Jerman Dorong Uni Eropa Gantikan Misi UNIFIL di Lebanon

- Jerman mendesak Uni Eropa membentuk misi baru menggantikan UNIFIL di Lebanon setelah mandatnya berakhir 2026, guna mencegah kekosongan keamanan di wilayah selatan negara tersebut.
- Misi Eropa direncanakan fokus pada pelatihan dan dukungan taktis bagi militer Lebanon agar mampu menjaga stabilitas tanpa kehadiran langsung pasukan penjaga perdamaian PBB.
- Lebanon dan Israel melanjutkan pembicaraan damai di Roma untuk membentuk zona percontohan, dengan rencana penarikan bertahap pasukan Israel serta pelucutan senjata Hizbullah.
Jakarta, IDN Times – Jerman meminta Uni Eropa (UE) menyiapkan misi baru untuk menggantikan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) setelah mandatnya berakhir pada 31 Desember 2026. Usulan ini diajukan guna mencegah terjadinya kekosongan keamanan di wilayah selatan Lebanon saat operasi penjaga perdamaian PBB tersebut resmi berakhir.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyampaikan bahwa Berlin mendesak UE untuk mengkaji peluang pembentukan misi dengan mandat Eropa tersebut.
"Kita harus memeriksa di Uni Eropa apakah kita dapat memastikan bahwa tidak ada kekosongan keamanan yang muncul dengan mandat Eropa setelah misi UNIFIL," ujar Wadephul dalam wawancaranya bersama media Jerman, RedaktionsNetzwerk Deutschland, dikutip Al Jazeera, Jumat (17/7/2026).
1. Pasukan Eropa diproyeksikan mendukung militer Lebanon

Wadephul menjelaskan bahwa kehadiran pasukan Eropa dapat menciptakan kondisi yang aman bagi militer Israel untuk mundur dari wilayah selatan, sekaligus mencegah Hizbullah kembali melakukan aksi teror. Jerman sendiri baru saja memperpanjang partisipasi militernya dalam misi UNIFIL untuk terakhir kalinya beberapa pekan lalu.
Efektivitas UNIFIL, yang bertugas sejak invasi pertama Israel pada 1978, kerap dipertanyakan. Terlebih setelah pasukan infanteri Israel (IDF) bergerak maju sejauh 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon pada Mei lalu untuk membangun zona penyangga demi menghalau serangan Hizbullah.
Berbeda dengan model UNIFIL yang menempatkan pasukan penjaga perdamaian secara fisik di lapangan, pendekatan UE nantinya diperkirakan akan lebih berfokus pada pemberian bantuan pelatihan dan dukungan taktis agar militer Lebanon mampu mengamankan wilayahnya sendiri.
2. Lebanon mendukung peluang misi Eropa

Pemerintah Lebanon menyatakan dukungannya terhadap potensi misi yang dipimpin oleh UE ini. Wadephul menilai bahwa konsolidasi politik di Beirut saat ini menunjukkan sinyal positif bagi stabilitas kawasan.
"Lebanon, dengan pemerintahan yang stabil, merupakan salah satu perkembangan paling penuh harapan di kawasan saat ini," tuturnya.
Di sisi lain, upaya diplomatik yang dimediasi oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik terus berjalan, meskipun faksi Hizbullah yang didukung Iran sempat menaruh skeptisisme terhadap peran Washington.
3. Lebanon dan Israel lanjutkan pembicaraan damai di Roma

Melansir laporan Jerusalem Post, perwakilan diplomatik Lebanon dan Israel telah menyelesaikan putaran keenam pembicaraan tingkat duta besar di Roma, Italia. Pertemuan tersebut membahas rencana pembentukan "zona percontohan" di Lebanon selatan. Melalui skema ini, pasukan Israel akan ditarik mundur secara bertahap dengan imbalan pelucutan senjata Hizbullah di wilayah terkait.
Negosiasi ini menjadi bagian dari upaya meredakan perang baru yang pecah sejak 2 Maret 2026, yang dipicu oleh eskalasi konflik regional yang lebih luas. Melalui usulan keterlibatan UE, negara-negara Eropa berharap dapat berkontribusi langsung pada stabilitas Timur Tengah sekaligus menjaga hubungan bilateral dengan kedua negara secara seimbang.




















