Sumber tersebut mengatakan, delegasi Iran sebelumnya sudah berdiskusi dengan Houthi soal rencana penutupan Selat Bab el-Mandeb jika AS kembali menyerang. Houthi juga sudah menyetujui rencana tersebut. Ini merupakan bentuk solidaritas Houthi yang sudah lama menjadi sekutu setia Iran.
Iran Minta Houthi Tutup Selat Bab el-Mandeb jika AS Menyerang

- Iran meminta milisi Houthi menutup Selat Bab el-Mandeb jika AS menyerang pembangkit listrik mereka, sebagai bentuk solidaritas dan strategi pertahanan bersama.
- Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan serta pembangkit listrik Iran untuk memaksa Teheran kembali bernegosiasi, namun Iran menolak dan siap menghadapi perang panjang.
- Iran berencana menghentikan ekspor energi dari Timur Tengah jika diserang, memicu lonjakan harga minyak global hingga 12 persen akibat ketegangan yang terus meningkat.
1. Donald Trump mendesak Iran untuk melanjutkan negosiasi dengan AS

Pada Rabu (15/7/2026) lalu, Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menyerang semua jembatan dan pembangkit listrik milik Iran. Rencananya, ia akan melakukan serangan tersebut pada pekan depan.
Ancaman ini dilontarkan Trump untuk mendesak Teheran agar mau melanjutkan negosiasi dengan Washington. Sebab, pada 10 Juli lalu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pihaknya tidak akan melanjutkan negosiasi dengan AS.
Oleh karena itu, Trump mendesak Iran untuk berubah pikiran dan segera melanjutkan negosiasi dengan AS. Jika tidak, Trump menegaskan bahwa pasukan AS benar-benar akan menghancurkan semua jembatan dan pembangkit listrik milik Iran.
"Minggu depan keadaan akan sangat buruk bagi mereka (Iran). Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka, kecuali mereka mau duduk di meja perundingan," ujar Trump, seperti dilansir BBC.
2. Iran tetap ogah lanjut negosiasi dengan AS

Alih-alih gentar, Iran justru masa bodoh dengan ancaman AS. Mereka tetap ogah melanjutkan negosiasi karena dinilai akan sia-sia. Bahkan, Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan AS yang dicapai pada 17 Juli lalu sudah berakhir. Ia mengatakan Iran bersedia melakukan perang panjang dengan AS sampai mereka menyerah.
“Iran berada dalam perang penting dan eksistensial dengan Amerika (Serikat) dan tidak punya alasan untuk terus mematuhi ketentuan perjanjian perdamaian tersebut,” tegas Ghalibaf dilansir Al Jazeera.
3. Iran juga mengancam akan menyetop ekspor komoditas energi dari Timur Tengah

Selain menutup Selat Bab el-Mandeb, Iran juga berencana untuk menghentikan semua ekspor komoditas energi dari Timur Tengah ke pasar global, terutama minyak bumi, jika AS kembali menyerang. Rencana ini menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia. Sebab, harga minyak kini sudah melonjak usai Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 11 Juli lalu.
Menurut data terbaru dari Oil Price, pekan ini, harga minyak global sudah naik sebesar 12 persen. Ini merupakan kenaikan mingguan tertinggi sejak April lalu. Kenaikan harga minyak ini makin diperparah oleh serangan terbaru AS ke Iran yang dilakukan pada Jumat (17/7/2026).
Dalam serangan tersebut, Komando Tengah (CENTCOM) militer AS membombardir infrastruktur publik yang ada di Iran. Ini merupakan gelombang serangan AS yang ke-6 sejak mereka kembali terlibat bentrokan dengan Iran pada pekan lalu.




















