Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Baku Tembak TNI dengan OPM, Komandan Jeki Murib Tewas di Papua

Baku Tembak TNI dengan OPM, Komandan Jeki Murib Tewas di Papua
Kepala Dinas Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf. M. Wirya Arthadiguna. (Dokumentasi Puspen TNI)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • TNI terlibat baku tembak dengan OPM di Puncak, Papua Tengah, yang menewaskan Komandan OPM Kodap 18 Illaga, Jeki Murib, setelah serangkaian aksi kekerasan yang ia pimpin.
  • Penindakan terhadap OPM disebut bagian dari tugas TNI dalam Operasi Militer Selain Perang, dilakukan secara profesional dan humanis untuk melindungi warga serta mendukung pembangunan Papua.
  • Komnas HAM menyoroti tewasnya 15 warga sipil dalam konflik di Puncak, sementara TNI membantah keterlibatan prajuritnya dan menyebut bentrokan terjadi akibat serangan kelompok bersenjata OPM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasukan TNI yang tergabung dalam Koops Habema TNI terlibat baku tembak dengan Operasi Papua Merdeka (OPM) pada Senin (20/4/2026) di Kampung Pinapa, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Akibat baku tembak itu, Komandan OPM Kodap 18 Illaga, Jeki Murib, tewas.

"Betul (aksi baku tembak) menewaskan Jeki Murib," ujar Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf Wirya Arthadiguna, dalam keterangan pada Selasa (28/4/2026).

Wirya mengatakan, Jeki Murib terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan, mulai dari pembakaran kompleks tower di Kampung Dago, Distrik Illaga pada 15 Agustus 2023, pembunuhan dan penganiayaan terhadap pekerja pembangunan puskesmas di Kampung Eromaga, Distrik Omukia pada 19 Oktober 2023, penembakan di Bandara Aminggaru pada 18 Juni 2025, penyanderaan terhadap 18 karyawan PT Freeport Indonesia di tower 270, Distrik Tembagapura pada 8 Januari 2026, hingga penembakan terhadap dua karyawan PT Freeport Indonesia di area Grasberg.

"Aksi OPM tersebut menimbulkan ketakutan dan mengganggu kehidupan masyarakat, termasuk menghambat roda perekonomian serta aktivitas masyarakat," kata dia.

1. Penindakan terhadap OPM dianggap bagian dari pelaksanaan tugas TNI

Ilustrasi Peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi Peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Wirya mengatakan, penindakan yang dilakukan oleh TNI terhadap OPM merupakan bagian dari pelaksanaan tugas TNI dalam kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti yang diatur Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 Pasal 7 Ayat 2 huruf b poin 1 dan 2.

"Di sana tertulis tugas pokok TNI untuk mengatasi gerakan separatis bersenjata dan mengatasi pemberontakan bersenjata," kata dia.

Selain itu, langkah untuk menetralisir komandan OPM itu sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 yang menekankan pendekatan terpadu antara keamanan dan kesejahteraan. Prioritas utamanya, kata Wirya, pada pelindungan masyarakat dan percepatan pembangunan di Papua.

"Operasi dilakukan secara terukur, profesional dan humanis dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sipil serta didukung oleh tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat," kata dia.

2. TNI imbau warga Papua yang masih ada di hutan agar kembali

Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Poin lain yang juga disampaikan oleh Wirya, yakni imbauan yang disampaikan oleh TNI kepada warga Papua yang masih berada di hutan untuk menghentikan tindak kekerasan. TNI juga mengajak agar warga keluar dari hutan.

"Mari hentikan kekerasan, kembali lah ke tengah masyarakat, tinggalkan jalan separatisme dan bersama-sama membangun Papua yang aman, damai dan sejahtera," kata dia.

3. Publik soroti 15 warga sipil yang tewas dalam operasi penindakan TNI

-
Tim patroli Satgas Koops TNI Habema menggerebek markas sementara kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). (Dok. Pen Koops TNI Habema)

Sementara, isu mengenai Papua kerap didominasi tindak kekerasan dan operasi penindakan oleh anggota gabungan militer dan kepolisian. Terbaru, konflik kekerasan yang meletus di Kampung Kembru, Distrik Kebru dan Kampung Jigunggi, Distrik Mageabume, Kabupaten Puncak, Papua Tengah menewaskan 15 warga sipil. Selain itu, 7 orang lainnya mengalami luka-luka. Di antara korban tewas disebut terdapat anak-anak. 

”Peristiwa Puncak ini salah satu peristiwa terberat yang kita dapatkan pada 2026 ini. Saya kira ini berat sekali,” kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saurlin P Siagian di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat pada Kamis (23/4/2026).

Saurlin terus menjalin komunikasi dengan timnya di lapangan yang bergerak mengumpulkan informasi terkait peristiwa tersebut. Sejauh ini, informasi diperoleh dengan mewawancarai sejumlah warga yang sudah keluar dari titik konflik karena tim kesulitan menembus distrik-distrik dimaksud atas alasan keamanan.

Berdasarkan keterangan saksi yang dimintai keterangan, mereka melihat pelaku tindak kekerasan mengenai pakaian dengan motif loreng. Namun, informasi itu ditepis Wirya Arthadiguna yang menegaskan tak ada aktivitas prajurit TNI di Kampung Jigiunggi.

"Saat peristiwa penembakan terhadap anak tersebut, tidak ada aktivitas prajurit TNI di Kampung Jigiunggi," ujar Wirya di dalam keterangan resmi Koops Habema pada Senin (20/4/2026).

Dia mengatakan, ada dua peristiwa penembakan berbeda yang terjadi pada Selasa (14/4/2026). Peristiwa pertama, kata perwira menengah di TNI itu terjadi di Kampung Kembru, Papua.

"Berdasarkan laporan masyarakat terdapat keberadaan kelompok bersenjata OPM di wilayah tersebut," kata dia.

Dia mengatakan, aparat penegak hukum langsung mendatangi lokasi tersebut untuk melakukan pemeriksaan. Saat aparat tiba di lokasi, mereka diserang oleh kelompok OPM. Baku tembak tak terelakan pun terjadi.

Dari baku tembak itu, ada empat anggota OPM yang gugur. Selain itu, aparat penegak hukum turut menyita beberapa barang bukti milik para pelaku penembakan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More