Comscore Tracker

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182

Pantau terus updatenya di sini #SJY182

Jakarta, IDN Times - Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJY 182 rute Jakarta - Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/12/2021) sekitar pukul 14.40 WIB. Pesawat itu mengangkut 62 orang, yang terdiri dari 40 orang dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi, dan 12 awak kabin.

Tim Gabungan TNI AL, Basarnas, dan elemen lain dikerahkan untuk mencari pesawat dan mengevakuasi korban. Berikut ini linimasa proses pencarian pesawat dengan nomor registrasi PK-CLC tersebut. Lini masa hari ke-6 dan hari-hari sebelumnya bisa dipantau di laman ini

22 Januari: Keluarga penumpang tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Keluarga Penumpang Tabur Bunga di Lokasi Musibah SJY 182 (Dok. Sriwijaya Air Group)

Keluarga penumpang pesawat Sriwijaya Air SJY 182 melakukan prosesi tabur bunga di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang di kawasan Kepulauan Seribu, Jumat (22/1/2021). Wilayah tersebut diyakini sebagai lokasi kecelakaan pesawat SJY 182.

Prosesi itu dilakukan tepat 13 hari sejak musibah hilang kontak dan jatuhnya pesawat SJY 182. Corporate Communication Sriwijaya Air Group kepada IDN Times mengatakan, dalam prosesi tersebut keluarga penumpang SJY 182 didampingi jajaran direksi Sriwijaya Air.

“Dengan menumpang KRI Semarang sekitar 50 orang perwakilan keluarga penumpang dibawa melepas beban kesedihan, dengan memberikan penghormatan terakhir kepada para korban musibah SJ-182 tepat di lokasi kecelakaan terjadi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Jauwena menyampaikan ungkapan duka cita pada keluarga korban. Lebih lanjut Jefferson mengatakan, Sriwijaya Air akan melakukan evaluasi di internal berdasarkan hasil investigasi kecelakaan dari KNKT nanti.

22 Januari: Tim DVI Polri berhasil identifikasi jenazah balita 3 tahun korban pesawat SJY 182

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri sebelumnya sudah berhasil mengidentifikasi 47 korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Brigjen Pol Asep Hendradiana mengatakan, hari ini ada dua jenazah lagi yang berhasil diidentifikasi.

"Pertama Yumna Fanisyatuzahra, perempuan, berusia 3 tahun. Kedua Muhammad Nur Kholifatul Amin, laki-laki, 39 tahun," ungkap Asep di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (22/1/2021).

Dua korban itu berhasil diidentifikasi lewat pemeriksaan DNA. Asep menambahkan, hari ini ada lima jenazah yang sebelumnya sudah teridentifikasi diserahkan kepada keluarganya.

Mereka adalah Sevia Daro, Angga Fernanda Afrion, Rion Yogatama, Fathima Ashalina Marhen, dan Rahmania Ekananda.

"Total jenazah yang telah diserahkan ke keluarga sampai hari ini sejumlah 40 jenazah," ujar Asep.

21 Januari: Operasi pencarian Sriwijaya Air dihentikan

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Basarnas hentikan sementara operasi SAR Sriwijaya Air akibat cuaca buruk (IDN Times/Fitang Budhi Adhitia)

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI (Purn) Bagus Puruhito mengatakan pihaknya memutuskan menghentikan pencarian korban terhitung hari ini.

"Setelah melalui pertimbangan teknis hasil temuan korban, efektivitas pertemuan dengan keluarga korban dan melakukan rapat dengan Kemenhub, maka hari ini Kamis pada 21 Januari pada pukul 16.57 WIB pencarian pertolongan Sriwijaya Air SJ 182 secara resmi saya tutup atau penghentian," ujar Bagus di Terminal JICT 2, Jakarta Utara, Kamis (21/1/2021) seperti dilansir dari akun YouTube Kompas TV, Kamis (21/1/2021).

Meski begitu, Bagus menegaskan, operasi lanjutan atau monitoring akan terus dilakukan. Para tim gabungan akan tetap memantau perkembangan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air. Hingga saat ini, Tim DVI Polri sudah berhasil mengidentifikasi 43 korban, 32 di antaranya sudah diserahkan ke pihak keluarga.

20 Januari | 15.07 WIB: Tim DVI Polri telah terima 324 kantong jenazah

Memasuki hari ke-12 proses evakuasi Sriwijaya Air SJY 182, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah menerima 324 kantong jenazah.

"Total body part, body bag yang kami terima dari fase satu dari Tanjung Priok sebanyak 324 kantong. Tadi malam ada penambahan," kata Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko, saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati Jakarta Timur, Rabu (20/1/2021).

Tim DVI Polri juga telah menerima 438 DNA korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY-182. Polri sudah mengidentifikasi 40 korban pesawat rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021).

“Sebelumnya dari 40 korban teridentifikasi, 27 korban sudah diserahkan pada keluarganya,” ujar Hery.

Hery mengatakan, RS Polri telah menerima 62 laporan orang hilang akibat peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air. Dari angka tersebut, 32 di antaranya laki-laki dan 30 perempuan.

“Progresnya kami mendalami, menganalisa, dan melakukan evaluasi terhadap data-data yang masuk pada kami,” ujar dia.

20 Januari | 14.30 WIB: Basarnas angkat bicara soal sinyal SOS di lokasi jatuhnya Sriwijaya Air

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Viral Sinyal SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, lokasi jatuhnya Sriwijaya Air SJY 182 (Dok.tangkapan Layar Google Maps)

Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama Rasman MS angkat bicara soal tanda peringatan SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182.

Simbol SOS adalah tanda peringatan yang digunakan korban untuk meminta pertolongan, jika terjadi musibah atau kecelakaan di sebuah daerah.

Rasman pun membantah bahwa masih ada penumpang yang selamat dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 pada Sabtu, 9 Januari 2021 lalu.

“Sampai saat ini tidak ada keterangan yang kita dapatkan bahwa ada penumpang yang hidup. Jadi untuk yang tanda SOS tadi, kita coba dalami nanti. Saya tidak mau berspekulasi apa yang ada di situ,” kata Rasman di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (20/1/2021).

Dia menjelaskan, Pulau Laki merupakan salah satu posko dari penyelam SAR gabungan untuk mengevakuasi korban dan serpihan pesawat Sriwijaya Air SJY 182. 

Basarnas pun akan menyelidiki lebih jauh terkait siapa yang membuat tanda peringatan SOS di Pulau Laki tersebut. Sebab, hingga saat ini warganet masih mempertanyakan adanya korban selamat dalam peristiwa kecelakaan pesawat tersebut.

“Jadi mereka membentuk posko-posko itu untuk memudahkan mereka bergerak, karena tidak semua (penyelam) ada di atas kapal. Kapal jumlahnya terbatas. Mereka lebih happy kalau ada di sekitar pulau itu,” ujar Rasman.

Sebelumnya, warganet mendadak dihebohkan dengan tanda minta bantuan atau SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta. Diketahui, area tersebut berdekatan dengan lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 pada Sabtu, 9 Januari 2021.

Tanda SOS tersebut muncul saat membuka Google Maps dan memasukkan kata kunci "Pulau Laki". Saat IDN Times mencoba, terdapat tanda SOS di belahan selatan pulau yang diduga menjadi tempat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 tersebut.

20 Januari | 13.58 WIB: Presiden Jokowi tinjau posko darurat evakuasi Sriwijaya Air SJY 182 di JICT II dan serahkan santunan

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Presiden Jokowi tinjau JICT II (YouTube/Sekretariat Presiden)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo meninjau posko darurat evakuasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Jakarta Utara, Rabu (20/1/2021). Jokowi minta hak korban dan keluarga segera diselesaikan.

Pantauan melalui siaran langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Jokowi tiba di JICT pada pukul 13.58 WIB. Kedatangan Jokowi disambut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Ditemani Budi, Jokowi pun mulai berkeliling meninjau posko.

Jokowi juga menyerahkan santunan kepada para keluarga korban Sriwijaya Air dan minta semua hak korban segera dipenuhi. Dia menyampaikan santunan yang diberikan Jasa Raharja kepada keluarga korban sebesar Rp50 juta dan dari pihak maskapai sebesar Rp1,25 miliar.

"Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas santunan ini dan segera diselesaikan keseluruhan korban dan penumpang. Saya juga ingin menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga, semoga diberikan keikhlasan dan kesabaran," tutur presiden.

Usai meninjau posko, orang nomor satu di Indonesia itu mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Dan seluruh unsur yang tidak bisa saya sebut satu-satu atas kerja keras sejak awal musibah sampai saat ini, dan kita tahu telah ditemukan serpihan-serpihan yang kecil dan besar, kotak hitamnya juga sudah ditemukan dan kita menunggu CVR-nya," kata Jokowi.

19 Januari | 19.00 WIB: Jenazah kru Sriwijaya Air Grislend Gloria teridentifikasi, total 40 jenazah korban telah dikenali identitasnya

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Jenazah Korban Sriwijaya SJY 182 Asy Habul Yamin Diterima Keluarga (IDN Times/Axel Jo Harianja)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Rusdi Hartono, mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri hari ini sudah mengidentifikasi 310 kantong jenazah dan 250 kantong properti korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Selain itu, enam jenazah juga telah berhasil teridentifikasi hari ini.

"Sampai pukul 17.00 WIB korban yang berhasil diidentifikasi bertambah enam. Kemarin 34 (korban) dan sekarang enam. Berarti secara keseluruhan sudah berjumlah 40," kata Rusdi di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (19/1/2021).

Keenam jenazah yang teridentifikasi hari ini adalah Kolisun (37), Grislend Gloria Natalies (28), Faisal Rahman (30), Andi Syifa Kamila (26), Shinta (23) dan Mulyadi (39).

Untuk diketahui, Grislend Gloria Natalies merupakan kru ekstra Sriwijaya Air SJY 182. Dia adalah pramugari Nam Air. "Seluruh korban berhasil direkonsiliasi dengan DNA," ujar Rusdi.

Rusdi mengatakan empat jenazah yang sebelumnya sudah teridentifikasi diserahkan ke keluarganya hari ini. Mereka adalah Gita Lestari Dewi, Didik Gunardi, Beben Sopian, dan Mia Tresetyani Wadu. "Hari ini telah diserahkan ke keluarganya. Berarti, sudah 20 jenazah yang sudah diterima oleh keluarganya untuk dimakamkan," katanya.

19 Januari | 13.00 WIB: KNKT umumkan hasil investigasi awal Sriwijaya Air bulan depan

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengumumkan laporan hasil awal investigasi pesawat Sriwijaya Air SJY 182, pada bulan depan atau 30 hari setelah kecelakaan. KNKT berharap setelah 30 hari kecelakaan dapat memberikan laporan awal.

“Kami berharap 30 hari setelah kecelakaan, kami dapat memberikan laporan awal dan apabila nanti dipublikasikan, kami akan menyampaikan kepada masyarakat luas,” kata Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo dalam keterangan resmi di Jakarta, seperti dikutip ANTARA, Selasa (19/1/2021).

Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan, pihaknya melakukan investigasi bersama tim dari Amerika Serikat yang berjumlah 11 orang, yakni empat orang dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), empat orang dari Boeing, dua orang dari Federal Aviation Administration (FAA) dan satu orang dari General Electric sebagai pembuat mesin pesawat.

“Hal ini sesuai dengan ICAO Annex 13 di mana negara pembuat desain pesawat berhak berpartisipasi dalam investigasi. Berpartisipasi dalam investigasi kali ini juga dua investigator TSIB Singapura dalam hal ini partisipasi dalam sesuai dengan kerja sama negara-negara ASEAN,” katanya.

19 Januari | 12.50 WIB: Kapal Basarnas-Kemenhub berbenturan saat operasi pencarian Sriwijaya Air

KN SAR Wisnu milik Basarnas berbenturan dengan kapal milik Kementerian Perhubungan saat melakukan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJY 182 di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Selasa (19/1/2021).

"Iya memang tadi subuh atau dini hari. Benturan, benturan aja,” kata Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama Rasman MS saat dikonfirmasi hari ini.

Rasman mengungkapkan, akibat benturan tersebut, kapal milik Basarnas mengalami kerusakan. Kendati demikian insiden itu tidak mengganggu jalannya operasi SAR Sriwijaya Air SJY 182.

“Karena cuaca kurang bagus, ya arusnya kencang juga. Hingga pada saat lempar jangkar, dia (kapal) tidak terkontol (karena) terlalu berdekatan. Akhirnya ada benturan,” ujar Rasman.

19 Januari | 12.09 WIB: DVI Polri mulai kesulitan identifikasi jenazah korban lewat sidik jari

Memasuki hari kesebelas proses pencarian Sriwijaya Air SJY 182, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mulai menemui kesulitan dalam mengidentifikasi jenazah korban lewat sidik jari.

“Kami lebih menitikberatkan pada pemeriksaan DNA forensik karena semakin lama semakin ada keterbatasan untuk pemeriksaan yang lain, termasuk sidik jari,” kata Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko, saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (19/1/2021).

Tim DVI Polri juga telah menerima 438 sampel DNA korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY-182, dan sudah mengidentifikasi 34 korban.

“Ada 23 korban di antaranya sudah diserahkan ke keluarganya,” ujar Hery.

Hery mengatakan, RS Polri juga kembali menerima 2 kantong jenazah. Dengan begitu jumlah total kantong jenazah yang diterima RS Polri sebanyak 310.

18 Januari | 18.02 WIB: Pencarian Pesawat Sriwijaya Air Diperpanjang 3 Hari

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJY 182 pada Selasa (12/1/2021) (ANTARA/Fauzi Lamboka)

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito mengatakan, pihaknya kembali memperpanjang masa pencarian pesawat Sriwijaya Air SJY 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

"Setelah mempertimbangkan berbagai macam hal, tadi kita berbincang rapat dengan Kemenhub, KNKT, DVI dan pihak terkait, sehingga operasi SAR kita perpanjang 3 hari lagi," ujar Bagus di JICT 2, Jakarta Utara, Senin (18/1/2021).

Bagus mengatakan, pihaknya memperpanjang masa pencarian karena soal kemanusiaan. Selain itu, hingga hari ini, Tim Disaster Victim Indentification (DVI) Polri baru berhasil mengidentifikasi 29 jenazah korban pesawat Sriwijaya Air.

Menurut Bagus, semakin banyak jumlah kantong jenazah yang ditemukan, akan semakin membantu Tim DVI melakukan proses identifikasi.

"Tentunya ada hari-hari yang hilang karena cuaca jelek dan ini kita kompensasi dengan perpanjangan operasi SAR itu sendiri. Jadi dua hal itu. Kita memahami situasi keluarga korban yang sangat mengharapkan (jenazah) untuk ditemukan dalam bentuk apapun," ujar Bagus.

18 Januari | 15.41 WIB: Daftar nama-nama korban Sriwijaya Air yang berhasil diidentifikasi

Tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri sudah berhasil mengidentifikasi 29 korban pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Dari data itu, sebagian besar korban diketahui bermukim di Kalimantan Barat. 

Sekretaris Perusahaan PT Jasa Raharja Harwan Muldidarmawan mengatakan, dari 29 korban yang sudah teridentifikasi, 25 ahli waris sudah menerima santunan. 

"Empat (ahli waris) masih dalam proses penyelesaian oleh kami," ungkap Harwan ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon, Senin (18/1/2021). 

Berdasarkan data dari DVI Polri yang dimiliki oleh PT Jasa Raharja, sejauh ini sudah ada 29 nama korban yang berhasil diidentifikasi. Namun, ada satu nama korban yang tidak dipublikasikan untuk menghormati permintaan keluarga. 

Berikut daftar nama korban yang sudah berhasil diidentifikasi hingga Senin (18/1/2021):

Okky Bisma (Jakarta);
Fadli Satrianto (Jawa Timur);
Khasanah (Kalimantan Barat);
Asy Habul Yamin (Kalimantan Barat); 
Indah Halimah Putri (Sumatera Selatan);
Agus Minarni (Kalimantan Barat);
Pipit Piyono (Lampung);
Yohanes Suherdi (Kalimantan Barat);
Ricko (Kalimantan Barat);
Supianto (Kalimantan Barat);
Ihsan Adhlan Hakim (Kalimantan Barat);
Fa Mia Tresetyani Wadu (Bali);
Xcu Fa Isti Yudha Prastika (Banten);
Dinda Amelia (Kalimantan Barat);
Rahmawati (Jawa Barat);
Toni Ismail (Jawa Barat);
Putri Wahyuni (Riau);
Arifin Ilyas (Jawa Tengah);
Beben Sopian (Kalimantan Barat);
Arneta Fauzia (Jakarta);
Rizki Wahyudi (Bangka Belitung);
Rosi Wahyudi (Bangka Belitung);
Mafrufatul Yeti Sriningsih (Kalimantan Barat);
Nelly (Banten);
Infant Fao Nuntius Zai (Jakarta);
Yunni Dwi Saputri;
Oke Dhurrotul;
Iuskandar;
Mr x (tidak disebutkan nama); 

Sedangkan, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, hingga Minggu, 17 Januari 2021, sudah ada 22 akta kematian yang diterbitkan. Sebagian akta kematian itu dikirimkan melalui surat elektronik dalam bentuk file Pdf. 

18 Januari | Pencarian dan evakuasi di lokasi jatuhnya Sriwijaya SJY 182 masih dilanjutkan

Basarnas masih akan melanjutkan opersdi pencarian dan evakuasi baik jenazah korban maupun bagian penting dari pesawat masih akan dilakuka. Satu pertimbangan Basarnas adalah bahwa masih banyak korban yang belum dievakuasi. Selain itu belum seluruh part dari dari CVR black box ditemukan.

Operasi Tim SAR gabungan juga tidak mengubah metode pencarian di hari berikutnya. "Keterlibatan masih sama, besok juga kita masih melaksanakan operasi pencarian di lokasi dan dengan metode yang sama," ujar Bagus pada Minggu. 

17 Januari | 22 WIB: Total kantong jenazah korban yang dikumpulkan Basarnas sudah 308

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Penyelam dari TNI AL dalam operasi pencarian korban dan puing Sriwijaya Air SJY 182 (ANTARA FOTO/Yontaifib 1 Korps Marinir TNI AL/HO/MRH)

Di hari kesembilan evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJY 182, Basarnas kembali menemukan kembali 10 kantong jenazah bagian tubuh korban. Selain itu, tim SAR juga menemukan empat kantong serpihan kecil badan pesawat, dan tiga kantong potongan besar badan pesawat.

“Untuk bagian tubuh kita hari ini sudah menemukan mengumpulkan 308 kantong jenazah, serpihan kecil pesawat 58 kantong, potongan besar pesawat 54 bagian, FDR satu unit dan bagian dari CVR unit tadi juga sudah kita terima dari KRI Kurau,” kata Bagus di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021).

17 Januari | 14.35 WIB: CVR kotak hitam Sriwijaya Air akan dicari oleh robot bawah laut (ROV)

Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Badan SAR Nasional (Basarnas) Bambang Suryo Aji mengatakan, memori perekam suara kokpit atau CVR dari kotak hitam (black box) pesawat Sriwijaya Air SJY 182 akan dicari menggunakan robot. Penyebabnya, karena sinyal CVR tersebut sudah tidak berfungsi.  

“Persoalannya sinyal yang ada di CVR itu sudah tidak memunculkan sinyal, sehingga pencarian dengan finder locator ini sudah tidak bisa” kata Bambang di JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021).

Oleh karena itu, penyelam saat ini hanya bisa mencari memori CVR menggunakan robot bawah laut (ROV) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ROV, kata Bambang, bisa maksimal digunakan pada saat malam hari, ketika tim penyelam sudah berkurang dan suasana di bawah jernih. 

Sebelumnya, Panglima Koarmada I TNI AL Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid mengungkapkan, pihaknya kesulitan menemukan memori dari CVR. Menurut Rasyid, memori VCR terkubur dalam lumpur di laut.

"Kita dari pagi sudah cari namun kesulitannya ada. Visibility di bawah air terbatas," kata Rasyid di KRI Riegel, Jumat (15/1/2021).

17 Januari | 11.03 WIB: Tim DVI RS Polri sudah terima 188 kantong body part korban Sriwijaya Air

Komandan Disaster Victim identivication (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko menyebut, total ada 188 kantong body part korban Sriwijaya SJY-182 yang sudah diterima tim DVI pada Minggu (17/1/2021) pukul 09.00 WIB.

"Semuanya itu terdiri dari 162 yang sudah diperiksa dan sisanya 26 yang sedang kami periksa. Pagi ini kami melakukan pemeriksaan dengan empat meja dengan empat tim lengkap termasuk dari INAFIS," kata Hery.

Dilaporkan, sebanyak 351 sampel telah masuk ke laboratorium DNA Pusdokkes Polri. Total 351 sampel tersebut terdiri dari 208 sampel postmortem dan 143 sampel antemortem.

"Jadi ada beberapa sampel anterortem yang sedang kami kejar dan kami collect untuk pemeriksaan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya sampel yang dari Jawa Tengah," ujar Hery.

Memasuki hari ke-9 atau hari perpanjangan kedua pencarian Sriwijaya Air, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 24 korban kecelakaan pesawat tersebut. Sebanyak 12 di antara jenazah tersebut diidentifikasi dari hasil DNA dan sidik jari.

"Satu saja sudah cukup tapi ternyata ada dua-duanya jadi lebih menguatkan untuk proses pencocokan," beber Hery.

16 Januari | 22.00 WIB: Basarnas kumpulkan 298 kantong jenazah korban Sriwijaya Air hingga hari kedelapan operasi pencarian

Direktur Operasi dan latihan Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo Aji mengatakan, pihaknya hari ini mengumpulkan 26 kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Selain itu, delapan kantong serpihan kecil badan pesawat dan satu bagian besar badan pesawat.

"Sehingga akumulasi penemuan dari hari pertama sampai dengan hari ini pukul 19.30 WIB sebagai berikut, bagian tubuh atau bodypart sebanyak 298 kantong, serpihan kecil (badan pesawat) 54 kantong dan potongan besar (badan pesawat) 51 bagian," ungkap dia di JICT II, Jakarta Utara, Sabtu (16/1/2021).

Bambang mengatakan, operasi penyelaman pada malam hari ini dihentikan lantaran terbatasnya penerangan. Namun, dia menegaskan, cockpit voice recorder (CVR) terus dicari.

"Jadi malam ini fokus pencarian CVR menggunakan ROV (remotely operated vehicle)," katanya.

16 Januari | 21.00 WIB: Delapan jenazah korban Sriwijaya Air diserahkan ke keluarganya

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri hari ini menyerahkan delapan jenazah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 kepada pihak keluarga. Mereka adalah Agus Minardi, Pipit Piyono, Ihsan Adhlan Hakim, Isti Yuda Prastika, Dinda Amelia, Puteri Wahyuni, Yohanes Suherdi dan Indah Halimah Puteri.

"Delapan jenazah ini telah diterima keluarganya untuk dimakamkan," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Rusdi Hartono seperti dilansir dari akun Instagram @divisihumaspolri, Sabtu (16/1/2021).

Dengan demikian, 12 jasad korban Sriwijaya Air SJY 182 sudah diserahkan kepada keluarganya. Sebelumnya, jenazah Pramugara Sriwijaya Air Okky Bisma, Asy Habul Yamin, Kopilot Nam Air Fadly Satrianto dan Ricko Mahulette sudah diserahkan ke keluarganya.

Rusdi menambahkan, hari ini per pukul 17.00 WIB, ada tujuh korban yang berhasil diidentifikasi. Mereka berhasil diidentifikasi berkat pemeriksaan DNA dan sidik jari.

"Pertama Rosi Wahyuni perempuan berumur 51 tahun, korban kedua atas nama Rizki Wahyudi laki-laki berumur 26 tahun, ketiga korban atas nama Nelly perempuan berumur 49 tahun, keempat korban atas nama Beben Sopian laki-laki berumur 58 tahun, kelima korban atas nama Makrufatul Yeti Sriyaningsih perempuan berumur 30 tahun, keenam korban atas nama Arifin Ilyas laki-laki berumur 26 tahun, ketujuh korban atas nama Arneta Fauziah perempuan berumur 38 tahun," ungkap Rusdi.

Dengan bertambahnya tujuh jenazah yang teridentifikasi hari ini, maka sudah 24 jenazah yang sudah diperiksa oleh Tim DVI Polri. 17 jenazah korban Sriwijaya Air SJY 182 lainnya yang sudah teridentifikasi adalah Ricko, Ihsan Adhlan Hakim, Supianto, Pipit Piyono, pramugari Sriwijaya Air Mia Tresetyani Wadu dan Yohanes Suherdi.

Selanjutnya Kopilot Nam Air Fadly Satrianto, Asy Habul Yamin, Khasanah, pramugara Sriwijaya Air Okky Bisma, Indah Halimah Putri, Agus Minardi, Toni Ismail, Dinda Amelia, Isti Yuda Prastika, Putri Wahyuni dan Rahmawati.

16 Januari | 20.00 WIB: Memori CVR Sriwijaya Air bisa terbaca meski lepas dari casingnya

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Flight Data Recorder Sriwijaya Air SJY 182 - twitter.com/KNKT_RI

Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) R Yunus Ardianto mengatakan, memori rekaman suara pilot di kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR) Sriwijaya Air SJY 182, masih bisa dibaca meski dalam kondisi terlepas dari pembungkusnya.

"Insya Allah bisa (dibaca), kami selama ini sudah bisa menyelesaikan kejadian sebelum Sriwijaya SJY 182," kata Yunus di Dermaga II JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara, seperti dikutip ANTARA, Sabtu (16/1/2021).

Yunus menjelaskan kondisi memori yang terlepas dari pembungkusnya bukan kejadian pertama kali. Peristiwa serupa pernah terjadi ketika kecelakaan menimpa pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8, AirAsia hingga Sukhoi.

Di dalam pembungkus atau casing CVR, menurut Yunus, terdapat memori dan power serta ada penghubung. "Kemarin yang ditemukan itu rumah memori saja," sambung dia.

CVR merupakan satu dari dua bagian kotak hitam pesawat. Selain CVR, bagian lain kotak hitam pesawat adalah Flight Data Recorder (FDR) atau rekaman data penerbangan yang sudah ditemukan pada Selasa, 12 Januari 2021.

KNKT, kata Yunus, sedang mengunduh data FDR untuk kemudian diteliti demi mengungkap penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJY 182.

16 Januari | 18.00 WIB: 24 jenazah korban Sriwijaya Air sudah teridentifikasi

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri kembali berhasil mengidentifikasi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Rusdi Hartono mengatakan, hari ini ada tujuh korban yang berhasil diidentifikasi.

"Sampai jam 17.00 WIB sebanyak tujuh korban. Pertama Rosi Wahyuni perempuan berumur 51 tahun, korban kedua atas nama Rizki Wahyudi laki-laki berumur 26 tahun, ketiga korban atas nama Nelly perempuan berumur 49 tahun, keempat korban atas nama Beben Sopian laki-laki berumur 58 tahun, kelima korban atas nama Makrufatul Yeti Sriyaningsih perempuan berumur 30 tahun, keenam korban atas nama Arifin Ilyas laki-laki berumur 26 tahun, ketujuh korban atas nama Arneta Fauziah perempuan berumur 38 tahun," kata Rusdi seperti dilansir dari akun Instagram @divisihumaspolri, Sabtu (16/1/2021).

Rusdi mengatakan, tujuh jenazah yang teridentifikasi hari ini berkat hasil pemeriksaan DNA dan sidik jari. Tim DVI Polri hari ini juga menyerahkan delapan jenazah korban Sriwijaya Air yang sebelumnya telah teridentifikasi.

Mereka adalah Agus Minardi, Pipit Piyono, Ihsan Adhlan Hakim, Isti Yuda Prastika, Dinda Amelia, Puteri Wahyuni, Yohanes Suherdi dan Indah Halimah Puteri.

"Delapan jenazah ini telah diterima keluarganya untuk dimakamkan," ujar Rusdi.

Dengan bertambahnya tujuh jenazah yang teridentifikasi hari ini, maka sudah 24 jenazah yang sudah diperiksa oleh Tim DVI Polri. 17 jenazah korban Sriwijaya Air SJY 182 lainnya yang sudah teridentifikasi adalah Ricko, Ihsan Adhlan Hakim, Supianto, Pipit Piyono, pramugari Sriwijaya Air Mia Tresetyani Wadu dan Yohanes Suherdi.

Selanjutnya Kopilot Nam Air Fadly Satrianto, Asy Habul Yamin, Khasanah, pramugara Sriwijaya Air Okky Bisma, Indah Halimah Putri, Agus Minardi, Toni Ismail, Dinda Amelia, Isti Yuda Prastika, Putri Wahyuni dan Rahmawati.

16 Januari | 17.34 WIB: Boeing bantu KNKT identifikasi puing-puing pesawat Sriwijaya Air

Produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, ikut mengidentifikasi puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Hal itu diungkapkan investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) R Yunus Ardianto.

"Teman-teman kita dari penerbangan ini (Boeing) semua ingin bantu, mencari tahu apa yang menyebabkan kecelakaan ini bisa terjadi," kata Ardianto di Dermaga JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (16/1/2021) seperti dikutip dari ANTARA.

Memasuki hari ke delapan operasi SAR, delapan orang investigator memeriksa puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJY 182. Empat orang di antaranya merupakan investigator asing salah satunya dari Boeing.

Mereka tiba di Dermaga JICT sekitar pukul 13.15 WIB, didampingi KNKT. Selama sekitar 20 menit, mereka mengamati sejumlah puing pesawat Sriwijaya Air. Namun, tidak ada keterangan pers yang diberikan setelah meninjau puing pesawat.

16 Januari | 16.00 WIB: Bakamla cegat kapal Tiongkok saat pencarian Sriwijaya Air

Satu peristiwa yang tidak terduga terjadi ketika personel Badan Keamanan Laut (Bakamla) tengah melakukan operasi SAR pesawat Sriwijaya SJY 182 pada Rabu, 13 Januari 2021 pagi. Kapal Bakamla sempat intersep kapal survei berbendera Tiongkok di perairan Selat Sunda. 

Dikutip dari situs resmi Bakamla pada Sabtu (16/1/2021), kapal survei berbendera Tiongkok diketahui bernama Xiang Yang Hong 03 itu berlayar dengan kecepatan 10,9 knots dan haluan ke arah barat daya. 

"Berdasarkan pantauan, kapal itu telah mematikan AIS (Automatic Identifiation System) sebanyak tiga kali selama melintasi Alut Laut Kepulauan Indonesia-I (ALKI-I)," demikian isi keterangan tertulis di situs Bakamla. 

AIS merupakan sistem pelacak kapal otomatis yang memberikan informasi tentang keadaan kapal, baik posisi, waktu, haluan, maupun kecepatannya untuk kepentingan keselamatan pelayaran. 

"Xiang Yang Hong 03 telah mematikan AIS saat berada di Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan dan Selat Karimata. Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 7 Tahun 2019 mengenai pemasangan dan pengaktifan sistem identifikasi otomatis bagi kapal yang berlayar di wilayah perairan Indonesia 20 Februari 2019, maka setiap kapal berbendera Indonesia dan asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan AIS," sebut Bakamla. 

Sea glider atau drone bawah laut yang baru-baru ini juga ditemukan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada akhir Desember 2020 hingga kini masih diselidiki asal usulnya. Alat tanpa awak itu disebut-sebut digunakan untuk survei bawah laut, yang dikendalikan jarak jauh melalui kapal.

16 Januari | 15.30 WIB: Penyelam Polri Evakuasi 44 Kantong Berisi Barang Pribadi Penumpang

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Keterangan pers Menhub BKS dan Tim Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY182 pada Selasa (12/1/2021) (IDN Times/Shemi)

Tim penyelam Polri berhasil mengevakuasi 44 kantong berisi barang pribadi penumpang dan kru hingga serpihan pesawat Sriwijaya Air SJY 182 yang jatuh di sekitar Pulau Laki dan Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (9/12021).

Berdasarkan data yang tercatat di Kapal Polisi (KP) Bisma 8001, sebanyak 28 temuan berupa barang pribadi milik penumpang serta kru pesawat dan 16 temuan bagian jazad korban.

Pada pencarian hari kedelapan atau Sabtu (16/1/2021), tim penyelam Polri menemukan puing pesawat berupa plat seng bagian pesawat, plat "emergency exit", dan tabung kelistrikan. Selain itu ditemukan pula pakaian penumpang berupa celana jeans dan celana anak.

15 Januari | 19.50 WIB: Suami Istri Korban Sriwijaya Air SJY 182 Teridentifikasi

Jenazah Toni Ismail (59) dan Rahmawati (59) teridentifikasi. Mereka adalah pasangan suami istri yang menjadi korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

“Jadi kami ambil sampel DNA dari anak korban. Dan analisa DNA anak bawa separuh DNA orang tua,” kata Pusdokkes Polri Kombes Pol. dr Ratna di RS Polri, Jumat (15/1/2021).

Sementara itu, tiga anggota keluarga Toni lainnya yang turut menjadi korban pesawat dengan rute Jakarta-Pontianak belum teridentifikasi.

Diketahui, Toni dan istri Toni, Rahmawati membawa pula tiga anggota keluarganya yaitu Yumna Fanisyatuzahra, Ratih Windania, dan Athar Rizki dalam penerbangan Jakarta- Pontianak tersebut.

“Anak perempuan dan cucu jadi korban,” ujar Ratna.

15 Januari | 19.39 WIB: Sampel DNA keluarga korban Sriwijaya Air sudah lengkap

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur membuka Posko Ante Mortem Disaster Victim Identification (DVI) bagi keluarga penumpang Sriwijaya Air SJY182 yang belum ditemukan (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Rusdi Hartono mengatakan, hingga Jumat (15/1/2021), RS Polri telah menerima 140 sampel DNA keluarga korban Sriwijaya Air SJ 182. Dengan demikian, seluruh sampel sudah lengkap.

“(Terdapat) 140 sampel untuk 62 korban. Jadi sudah lengkap sampel DNA untuk seluruh korban,” ujar Rusdi di RS Polri, Jakarta Timur, Jumat (15/1/2021).

Sementara, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri juga kembali mengidentifikasi lima jenazah korban Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu, 9 Januari 2021.

“Kami berhasil mengidentifikasi lima korban. Yaitu Toni Ismail (59), Dinda Amelia 16, Isti Yuda Prastika, Putri Wahyuni (25), dan Rahmawati (59),” kata Rusdi.

Selain lima jenazah yang teridentifikasi hari ini, RS Polri juga sudah telah mengidentifikasi 12 jenazah lainnya sebelumnya. Dengan begitu, total jenazah yang teridentifikasi ada 17 jenazah.

Ke-12 jenazah lainnya yang sudah teridentifikasi adalah Kopilot Nam Air Fadly Satrianto, Asy Habul Yamin, Khasanah, pramugara Sriwijaya Air Okky Bisma, Indah Halimah Putri, Agus Minardi, Ricko, Ihsan Adhlan Hakim, Supianto, Pipit Piyono, Mia Tresetyani, dan Yohanes Suherdi.

15 Januari | 19.28 WIB: Total 17 jenazah korban Sriwijaya Air teridentifikasi

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Rusdi Hartono mengatakan, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri kembali mengidentifikasi lima jenazah korban Sriwijaya Air SJY 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu, 9 Januari 2021. Dengan demikian, RS Polri telah mengidentifikasi 17 korban pesawat Sriwijaya Air.

“Kami berhasil mengidentifikasi lima korban. Yaitu Toni Ismail (59), Dinda Amelia 16, Isti Yuda Prastika, Putri Wahyuni (25), dan Rahmawati (59),” kata Rusdi di RS Polri, Jakarta Timur, Jumat (15/1/2021).

Selain lima jenazah yang teridentifikasi hari ini, RS Polri juga sudah mengidentifikasi 12 jenazah lainnya sebelumnya, yakni Kopilot Nam Air Fadly Satrianto, Asy Habul Yamin, Khasanah, pramugara Sriwijaya Air Okky Bisma, Indah Halimah Putri, Agus Minardi, Ricko, Ihsan Adhlan Hakim, Supianto, Pipit Piyono, Mia Tresetyani, dan Yohanes Suherdi.

Rusdi menjelaskan, hingga sore ini RS Polri telah menerima 155 kantong jenazah, dan 140 sampel DNA penumpang pesawat Sriwijaya Air. “Jadi sudah lengkap sampel DNA untuk seluruh korban,” ujar dia.

 

15 Januari | 19.01 WIB: Jenazah korban Sriwijaya Air Ricko Mahulette diserahkan ke keluarga

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri menyerahkan jenazah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJY 182 atas nama Ricko Mahulette ke keluarganya. Jenazah Ricko sebelumnya teridentifikasi berdasarkan pemeriksaan DNA pada Kamis (14/1/2021).

"Terima Kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam maksimal, khususnya Tim DVI di Rumah Sakit Polri. Semua pelayanan yang sudah diberikan betul-betul membantu keluarga untuk dapat selanjutnya melaksanakan proses pemakaman kekasih kami Ricko di Makassar," kata Pendeta Betty Kailola di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (15/1/2021).

RS Polri sebelumnya memastikan jenazah Ricko teridentifikasi lewat pemeriksaan DNA keluarga. Hal itu disampaikan Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombes Pol. dr Ratna saat konferensi pers di RS Polri, Kamis kemarin.

"Ricko teridentifikasi sebagai anak biologis dari Bapak Damianus Mahulette," ucap dia.

Sebelumnya, RS Polri pagi tadi menyerahkan jenazah Kopilot Nam Air Fadly Satrianto ke keluarganya. Dua jenazah korban yang berhasil teridentifikasi sebelumnya juga sudah diserahkan ke keluarganya. Mereka adalah pramugara Sriwijaya Air atas nama Okky Bisma dan Asy Habul Yamin.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Rusdi Hartono mengatakan, Tim DVI Polri Kamis kemarin menerima 139 kantong jenazah. Per hari ini, pihaknya menerima 16 kantong jenazah baru.

"Sampai jam 09.00 WIB, kami telah dapatkan sebanyak 155 kantong jenazah dan masih proses untuk mendapatkan data-data," kata Rusdi di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, hari ini.

15 Januari | 18.31 WIB: CVR Sriwijaya Air ditemukan dalam kondisi hancur

Kadispen Koarmada I Letkol Fajar mengatakan, pihaknya telah menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) Sriwijaya Air SJY 182. Kendati demikian, kondisinya dalam keadaan hancur.

“CVR kan ada rangkaiannya, kondisi barangnya itu hancur, pecah, dalam kondisi terburai (saat ditemukan),” kata Letkol Fajar saat dihubungi IDN Times, Jumat (15/1/2021).

Dia menjelaskan, CVR yang ditemukan tersebut hanya bagian bodinya saja. Sementara memori yang ada di dalam CVR tersebut belum ditemukan karena bagian bodinya yang terpecah.

“Yang ditemukan itu adalah bagian bodinya (tapi kondisi) terpecah. Yang diperlukan itu kan memorinya belum (ketemu),” ujarnya.

Sampai hari ini pihak TNI AL masih terus berupaya mencari memori CVR tersebut. Operasi SAR pun sudah diperpanjang hingga Senin, 18 Januari 2021.

“Proses pencarian masih terus dilakukan. Enggak cuma memori, tapi barang yang bisa dibuat petunjuk, analisa investigasi kecelakaan masih terus dicari,” tuturnya.

15 Januari | 18.21 WIB: TNI AL sebut memori CVR black box Sriwijaya Air terkubur lumpur di laut

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Beberapa temuan barang dan serpihan yang berasal dari Pesawat Sriwijaya Air SJ182 (Dok. Basarnas)

Panglima Koarmada I TNI AL, Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid mengungkapkan pihaknya kesulitan menemukan memory dari Cockpit Voice Recorder (CVR). Rasyid mengatakan memori VCR terkubur dalam lumpur di laut.

"Kita dari pagi sudah cari namun kesulitannya ada. Visibility di bawah air terbatas," kata Rasyid di KRI Riegel, Jumat (15/1/2021).

Meski begitu, Rasyid mengatakan TNI AL pada pukul 12.05 WIB sudah menemukan cassing dari VCR. Ia juga tidak bisa memastikan apakah memory VCR tersebut masih dalam keadaan utuh atau tidak.

"Kita gak bisa berandai-andai. Itu tahan benturan. Jadi belum pernah ditemukan tidak utuh khususnya memory dari VCR," ujarnya.

15 Januari | 17.38 WIB: Basarnas terima 252 kantong jenazah korban Sriwijaya Air

Badan SAR Nasional (Basarnas) hingga Jumat (15/1/2021) telah mengumpulkan 252 kantong berupa bagian tubuh korban. Di mana 13 di antaranya ditemukan pada hari ini.

"Penyelam dari Basarnas menemukan 13 kantong body part karena cuaca yang mendukung. Dan nanti akan ada lagi penemuan yang sedang dibawa di kapal, sebentar lagi akan masuk," kata Direktur Operasi Basarnas Rasman MS di Pelabuhan JICT II, Jakarta Utara Jumat (15/1/2021).

Selain itu, hingga saat ini Basarnas juga telah mengumpulkan 40 kantong bagian pesawat kecil dan 33 kantong bagian pesawat besar.

15 Januari | 14.07 WIB: Basarnas perpanjang tiga hari pencarian korban Sriwijaya Air

Badan SAR Nasional (Basarnas) memperpanjang tiga hari operasi pencarian korban dan badan pesawat Sriwijaya Air SJY 182, yang diduga jatuh di Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu, 9 Januari 2021.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito mengatakan, perpanjangan operasi tersebut berdasarkan keputusan bersama dengan Kementerian Perhubungan.

“Siang ini diputuskan bahwa operasi SAR gabungan dalam rangka pencarian atau evakuasi Sriwijaya Air SJY 182 saya perpanjang tiga hari,” kata Bagus di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jumat (15/1/2021).

Sementara, Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama Rasman, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan, menurut Undang-Undang No 99 Tahun 2014, waktu pencarian dan pertolongan hanya tujuh hari sejak terjadinya peristiwa bencana.

“Perpanjangan berapa harinya melihat situasi dan kondisi. Kemudian karena kita masih konsentrasi untuk mendapatkan korban kemudian juga Cockpit Voice Recoder (CVR) belum kita dapatkan, begitu juga puing-puing (pesawat),” kata Rasman.

Rasman merinci, hingga hari ke-7 pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJY 182, Basarnas sudah mengumpulkan 239 kantong jenazah dan 40 bagian kecil pesawat, serta 33 bagian besar pesawat.

“Untuk yang terlibat langsung atau tidak langsung, yaitu kapal 62, alutsista kecil 21 berupa sea rider, jetski. Pesawat udara jadi 13, ambulance 37, dan personel 4.132,” ujarnya.

15 Januari | 13.55 WIB: Mesin masih hidup sampai pesawat Sriwijaya Air membentur air

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengatakan pihaknya berhasil mengunduh data dari flight data recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air SJY 182 yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021). 

"Ada 330 parameter dan semua dalam kondisi baik. Saat ini sedang kita pelajari," ujar Soerjanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (15/1/2021).

Soerjanto mengatakan, berdasarkan data ADS-B dan wreckage engine, kedua mesin pesawat ternyata masih masih beroperasi atau hidup sampai pesawat membentur air. 

Sebelumnya Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Capt. Nurcahyo Utomo, menerangkan pihaknya telah menerima CSMU (Crash Survivable Memory Unit).

"CSMU merupakan bagian dari kotak hitam yang paling tahan benturan dan tahan panas hingga suhu 1.000 derajat celsius selama 1 jam," katanya.

Sebelum proses pengunduhan data, perlu ada treatment khusus yang harus dilakukan, seperti membersihkan unit memori dari kotoran dan sisa-sisa garam yang menempel karena terendam air laut.

Saat ini, KNKT masih menunggu pencarian CVR (Cockpit Voice Recorder) yang masih dilakukan Tim Gabungan. CVR merupakan salah satu bagian penting kotak hitam lainnya karena berisi percakapan di dalam kokpit.

15 Januari | 09.30 WIB: Pencarian Sriwijaya Air SJY 182 diperluas ke Pulau Untung Jawa

[LINIMASA] Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJY 182Tim Penyelam yang ditugaskan untuk mencari bagian bodi pesawat Sriwijaya Air SJY 182 pada Selasa (12/1/2021) (IDN Times/Aldila Muharma)

Badan SAR Nasional (Basarnas) memperluas pencarain korban dan serpihan pesawat Sriwijaya Air SJY 182 hingga ke Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama Rasman, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) menjelaskan, perluasan pencarian mengikuti arah angin yang berembus dari Barat ke Selatan. Kemungikanan korban dan serpihan pesawat bergeser hingga ke Pulau Untung Jawa.

“Kalau kemarin Pulau Lancang dan Laki, akan perluas ke sekitar Pulau Untung Jawa, Pulau Rambut, Pulau Bokor, kemungkinan ada yang sekitar pulau itu,” kata Rasman di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/1/2021).

Selain pencarian dasar laut, Basarnas juga akan memperluas operasi pencarian udara dengan mengerahkan 13 pesawat terbang di sekitar pulau tersebut. Adapun fokus pencarian Basarnas hari ini adalah menemukan korban dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Baca Juga: KNKT: Pesawat Sriwijaya Air SJY 182 Tak Meledak Sebelum Membentur Air

Topic:

  • Dwi Agustiar
  • Rochmanudin
  • Sunariyah
  • Anata Siregar
  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya