Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma soal Ekonomi, Ini 2 Faktor Stunting di Kubu Raya

Bukan Cuma soal Ekonomi, Ini 2 Faktor Stunting di Kubu Raya
Ilustrasi stunting (pexel)
  • Stunting di Kubu Raya dipengaruhi bukan hanya ekonomi dan edukasi, tetapi juga akses pangan bergizi serta perkawinan anak.
  • Program PASTI menjalankan Pos Gizi DASHAT di 20 desa, melibatkan 290 baduta dan 159 ibu hamil KEK, serta mengedukasi remaja melalui Duta GenRe.
  • Prevalensi stunting Kubu Raya mencapai 30,2 persen pada 2024, melampaui Kalimantan Barat 26,8 persen dan rata-rata nasional 19,8 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kubu Raya, IDN Times - Persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Akses terhadap pangan bergizi dan isu perkawinan anak juga menjadi faktor yang disorot, dalam upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Hal itu disampaikan Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, saat kunjungan lapangan Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia) di Kubu Raya pada Rabu, 5 Agustus 2026.

“Pengentasan stunting bukan sekadar permasalahan internal keluarga. Pasalnya, selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor-faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak ini," kata Hotmianida melalui keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).

"Dua di antaranya adalah akses ke bahan pangan bergizi dan isu pernikahan anak yang menjadi fokus Program PASTI," sambungnya.

  1. 1. Akses pangan bergizi jadi salah satu perhatian

    Bukan Cuma soal Ekonomi, Ini 2 Faktor Stunting di Kubu Raya
    PASTI kembangkan kebun gizi di Kubu Raya. (Dok. PASTI)

    Hotmianida menyampaikan, salah satu intervensi PASTI di Kubu Raya diarahkan untuk memperluas akses keluarga terhadap pangan bergizi. Pendekatan ini dilakukan melalui Pos Gizi DASHAT (PGD) yang berjalan di 20 desa.

    "Kegiatan PGD mencakup pemberian makanan bergizi intensif, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan pangan lokal," jelas dia.

    Pada semester I 2026, jelas Hotmianida, kegiatan tersebut melibatkan 290 baduta atau bayi di bawah dua tahun dan 159 ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) atau ibu hamil KEK.

    Pemanfaatan pangan lokal juga dikembangkan melalui inovasi desa. Warga memanfaatkan pekarangan untuk menanam sejumlah tanaman pangan, seperti terong, kangkung, kacang panjang, bayam, gambas, dan cabai.

    Selain itu, terdapat juga budidaya ayam petelur yang menghasilkan rata-rata 17 hingga 20 butir telur per hari. Hasil tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak dan keluarga.

    "Pendekatan tersebut dilakukan agar sumber pangan bergizi lebih mudah diakses keluarga sekaligus memperkuat keberlanjutan intervensi pencegahan stunting di tingkat rumah tangga dan komunitas," jelas Hotmianida.

  2. 2. Perkawinan anak juga disorot dalam pencegahan stunting

    Bukan Cuma soal Ekonomi, Ini 2 Faktor Stunting di Kubu Raya
    PASTI kembangkan budidaya ayam petelur lokal. (Dok. PASTI)

    Hotmianida menyampaikan, faktor lain yang menjadi perhatian PASTI adalah isu perkawinan anak. Edukasi mengenai persoalan tersebut salah satunya melibatkan generasi muda di Kubu Raya.

    Selain itu, pihaknya juga menggelar workshop edukasi gizi dan pencegahan anemia bagi 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) desa atau kecamatan untuk menjadi peer educator.

    "Setelah mendapatkan pelatihan, para Duta GenRe melakukan kampanye yang melibatkan 460 remaja berusia 15 hingga 19 tahun," kata Hotmianida.

    Sementara, Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Nurizky Permanajati mengatakan, keterlibatan generasi muda penting karena mereka merupakan calon orang tua.

    “Kami sangat mengapresiasi digandengnya generasi muda, termasuk para Duta Generasi Berencana Kemendukbangga, pada Program PASTI. Pasalnya, para anak muda inilah yang nantinya menjadi calon orang tua bagi anak-anak, dan keterlibatan mereka memastikan risiko stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya," jelasnya.

  3. 3. Angka stunting di Kubu Raya masih di atas nasional

    Bukan Cuma soal Ekonomi, Ini 2 Faktor Stunting di Kubu Raya
    PASTI libatkan masyarakat cegah stunting bersama. (Dok. PASTI)

    Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kubu Raya mencapai 30,2 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan prevalensi Kalimantan Barat sebesar 26,8 persen dan rata-rata nasional 19,8 persen.

    Program PASTI juga melakukan pendampingan kepada keluarga. Pada periode 2025 hingga semester I 2026, program tersebut menjangkau 1.188 orang tua baduta dan ibu hamil melalui kegiatan Kampanye, Informasi, dan Edukasi (KIE).

    Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.137 penerima manfaat atau 95,7 persen menunjukkan pemahaman yang baik mengenai stunting.

    Sementara, Bupati Kubu Raya H. Sujiwo berharap, praktik yang dikembangkan melalui program PASTI dapat diterapkan di wilayah lain.

    “Kami harap dampak yang dihasilkan oleh Program PASTI nantinya dapat kami replikasi di wilayah-wilayah lain, sehingga dapat semakin menurunkan angka stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,” katanya.

    Diketahui, program PASTI merupakan kemitraan Kemendukbangga/BKKBN dengan Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui inisiatif Bakti BCA. Program ini diimplementasikan Wahana Visi Indonesia hingga Januari 2027.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More