Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cegah Jemaah Haji Lolos Tanpa Syarat, Kemenkes Kunci Data Pakai BPJS

Jemaah Haji
Jemaah haji Indonesia saat melakukan wukuf di tenda Arafah, Arab Saudi, Kamis (9/6/2025). (Media Center Haji/Rochmanudin)
Intinya sih...
  • 80% jemaah haji punya komorbid
  • Jemaah gagal ginjal dan demensia dilarang masuk Tanah Suci
  • Tips menjaga kondisi fisik tetap prima di Tanah Suci
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperketat seleksi kesehatan jemaah haji tahun 1447 H/2026 M, dengan menutup celah manipulasi data medis.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro, mengatakan langkah ini diambil menyusul evaluasi tahun sebelumnya, di mana banyak laporan jemaah haji yang sebenarnya tidak layak, namun tetap diberangkatkan ke Tanah Suci.

Kemenkes kini menerapkan sistem 'kunci' pada aplikasi input data. Petugas di lapangan tidak lagi diberikan fasilitas untuk mengedit data secara mandiri.

"Jika ada salah input, proses yang dipersulit, harus lapor dari Puskesmas ke Dinkes Kabupaten, lalu ke provinsi, baru ke pusat untuk kami verifikasi," kata Liliek, Rabu (14/1/2026).

Hal ini sejalan dengan konsep pemeriksaan kesehatan baru yang menggunakan data riwayat kesehatan medis, serta penambahan pemeriksaan kesehatan mental dan kemampuan kognitif.

Selain fisik, kemampuan kognitif jemaah juga diuji melalui aplikasi dengan pertanyaan sederhana namun krusial, seperti menanyakan nama presiden, untuk mendeteksi demensia. Hal ini penting, mengingat pemerintah Arab Saudi menetapkan penuaan yang disertai demensia sebagai salah satu kondisi yang tidak memenuhi syarat haji.

1. Sebanyak 80 persen jemaah haji punya komorbid

Jemaah Haji, Kemenkes
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro. (IDN Times/Yogi Fadila)

Tantangan kesehatan haji 2026 diprediksi semakin berat. Data Pusat Kesehatan Haji menunjukkan tren kenaikan jemaah dengan penyakit penyerta (komorbid). Pada 2025, tercatat sekitar 80 persen jemaah haji memiliki komorbid, angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 73 persen.

Liliek menyoroti tingginya angka risiko ini yang berbanding lurus dengan angka kematian. Berdasarkan evaluasi 2025, penyebab kematian jemaah haji terbanyak adalah penyakit jantung (47,2 persen) dan penyakit paru (23,9 persen).

Untuk menekan risiko fatalitas, Liliek memberikan peringatan keras terkait tradisi walimatus safar atau acara syukuran jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci yang kerap dilakukan secara berlebihan. Ia menceritakan kasus tragis pada musim haji lalu, di mana seorang jemaah meninggal di pesawat akibat kelelahan ekstrem, setelah menggelar open house selama tujuh hari berturut-turut.

"Kami mohon agar walimatus safar diadakan sesederhana mungkin. Kami minta dilakukan maksimal satu minggu sebelum keberangkatan, agar jemaah memiliki waktu untuk istirahat," kata dia.

Kelelahan fisik sebelum keberangkatan sangat berbahaya, kata Liliek, mengingat haji adalah ibadah fisik. Terlebih lagi, Kemenkes mencatat jemaah lansia dan risiko tinggi (risti) memerlukan pembatasan ibadah, seperti penghentian aktivitas berat menjelang puncak haji di Armuzna.

2. Jemaah gagal ginjal dan demensia dilarang masuk Tanah Suci

Kemenkes, Jemaah Haji
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro. (IDN Times/Yogi Fadila)

Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan ketat terkait persyaratan kesehatan jemaah haji untuk musim 1447 H/2026 M. Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, mengingatkan bahwa jemaah dengan kondisi medis tertentu dipastikan tidak akan lolos syarat istitha'ah dan terancam gagal berangkat atau dipulangkan.

Berdasarkan nota diplomatik terbaru, beberapa penyakit yang menjadi penghalang mutlak antara lain gagal ginjal stadium lanjut yang memerlukan cuci darah, gagal jantung dengan gejala saat istirahat, serta penyakit paru kronis yang bergantung pada oksigen. Selain itu, jemaah dengan gangguan kognitif berat atau demensia juga dilarang menunaikan haji.

"Pihak Arab Saudi akan melakukan screening ulang saat jemaah tiba. Jika kedapatan sakit dan tidak memenuhi syarat, kemungkinan Saudi akan memberikan sanksi," jelas Liliek.

3. Tips menjaga kondisi fisik tetap prima di Tanah Suci

Seorang petugas menggendong seorang jemaah lansia ke dalam bus, sebelum diberangkatkan dari Madinah ke Makkah, Minggu (25/5/2025). (Media Center Haji)
Seorang petugas menggendong seorang jemaah lansia ke dalam bus, sebelum diberangkatkan dari Madinah ke Makkah, Minggu (25/5/2025). (Media Center Haji)

Untuk menjaga kondisi fisik tetap prima di Tanah Suci yang cuacanya panas, Liliek membagikan tips hidrasi khusus agar jemaah tidak mengalami dehidrasi namun juga tidak terganggu ibadahnya karena sering buang air kecil (beser).

"Minum air secara rutin, sekitar 200ml setiap jam. Jangan minum sekaligus banyak, tapi satu tegukan setiap 10 menit. Bawalah tumbler untuk minum sedikit demi sedikit," sarannya.

Liliek juga mewajibkan jemaah untuk membiasakan jalan kaki minimal 30 menit setiap hari, sebagai persiapan fisik sebelum keberangkatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

Gubernur Andra Soni Akui Banten Salah Kelola Sampah

14 Jan 2026, 13:17 WIBNews