Hati-Hati! Sebar Hoaks Terkait Virus Corona Akan Ditindak Polisi

Jakarta, IDN Times - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol. Asep Adi Saputra, mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan menyebarkan informasi terkait virus corona COVID-19. Apalagi, menyebarkan informasi hoaks soal virus corona di media sosial.
"Kita setiap hari melakukan patroli siber di dunia maya. Kalau ditemukan adanya hoaks, kita tidak ragu menindak," ujar Asep di Mercure Hotel Ancol, Jakarta Utara, Selasa (3/3).
1. Masyarakat diminta bijak dalam bermedia sosial

Asep mengatakan, masyarakat harus bijak dalam menggunakan media sosial. Masyarakat juga diminta untuk tidak langsung percaya jika menerima pemberitaan yang disebarkan orang lain.
"Ketenangan masyarakat saat ini dibutuhkan. Salah satunya dalam aspek pemberitaan," katanya.
2. Pelaku usaha jangan coba-coba memainkan harga

Isu virus corona juga berdampak bagi sektor kebutuhan saat ini yaitu masker. Masker yang biasanya bisa didapatkan dengan puluhan ribu, kini melonjak tinggi mencapai angka ratusan ribu. Asep mengimbau, pelaku usaha jangan coba-coba menaikkan harga masker. Termasuk juga harga bahan pokok.
"Karena secara esensial barang itu dibutuhkan dalam kondisi ini. Kalau pelaku usaha terbukti melakukan penimbunan, bisa ditindak dengan Undang-Undang (UU) Perdagangan Pasal 107, dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp50 miliar.
"Kita berharap, pelaku usaha ada kepedulian membantu. Masyarakat juga jangan panik menyikapi ini," ucapnya.
3. Polisi diturunkan untuk memantau pusat perbelanjaan

Sebelumnya, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri, Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo mengatakan, telah mengerahkan anggotanya untuk memantau pusat perbelanjaan. Hal ini sebagai buntut terjadinya panic buying di beberapa wilayah Indonesia.
"Khususnya dari reserse kita turunkan anggota ke sana, untuk jangan terjadi hal-hal kemudian berdampak kepada aksi-aksi bersifat kriminalitas," kata Listyo di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa pagi.
Polri, kata Listyo, telah memonitor beberapa wilayah yang terindikasi terjadi panic buying. Hal ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan dua WNI positif virus corona dan kini dirawat di RSPI Sulianti Saroso.
"Kami akan terus melaksanakan pengamanan, menjaga, dan menurunkan anggota di lapangan agar jangan sampai eskalasinya menjadi tidak bagus," ungkap Jenderal bintang tiga itu.
4. Terjadi panic buying di 6 kota pada Senin 2 Maret

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy N Mandey, membenarkan bahwa pada Senin (2/3) terjadi panic buying di masyarakat. Masyarakat menumpuk bahan makanan dipicu pernyataan Presiden Joko Widodo soal dua warga yang positif terkena virus corona.
Panic buying terjadi sejak Senin siang hingga sore di Jakarta, lalu menyebar ke kota lain seperti Surabaya.
"Lebih kurang 5-6 kota yang terjadi gejolak ini. Tapi kita dengan seluruh deputi kabupaten kota berupaya untuk menenangkan masyarakat bahwa tidak perlu panic buying," kata Roy dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3).
Roy menambahkan, kini panic buying sudah tidak terjadi di masyarakat. "Sekarang masyarakat di kota tersebut sudah berbelanja dengan wajar," katanya.
Akibat panic buying, lanjut Roy, terjadi kenaikan harga rata-rata 10-15 persen. "Kami belum dapat data yang lebih detail kenaikan harga. Tapi kalau diambil rata-rata dari semua jenis retail, minimarket, supermarket, grosir, departement store gak akan lebih dari 10-15 persen," katanya.
Roy juga memastikan kini harga sudah normal kembali. "Masyarakat semakin smart, semakin mengerti penjelasan resmi dari pemerintah dapat mengedukasi masyarakat berbelanja dengan normal," katanya.
5. Aprindo pastikan anggotanya tidak naikkan harga

Selain itu, Aprindo juga memastikan mereka tidak menaikkan harga saat panic buying terjadi. Roy menjelaskan, Aprindo mempunyai supply chain yang baik dan jelas dari produsen hingga distributor.
"Di ritel modern kenaikan harga tidak semena-mena. Kita semua korporasi, kita punya sistem dan struktur. Kalau produsen dan distributor tidak ada eskalasi perubahan harga, maka ritel modern anggota Aprindo tidak ada perubahan harga, kami pastikan itu," kata Roy.
Diberitakan sebelumnya, Aprindo mengimbau masyarakat tidak panic buying, yaitu berbelanja dalam jumlah besar usai pemerintah mengumumkan ada dua korban virus corona di Indonesia.
"Aprindo berharap dan mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak melakukan panic buying akibat fobia, untuk berbelanja kebutuhan di toko-toko ritel modern," kata Roy.
Roy memastikan, anggota peritel Aprindo (toko modern) selalu siap untuk hadir dan mencukupi kebutuhan pangan maupun nonpangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Menurut dia, tindakan yang over atau berlebihan justru menimbulkan kepanikan atau fobia baru lainnya yang tidak perlu terjadi.
"Seluruh kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi dan tercukupi dengan baik," katanya.



















