Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dubes Iran Bongkar Kekejaman AS: Sanksi, Serangan dan Fitnah

Dubes Iran Bongkar Kekejaman AS: Sanksi, Serangan dan Fitnah
Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi melakukan konferensi terkait serangan Israel dan AS ke Iran di Jakarta, Senin (2/3/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Intinya Sih
  • Dubes Iran Mohammad Boroujerdi menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan serta pembunuhan terhadap tokoh penting Iran, termasuk pemimpin yang menolak senjata pemusnah massal.
  • Boroujerdi menyoroti sanksi berat, intervensi, dan operasi militer AS sejak 1953 hingga 2025 yang disebutnya menyebabkan penderitaan rakyat Iran dan kehancuran di berbagai negara lain.
  • Ia menuding keterlibatan intelijen asing dalam kerusuhan di Iran serta mengecam standar ganda HAM Barat, sambil mengapresiasi dukungan pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap negaranya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Duta Besar Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan tegas terkait eskalasi serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap negaranya. Dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026), Boroujerdi menyoroti tindakan yang menurutnya menyasar tokoh-tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Boroujerdi mengenang, Khamenei merupakan seorang tokoh yang memiliki pandangan tegas menolak senjata pemusnah massal. Ia, kata Boroujerdi, merupakan seorang ulama dan pemimpin negara yang memiliki fatwa mengharamkan senjata pemusnah massal justru menjadi target pembunuhan.

“Aliansi yang lain adalah Amerika Serikat dan Israel melakukan pembunuhan terhadap seorang tokoh, seorang ulama, seorang pemimpin dari sebuah negara yang dalam fatwanya, dikarenakan beliau merupakan seorang marja atau ulama rujukan, dalam fatwanya telah menyatakan bahwa berbagai bentuk penyimpangan, produksi, penggunaan, jual beli senjata pemusnah masal termasuk senjata nuklir merupakan tindakan yang haram. Amerika Serikat dan Zionis Israel membunuh seorang pemimpin yang memiliki pendirian dan pandangan seperti yang saya sampaikan ini,” ujar Boroujerdi.

1. Soroti klaim “bantuan” dan sanksi AS sejak 1953

unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020
unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020 (Anthony Crider, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Boroujerdi juga mempertanyakan klaim Washington yang menyatakan ingin membantu rakyat Iran. Ia mengaitkan hal itu dengan sejarah panjang intervensi AS di Iran sejak 1953, termasuk dukungan terhadap kudeta terhadap Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh.

“Hal ironis lain adalah klaim yang mereka sampaikan, yaitu Amerika Serikat ingin membantu masyarakat Iran. Saya ingin tanyakan jenis bantuan seperti apa ini? Sampai dengan 200 anak-anak SD menjadi korban. Bantuan seperti apa yang dimaksudkan oleh mereka?” katanya.

Ia juga menyebut pengalaman sejumlah negara lain sebagai contoh.

“Dunia tentu sudah sadar dan sudah lama mengetahui berbagai jenis bantuan yang disampaikan oleh Amerika Serikat. Kita pernah melihat contohnya di Irak, di Afghanistan, dan berbagai wilayah lainnya di dunia. Bantuan Amerika Serikat tidak lain selain kehancuran dan kelaparan, dan kerusakan total bagi sebuah negara. Apakah ada manfaat lain? Saya rasa tidak ada,” tegasnya.

2. AS terus serang dan fitnah Iran

unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018
unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018 ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut Boroujerdi, sejak 2010 Iran menghadapi berbagai sanksi berat dari AS. Tak hanya itu, pada 2020 terjadi pembunuhan terhadap seorang jenderal senior Iran yang disebutnya sebagai tokoh anti-ISIS di Irak oleh Negeri Paman Sam.

Dalam paparannya, Boroujerdi juga menyebut rangkaian serangan yang menurutnya terjadi pada 2024 dan 2025, termasuk terhadap kantor konsulat Iran serta berbagai fasilitas militer dan ekonomi.

“Dan sejak 2010, Amerika memberlakukan berbagai sanksi yang sangat berat terhadap Iran dan pada tahun 2020, ketika mereka melihat tidak bisa sukses membuat Iran tunduk, maka mereka melakukan peneroran terhadap sebuah jenderal senior dari Iran yang merupakan tokoh dan pahlawan anti-ISIS di Irak. Mereka turun tangan secara langsung untuk melakukan pembunuhan ini,” ungkapnya.

Ia juga menyebut adanya serangan pada Oktober 2024 serta rangkaian serangan pada Juni 2025.

“Dan di Juni 2025, atas dukungan Amerika Serikat dengan menggunakan persenjataan dari Amerika Serikat, mereka melakukan penyerangan selama 12 hari di Iran dan membunuh banyak pejabat senior militer dan panglima di negara kami. Dan pada waktu yang sama, Juni 2025, mereka melakukan penyerangan terhadap situs nuklir damai Republik Islam Iran yang berada di bawah pengawasan langsung dari IAEA,” tambahnya.

3. Operasi Intelijen dan standar ganda HAM yang diterapkan AS

Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi melakukan konferensi terkait serangan Israel dan AS ke Iran di Jakarta, Senin (2/3/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi melakukan konferensi terkait serangan Israel dan AS ke Iran di Jakarta, Senin (2/3/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Boroujerdi juga menuding adanya keterlibatan agen intelijen asing dalam memicu kerusuhan di negaranya.

“Setelah itu mereka menjalankan proyek menciptakan korban yang maksimal. Tentu agen-agen CIA, agen-agen Mossad berada di tengah-tengah mereka untuk menciptakan korban yang banyak, dan nantinya dengan dalih ingin mendukung para masyarakat yang melakukan demonstrasi, mereka melancarkan serangan terhadap Iran,” katanya.

Ia turut menyoroti pemberitaan media internasional yang menurutnya tidak berimbang.

“Para pemilik media-media mainstream yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel sedang berupaya untuk menggantikan tempat hak dengan kebatilan, menggantikan tempat kebenaran dengan kebohongan. Mungkin masyarakat biasa bisa mereka taklukkan dan bisa membuat masyarakat biasa percaya kepada mereka, tetapi saya rasa insan media tidak akan percaya kepada mereka,” ujar Boroujerdi.

Di akhir pernyataannya, ia menyinggung situasi kemanusiaan di Gaza dan menyebut adanya standar ganda dalam isu hak asasi manusia.

“Dikarena apabila memang benar Amerika Serikat dan Israel khawatir dan ingin mempedulikan hak asasi manusia, kenapa mereka tidak mengedepankan pendekatan yang sama di Gaza dan tidak mempedulikan keadaan HAM di Gaza? Apabila mereka khawatir terhadap keadaan anak-anak dan kaum wanita, mengapa anak-anak dan wanita di Gaza dibiarkan dan puluhan ribu dari anak-anak dan Gaza jatuh menjadi korban? Ini adalah hal-hal double standard, standar ganda yang sudah tidak diterima lagi oleh opini publik,” katanya.

Boroujerdi juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.

“Dan pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia yang telah berdiri di tempat yang benar dari sejarah, sisi dan segi yang benar dari sejarah, dan memberikan kutukan yang serius dan tegas terhadap langkah yang serius yang terjadi terhadap negara kami,” tutupnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More