM itu.
3. Jumlah korban meninggal dunia 225 jiwa akibat banjir Sumatra

Sementara, berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Sabtu (29/11/2025) korban akibat banjir Sumatra sudah mencapai 225 jiwa. Terbaru, terjadi kenaikan drastis dari korban meninggal dunia di Kabupaten Agam, Sumbar.
Semula angka korban meninggal dunia di Sumbar mencapai 23 jiwa. Namun, per Jumat malam kemarin, angkanya bertambah menjadi 74 jiwa. Angka korban meninggal dunia itu masih bisa bertambah lantaran masih banyak korban yang belum ditemukan.
"Pemerintah Kabupaten Agam merilis 78 orang lainnya masih belum ditemukan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB di dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/11/2025).
Sedangkan dalam laporan BNPB pada Jumat kemarin, angka korban meninggal dunia di Aceh mencapai 35 jiwa. Adapun korban meninggal dunia di Sumatra Utara sudah mencapai 116 jiwa.
















