Elektabilitas Potensial, Gibran Bisa Jadi Cawapres Penantang Prabowo?

- Elektabilitas Gibran tertinggi dalam survei top of mind Indekstat
- Gibran masih berpotensi sebagai cawapres 2029, tergantung dukungan struktural dan daya tawar elektoral
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, meraih elektabilitas tinggi jelang Pemilu 2029. Capaian Gibran itu terekam dalam hasil survei lembaga Indekstat tentang dinamika politik nasional pada awal tahun 2026.
Gibran mendapat elektabilitas tertinggi dalam survei terbuka (top of mind), di mana responden dibebaskan memilih siapa saja tokoh cawapres yang akan maju. Putra sulung Presiden ke-7 RI, Joko "Jokowi" Widodo itu mendapat elektabilitas 21,1 persen. Dia mengalahkan tokoh potensial lainnya seperti Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi 16,9 persen; Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa 11,5 persen; Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono 6,6 persen; Anies Baswedan 4,3 persen; Mahfud MD 3,3 persen; Andika Perkasa 2,4 persen; dan nama-nama lainnya.
Lantas bagaimana peluang Gibran sebagai cawapres pada 2029, apakah berpotensi maju sekaligus jadi penantang Presiden RI, Prabowo Subianto jika kembali maju sebagai capres petahana?
1. Popularitas dan elektabilitas Gibran memumpuni, tapi bergantung keputusan elite politik

Head of Politic Indekstat, Saiful Muhjab, mengatakan, Gibran secara elektabilitas memang masih memenuhi kapasitas sebagai cawapres sehingga dianggap sebagai figur yang secara persepsi sudah memenuhi ambang psikologis sebagai kandidat nasional.
Namun Saiful tak memungkiri, modal popularitas dan elektabilitas bukan jadi penentu utama figur bisa ikut kontestasi dalam pemilu. Menurut dia, majunya Gibran sebagai cawapres juga bergantung pada keputusan elite dan dinamika politik. Mengingat Gibran hingga saat ini masih belum memiliki kendaraan politik. Dia belum tercatat sebagai kader dari partai politik mana pun.
"Tapi kita tau bahwa di Indonesia seringkali popularitas dan elektabilitas saja tidak cukup dan bahkan bukan penentu akhir. Seringkali penentu akhirnya justru konfigurasi koalisi elit dan kondisi politik nasional secara khusus," kata dia kepada IDN Times, Sabtu (14/2/2026).
2. Gibran masih berpotensi jadi cawapres, termasuk jadi penantang Prabowo sebagai petahana

Saiful menuturkan, Gibran saat ini bukan dalam posisi tersingkir atau terkunci. Dia menilai, Gibran masih berpotensi sebagai cawapres pada Pemilu 2029, termasuk maju jadi penantang Prabowo.
Peluang itu bisa dicapai dengan catatan, Gibran bisa mempertahankan elektabilitas dan menyodorkan mahar berupa daya tawar elektoral bagi parpol.
"Peluang Gibran tetap besar entah jadi penantang atau cawapres petahana, asalkan Gibran mampu mengamankan dukungan struktural, menjaga elektabilitas dan semakin meningkatkan daya tawar elektoral effect bagi partai-partai yang dia anggap mampu jadi kendaraannya pada 2029," kata dia.
3. Elektabilitas cawapres 2029 berdasarkan survei Indekstat

Berikut ini elektabilitas cawapres 2029 dalam survei top of mind Indekstat:
1. Gibran Rakabuming Raka – 21,1 persen
2. Dedi Mulyadi – 16,9 persen
3. Purbaya Yudhi Sadewa – 11,5 persen
4. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) – 6,6 persen
5. Anies Baswedan – 4,3 persen
6. Mahfud MD – 3,3 persen
7. Andika Perkasa – 2,4 persen
8. Ganjar Pranowo – 2,3 persen
9. Basuki Tjahaja Purnama – 1,9 persen
10. Sandiaga Uno – 1,7 persen
11. Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) – 1,7 persen
12. Erick Thohir – 1,1 persen
13. Khofifah Indar Parawansa – 0,6 persen
14. Pramono Anung – 0,5 persen
15. Prabowo Subianto – 0,4 persen
16. Sherly Tjoanda – 0,2 persen
17. Salim Segaf Al Jufri – 0,0 persen
18. Al Muzammil Yusuf – 0,0 persen
19. Rahasia – 2,7 persen
20. TT/TJ (tidak tahu/tidak jawab) – 18,5 persen
21. Lainnya – 2,4 persen
Survei ini diselenggarakan dengan rentang pengumpulan data pada 11 sampai 25 Januari 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi secara proporsional dengan margin of error (MoE) sebesar 2,9 persen.
Populasi survei ini adalah warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang telah memiliki hak pilih. Survei ini dirancang untuk memetakan persepsi publik berkaitan dengan dinamika sosial serta peta elektoral pada awal tahun 2026.

















