Isak Tangis Warga RDF Rorotan di Depan Pramono: Kami Tak Ingin Sakit

- Bau RDF Rorotan belum sepenuhnya hilang, Nadine menyela pertanyaan soal penghentian operasional.
- Dampak RDF Rorotan tidak hanya fisik namun juga mental, warga menangis dan meminta operasional ditutup.
- Warga minta RDF Rorotan ditutup meskipun Pramono menawarkan kompensasi dan mengingatkan biaya pembangunan.
Jakarta, IDN Times – Suara Nadine bergetar sebelum akhirnya meninggi. Di hadapan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, warga Rorotan itu tak lagi sekadar menyampaikan keluhan, tetapi menumpahkan kegelisahan yang selama berbulan-bulan dipendam.
Momen itu terjadi saat Pramono menanggapi pertanyaan IDN Times terkait dampak operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan yang hingga kini masih menimbulkan masalah, termasuk gangguan kesehatan bagi warga sekitar.
Dalam kesempatan itu, Pramono menyatakan operasional RDF Rorotan akan dihentikan sementara apabila masih meresahkan masyarakat.
"Untuk sementara ini saya minta untuk disetop. Mudah-mudahan ini bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan,” ujar Pramono usai meresmikan Taman Roci (Rorotan–Cilincing) Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2025).
1. Bau RDF Rorotan belum sepenuhnya hilang

Namun, Nadine yang berada di tengah-tengah awak media langsung menyela. Ia ingin kepastian. Bau menyengat dari operasional RDF Rorotan belum juga benar-benar hilang.
“Pak, disetop sampai kapan ya, Pak? Kemarin masih bau soalnya,” katanya, suaranya meninggi.
"Iya, pokoknya kita setop dulu karena memang problemnya itu di transportasinya," ucap Pramono menanggapi.
2. Dampak RDF Rorotan tidak hanya fisik namun mental

Pramono menjelaskan persoalan utama RDF Rorotan berada pada sistem transportasi sampah. Operasional dihentikan untuk sementara waktu, tanpa batas yang jelas. Jawaban itu justru membuat emosi Nadine runtuh. Tangisnya pecah.
Di hadapan para pejabat, ia berbicara tentang beban yang harus ditanggung warga tentang kesehatan, biaya berobat yang harus dikeluarkan sendiri. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
“Kalau terus begini sampai menimbulkan mental, Pak. Kita sakit, biaya berobat juga kita bayar sendiri,” ucapnya terisak.
3. Warga minta RDF Rorotan ditutup

Pramono mencoba menenangkan suasana. Ia menyebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa bertanggung jawab jika memang ada biaya yang timbul akibat persoalan tersebut. Namun bagi Nadine, itu bukan jawaban yang mereka harapkan. Mereka tidak ingin kompensasi. Mereka ingin berhenti sakit.
"Kami enggak mau sakit, Pak. Kenapa harus kita yang sakit? Kita minta RDF itu ditutup. Beneran. Tolong dimatikan RDF ini. Kalau memang ada korupsi, diusut saja korupsinya," ucapnya dengan suara bergetar.
Pramono mengingatkan bahwa RDF Rorotan dibangun sebelum masa kepemimpinannya dan menelan biaya besar.
“RDF ini dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, problemnya akan jauh lebih rumit lagi,” katanya.
Ia juga menyebut telah beberapa kali bertemu warga untuk mendengar keluhan secara langsung.
“Saya ingat kita sudah dua kali ketemu. Semua persoalan masyarakat saya dengarkan,” ujarnya singkat.
4. Bau RDF dari air yang jatuh saat diangkut ke RDF Rorotan

Pramono menegaskan bahwa persoalan utama operasional RDF Rorotan bukan terletak pada fasilitas pengolahannya, melainkan pada sistem transportasi sampah.
Menurut Pramono, masalah muncul saat proses pengangkutan sampah menuju RDF Rorotan. Air lindi dari sampah yang diangkut menetes selama perjalanan dan menimbulkan bau, sehingga memicu protes warga sekitar.
“Jadi yang untuk RDF Rorotan, memang problem utamanya adalah angkutan. Jadi sekarang ini begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes, inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat,” ujar Pramono.









![[QUIZ] Seberapa Jauh Kamu Mengenal Presiden Prabowo Subianto?](https://image.idntimes.com/post/20250909/upload_a01f4c8510c865e2b451d8603fff8c80_7a0bc84e-b1d5-447e-a26b-e008c1990fd7.jpg)








