Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Derita Perjuangan Caleg Muda Wan Aniska Maju DPR RI dari Dapil Riau 1

Derita Perjuangan Caleg Muda Wan Aniska Maju DPR RI dari Dapil Riau 1
Wan Aniska di Program Gen Z Memilih (Dok. IDN Times)

Jakarta IDN Times - Caleg muda DPR RI dari Partai Perindo untuk daerah pemilihan (Dapil) Riau 1, Wan Aniska, mengungkapkan alasan maju menjadi calon penyambung lidah rakyat di parlemen. Dia mengaku ingin memberdayakan perempuan-perempuan Indonesia, khususnya di dapilnya kelak.

Dapil Riau 1 mencakup daerah Kabupaten Siak, Kota Pekanbaru, Dumai, Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Bengkalis. 

Aniska menyampaikan visi misinya, di antaranya ingin mengadvokasi gerakan-gerakan pemerdayaan perempuan. Tidak hanya itu, mantan jurnalis televisi nasional itu juga mengungkapkan fakta-fakta lain terkait motivasinya menjadi caleg DPR RI. 

1. Mengalami stigma sebagai caleg muda dan perempuan

(IDN Times/Rochmanudin)
(IDN Times/Rochmanudin)

Aniska menyatakan berada di dalam partai politik adalah kerja untuk rakyat. Sebagai Jubir Tim Pemenang Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Aniska mengaku sebagai bagian dari kerja-kerja untuk rakyat. 

“Beliau (Ganjar-Mahfud) adalah salah satu contoh tauladan menurut saya yang memang bekerja dengan rakyat, dekat dengan rakyat, apapun yang dilakukan juga dekat dengan rakyat dan berdasarkan suara rakyat,” ujar Aniska dalam program talkshow pemilu dan politik episode ke-59 GenZMemilih by IDN Times, di kantor IDN Times, Rabu (7/2/2024). 

Aniska merasa mendapat stigma dari dua sisi identitasnya sebagai caleg muda perempuan. Pertama, menurutnya, stigma menjadi anak muda diterima kurang baik, dan kedua sebagai perempuan dituding hanya untuk memenuhi kuota di parlemen. 

“Permasalahannya ini sebenarnya double, anak muda dan perempuan, luar biasa banget di lapangan itu aku hadapin stigma anak mudanya, itu kurang diterima dengan baik dan perempuannya. Lu kayaknya cuman memenuhi kouta perempuan, kurang dipertimbangkan,” ujar dia. 

Aniska juga mengaku kerap diremehkan senior-seniornya dan mengkonklusikan stigmanya sebagai perempuan karena budaya yang patriarkis.

2. APK dirusak di dapilnya

Wan Aniska di Gen Z memilih IDN Times (IDN Times/Youtube.com)
Wan Aniska di Gen Z memilih IDN Times (IDN Times/Youtube.com)

Aniska menjelaskan senior dan anak muda mempunyai isu-isu yang relatif berbeda. Salah satu yang difokuskan sebagai anak muda adalah perempuan, karena menurut Aniska setengah populasi pemilih adalah perempuan.

Nyatanya, menurut Aniska, sampai sekarang masih banyak anggota parlemen dan legislatif yang belum mampu mengurusi isu perempuan.

“Aku maaf banget nih anggota parlemen, anggota legislatif yang sekarang tuh tidak bisa mampu menyelesaikan isu perempuan dengan maksimal, dan aku sebagai perempuan concern dengan itu ini kayaknya harus memberikan efek jera,” sebut dia. 

Aniska pun mengingatkan agar jangan melihat seseorang dari umur atau pun gender, tetapi melihat yang diberikan dan diusahakan.

Dia menceritakan pengalamannya terkait gender di dapilnya sendiri. Bahkan, Alat Peraga Kampanye (APK)-nya dirusak. 

“Baliho nih contohnya baliho dan itu di sekelilingnya itu baliho orang-orang yang usianya udah lebih tua, terus incumbent. (Baliho saya) kemudian dicoret-coret dengan tulisan-tulisan, dia merusak tapi tulisannya 'eh bodynya cantik ya',” ujar Aniska. 

Aniska tak habis pikir dengan aksi tersebut. “Kalian selalu beranggapan kalau kita gak mampu, tapi dengan APK aja kalian merasa terancam nih,” katanya.

3. Aniska punya tagline terkait pemberdayaan perempuan

Wan Aniska di GenZmemilih by IDN Times (IDN Times/Youtube.com)
Wan Aniska di GenZmemilih by IDN Times (IDN Times/Youtube.com)

Maju sebagai caleg muda perempuan untuk DPR RI, Wan Aniska mempunyai tagline Perempuan Berdaya Tidak Akan Mudah Diperdaya. Menurut Aniska sebagai seorang perempuan harus berdaya.

“Kita sebagai perempuan harus berdaya,” sebut Aniska.

Aniska juga melihat sila kelima Pancasila ke-5, yakni "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" belum dirasakan masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan masyarakat adat sampai sekarang belum mendapatkan hak keadilan mereka. 

“Karena ada undang-undang nih yang belum disahkan udah masuk prolegnas dari 2013, itu undang-undang masyarakat adat, tapi gak tahu. Padahal sudah memenuhi tatanan untuk bisa disahkan, tapi sampai sekarang belum disahkan (DPR RI),” ujarnya. 

Aniska juga melihat populasi masyarakat adat relatif banyak dan mempunyai peran penting di Indonesia, seperti di Riau dalam menjaga hutan, sehingga dapat mitigasi dan meminimalisir kabut asap.

 

Baca berita terbaru terkait Pemilu 2024, Pilpres 2024, Pilkada 2024, Pileg 2024 di Gen Z Memilih IDN Times. Jangan lupa sampaikan pertanyaanmu di kanal Tanya Jawab, ada hadiah uang tunai tiap bulan untuk 10 pemenang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
Irsan Rufai Hamdalah
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Related Articles

See More

Ini Daftar Pasal dari Aturan Turunan UU TNI yang Dianggap Bermasalah

25 Apr 2026, 18:54 WIBNews