Musyawarah Perencanaan Pembangunan Hak Asasi Manusia (Musrenbang HAM) Nasional Tahun 2026. (IDN Times/Lia Hutasoit)
Sementara Pigai menilai, pemerintahan Prabowo lebih egaliter dalam menyikapi kebebasan berpendapat dibandingkan era Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dia mengklaim, masyarakat saat ini tidak mengalami pembungkaman oleh pemerintah ketika menyampaikan pendapat.
“Jadi, apakah kalian mau pemimpin yang diam tapi dia eksekusi, memenjarakan banyak orang atau melakukan busting, pembungkaman seperti zaman Soeharto dulu diam, tidak merespons publik. Sekarang masih mending, sekarang ini egalitarianisme. Egaliter, kalau dunia yang dipimpin pemimpin negara yang egaliter, itu adalah bisa, bisa meladeni pendapat rakyat," kata Pigai
Pigai menyebut, Indonesia ada di kondisi surplus demokrasi dan pemerintahan yang egaliter memungkinkan pemimpin berkomunikasi langsung dengan masyarakat, serta merespons tuntutan dan kritik publik.
“Kalau negara yang demokrasi, negara egalitarianisme, pemimpin egaliter itu melakukan komunikasi dan dialog langsung antara pemimpinnya dengan rakyat. Merespons balik pendapat, tuntutan publik, tuntutan, kritikan, dukungan dari publik direspons langsung oleh Presiden,” ujarnya.