Aktivis Doa Bersama untuk Andrie Yunus, Desak Usut Tuntas Pelaku

- Aksi Kamisan menggelar doa bersama di depan Komnas HAM untuk Andrie Yunus, aktivis KontraS yang diserang air keras, dihadiri banyak anak muda berpakaian hitam.
- Para aktivis bergantian berorasi menuntut keadilan dan mendesak aparat segera mengusut tuntas pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie tanpa penundaan.
- Fatia Maulidiyanti dari TAUD meminta Presiden Prabowo membentuk tim independen guna memastikan pengungkapan kasus secara transparan dan akuntabel demi keadilan bagi Andrie.
Jakarta, IDN Times - Aksi Kamisan menggaet sejumlah organisasi dan aktivis Tanah Air menggelar Doa Bersama, untuk aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang mengalami penyerangan dengan air keras pada Kamis, 12 Maret 2026.
Acara tersebut digelar di depan Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026) pukul 20.00 WIB. Dari pantauan IDN Times, acara itu didominasi anak muda dengan pakaian bernuansa hitam.
Tampak flyer dan poster yang menyuarakan keadilan untuk Andrie dipajang di area berkumpul para aktivis.
1. Desak usut tuntas pelaku penyiraman air keras ke Andrie

Berbagai aktivis dari berbagai lembaga menyampaikan orasi yang menuntut keadilan dalam acara itu. Secara silih berganti, mereka menyoroti lambatnya proses pengusutan pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS itu.
“Kami mengutuk dan mendesak aparat mengungkap siapa intelektual yang menyebabkan Andrie hari ini terkapar di rumah sakit!” seru Dewan Buruh Nasional Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Nining Elitos.
2. Lagu Di Udara Efek Rumah Kaca berkumandang

Para aktivis juga sempat melantunkan lagu berjudul Di Udara karya band Efek Rumah Kaca. Lagu yang menyuarakan keberanian untuk melawan meski teror mengancam itu, dinyanyikan sebagai bentuk dukungan kepada Andrie.
“Ku bisa dibuat menderita. Aku bisa dibuat tak bernyawa. Di-kursilistrikkan atau pun ditikam. Tapi aku tak pernah mati. Tak akan berhenti,” nyanyi para aktivis di depan kantor Komnas HAM.
3. Desak Prabowo bentuk tim independen pengungkap faka

Sementara, Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD), Fatia Maulidiyanti, yang turut hadir dalam doa bersama itu mendesak kepolisian mengusut pelaku penyiraman, tanpa mengulur-ngulur waktu lagi. Menurutnya proses pengusutan bisa berjalan lebih cepat, melihat berbagai fasilitas yang dimiliki pihak kepolisian.
“Kita juga belum tahu pasti apa yang menjadi pertimbangan dari polisi sebenarnya mengulur-ngulur ini. Kalau memang polisi berpihak pada keadilan dan mengayomi masyarakat, harusnya sesuai dengan janji yang dikeluarkan oleh polisi di siaran pers kemarin, itu semestinya hasil penyidikannya itu dapat dikeluarkan satu-dua hari ini,” kata Fatia.
Dia mengatakan, saat ini Andrie harus melalui banyak operasi karena kulit dan matanya rusak akibat siraman air keras itu. Melalui acara malam ini, dia mendoakan kesembuhan Andrie, dan juga keadilan, terutama dari sisi hukum.
“Jadi kita pengin menggaet seluruh elemen masyarakat, untuk bersama-sama berdoa, memanjatkan doa untuk Andrie, untuk kesembuhan Andrie, dan tidak hanya untuk itu, tapi juga supaya negara ini dapat membuka seterang-terangnya siapa yang bertanggung jawab atas penyerangan ini,” ucap Fatia.
Dia juga berharap Presiden Prabowo Subianto mau membentuk tim khusus untuk mengungkap kebenaran dari kasus penyerangan itu.
“Selain mendorong kepolisian, kami juga ingin mendorong kepada Presiden Republik Indonesia untuk segera membentuk tim gabungan pencari fakta independen atas hasil konsultasi dengan berbagai elemen masyarakat sipil, supaya ada sebuah hasil yang imparsial, transparan, dan akuntabel terkait penyerangan yang sistematis ini,” ujar Fatia.

















