Fakta-Fakta di Balik Keterlibatan Indonesia di UNIFIL

- Tiga prajurit TNI gugur dalam insiden di wilayah UNIFIL Lebanon, saat situasi keamanan memanas akibat saling serang artileri antara pihak-pihak di perbatasan Lebanon–Israel.
- Sejak 2006, Indonesia rutin mengirim Kontingen Garuda ke UNIFIL dan kini menjadi salah satu kontributor terbesar dengan lebih dari 1.200 personel aktif menjaga perdamaian di Lebanon.
- Keterlibatan Indonesia di UNIFIL berlandaskan mandat PBB dan amanat konstitusi, dengan pembiayaan melalui skema reimbursement PBB serta koordinasi anggaran oleh Kementerian Pertahanan dan Keuangan.
Jakarta, IDN Times – Nama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali jadi sorotan di tengah konflik di perbatasan Lebanon–Israel. Insiden terbaru terjadi saat eskalasi keamanan di wilayah tersebut memicu korban dari prajurit TNI.
Berdasarkan keterangan resmi TNI, insiden di wilayah penugasan UNIFIL Lebanon menyebabkan tiga prajurit TNI gugur, dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa itu terjadi di tengah situasi saling serang artileri yang masih berlangsung, dan proses klarifikasi masih dilakukan pihak UNIFIL.
Peristiwa ini kembali mengingatkan publik pada peran panjang Indonesia dalam misi penjaga perdamaian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Berikut fakta penting terkait keterlibatan TNI dalam misi UNIFIL:
1. Indonesia kirim pasukan sejak 2006, berawal dari konflik Israel–Hizbullah

Indonesia mulai berpartisipasi dalam misi UNIFIL pada 2006, usai pecah konflik besar antara Israel dan Hizbullah yang mendorong Dewan Keamanan PBB memperkuat mandat melalui Resolusi 1701.
Pengiriman ini dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejak saat itu, Indonesia secara konsisten mengirim Kontingen Garuda (Konga) setiap tahun, sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia.
Keterlibatan ini juga merupakan kelanjutan dari peran aktif TNI dalam misi PBB sejak 1957 di berbagai negara seperti Mesir, Kongo, hingga Sudan. Dalam konteks UNIFIL, Indonesia bahkan berkembang menjadi salah satu kontributor utama.
Tak hanya pasukan darat, sejak 2009 Indonesia juga mengirimkan unsur Angkatan Laut melalui Maritime Task Force (MTF). Pasukan ini bertugas membantu Angkatan Laut Lebanon mengamankan wilayah perairan, mencegah penyelundupan senjata ilegal, serta menjaga stabilitas laut sesuai mandat PBB.
2. Sudah puluhan rotasi, Indonesia jadi salah satu penyumbang terbesar

Sejak pertama kali bergabung pada 2006, pengiriman pasukan TNI ke Lebanon dilakukan secara rutin setiap tahun, sehingga telah berlangsung puluhan rotasi Kontingen Garuda.
Jumlah personel yang dikirim juga terus signifikan. Indonesia menjadi kontributor terbesar untuk misi UNIFIL dengan mengirimkan lebih dari 1.200 personel pada April 2024. Kontribusi ini menempatkan Indonesia sebagai negara penyumbang pasukan terbanyak di misi UNIFIL, diikuti India dan Ghana.
Per Maret 2026, tercatat sekitar 755 prajurit TNI bertugas dalam misi UNIFIL. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar, bahkan bersaing dengan negara seperti Italia dan India.
Secara keseluruhan, UNIFIL merupakan salah satu misi penjaga perdamaian terbesar PBB, dengan lebih dari 10 ribu personel dari sekitar 50 negara. Negara-negara seperti Indonesia, Italia, India, hingga Nepal menjadi kontributor utama.
Selain jumlah, kualitas prajurit Indonesia juga kerap mendapat pengakuan internasional. Dalam beberapa kesempatan, pasukan TNI menerima penghargaan Medali PBB atas profesionalisme mereka. Bahkan pada 2020, prajurit Indonesia dilaporkan berhasil mencegah eskalasi konflik dengan mengadang pergerakan tank militer Israel.
3. Mandat perdamaian dunia, biaya ditanggung PBB dengan skema khusus

Keikutsertaan Indonesia dalam UNIFIL didasarkan pada amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia dan perdamaian internasional.
UNIFIL sendiri dibentuk pada 1978 melalui Resolusi DK PBB 425 dan 426, dengan mandat awal memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon, serta membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritasnya. Mandat ini kemudian diperluas pada 2006 melalui Resolusi 1701, mencakup tugas tambahan seperti:
1. Mengawasi penghentian permusuhan.
2. Mendukung pasukan Lebanon (LAF) dalam mengamankan wilayah perbatasan selatan.
3. Membantu memastikan wilayah antara Blue Line dan Sungai Litani bebas dari personel bersenjata non-pemerintah.
Dari sisi pembiayaan, misi UNIFIL didukung PBB melalui mekanisme reimbursement. Artinya, negara kontributor seperti Indonesia akan mendapatkan penggantian biaya operasional, logistik, hingga perlengkapan selama menjalankan misi.
Meski begitu, pemerintah Indonesia tetap menyiapkan anggaran awal untuk persiapan dan pemberangkatan pasukan. Hal ini diatur dalam Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 2006, yang menyebut Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan berkoordinasi dalam penyiapan anggaran serta proses reimbursement kepada PBB, atas biaya operasional Kontingen Garuda di Lebanon.



















