Kado Pahit di Hari Ulang Tahun: 5 Korban KRL Bekasi Lahir 27 April

- Lima korban kecelakaan KRL Bekasi diketahui lahir pada 27 April, bertepatan dengan hari terjadinya insiden tragis yang seharusnya menjadi momen ulang tahun mereka.
- Kecelakaan antara Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB.
- Basarnas menyelesaikan operasi evakuasi dalam waktu kurang dari 12 jam meski menghadapi kesulitan tinggi akibat banyak korban terjepit di material kereta.
Jakarta, IDN Times — Di balik tragedi kecelakaan kereta yang melibatkan Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, terselip kisah pilu dari lima korban yang seharusnya merayakan hari bahagia mereka.
Kelima korban tersebut diketahui lahir pada 27 April tanggal yang sama dengan hari terjadinya peristiwa nahas itu. Alih-alih merayakan ulang tahun, mereka justru harus menghadapi insiden yang mengubah segalanya.
Berdasarkan pantauan IDN Times di papan nama korban di RSUD Kota Bekasi, terdapat lima korban yang mengalami kecelakaan Travis tersebur mereka adalah adalah Yuliana (27 April 1996), Stefani Sofia (27 April 2004), Alivia (27 April 2001), Riki (27 April 2001), dan M. Anwar (27 April 1998).
Sebagian dari mereka tercatat sebagai korban luka yang harus menjalani perawatan intensif usai kejadian.
Tragedi kecelakaan antara rangkaian Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur sendiri terjadi pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.57 WIB. Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah dan membuat penumpang terjebak di dalamnya.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang dipimpin Basarnas berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 12 jam. Seluruh korban, baik luka maupun meninggal dunia, telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyebut proses evakuasi berlangsung penuh tantangan karena banyak korban terjepit di material kereta akibat deformasi parah.
“Ini kejadian dengan tingkat kesulitan tinggi, namun berkat sinergi semua pihak, seluruh korban dapat dievakuasi,” ujarnya.
















