Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Islah Bahrawi Dikuntit Orang Tak Dikenal, Bukti Ancaman Kebebasan Sipil

Islah Bahrawi Dikuntit Orang Tak Dikenal, Bukti Ancaman Kebebasan Sipil
Jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026)(Dok. Istimewa)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Al Araf menilai penguntitan terhadap Islah Bahrawi merupakan bentuk intimidasi serius yang mengancam kebebasan sipil dan menunjukkan potensi penyalahgunaan kekuasaan dalam sistem demokrasi.
  • Islah Bahrawi mengungkapkan dirinya dan keluarganya dibuntuti OTK secara sistematis, dengan aktivitas pemantauan mencurigakan di rumah hingga perjalanan pribadi, membuatnya harus mengevakuasi keluarga demi keamanan.
  • Islah menduga para OTK menggunakan alat pelacak dan aplikasi pelaporan terkoordinasi, menunjukkan operasi pengintaian yang terstruktur serta kemungkinan keterlibatan unsur militer berdasarkan pola tindakan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ketua Centra Initiative, Al Araf, menanggapi kasus dugaan penguntitan orang tidak dikenal (OTK) terhadap Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi. Menurut Al Araf, tindakan penguntitan terhadap Islah Bahrawi merupakan ancaman serius terhadap demokrasi.

“Tindakan penguntitan terhadap Islah Bahrawi adalah bentuk intimidasi serius yang tidak bisa ditoleransi dalam negara demokratis. Ini merupakan ancaman nyata terhadap kebebasan sipil dan rasa aman warga negara,” kata dia dalam jumpa pers bertajuk 'Menyikapi Intimidasi dan Teror terhadap Masyarakat Sipil' di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

1. Potensi penyalahgunaan kekuasaan

Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di
Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (YouTube/YLBHI)

Menurut dia, jika terdapat indikasi keterlibatan aparatur negara, maka situasi ini harus dilihat sebagai penyalahgunaan kekuasaan.

“Jika praktik ini melibatkan aparatur atau pola operasi intelijen, maka ini merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang serius dan harus diusut secara transparan dan akuntabel,” kata dia.

Al Araf juga memperingatkan, pembiaran terhadap praktik ini dapat membuka ruang kemunduran demokrasi. Ia menegaskan, negara tidak boleh membiarkan praktik pemantauan ilegal terhadap warga sipil, karena hal ini membuka jalan bagi kembalinya pola otoritarianisme.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan, demokrasi mensyaratkan adanya perlindungan terhadap kebebasan individu.

“Demokrasi hanya dapat berjalan jika warga merasa aman dan bebas dari intimidasi. Ketika warga sipil menjadi target pengawasan tanpa dasar hukum, maka demokrasi sedang mengalami kemunduran," kata dia.

2. Cerita Islah Bahrawi, awal mula tahu dikuntit OTK

Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di
Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (YouTube/YLBHI)

Dalam kesempatan yang sama, Islah mengungkapkan pengalamannya yang merasa menjadi target penguntitan oleh OTK yang diduga memiliki keterkaitan dengan aparat.

Dia mengatakan, peristiwa tersebut berlangsung secara berulang, sistematis, dan semakin intens dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir. Kejadian ini membuat dirinya mengambil langkah pengamanan dengan mengevakuasi keluarga serta meninggalkan rumah untuk sementara waktu karena situasi dinilai tidak lagi aman.

Islah menceritakan, awal mula dirinya menyadari adanya aktivitas mencurigakan justru berasal dari laporan warga sekitar rumahnya yang melihat sejumlah orang tidak dikenal mondar-mandir di lingkungan tempat tinggalnya saat dirinya sedang berada di luar kota. Aktivitas OTK ini terekam jelas melalui CCTV di rumah Islah maupun tetangganya.

"Sepulang dari acara peringatan 28 tahun reformasi di Universitas Islam Indonesia di Jogja, saya didatangi, saya pulang itu tanggal 21 Mei 2026, saya didatangi oleh tetangga kanan kiri, banyak sekali kurang lebih lima orang. Dia bercerita, ketika saya berangkat ke Jogja, ternyata di kampung saya itu udah diserbu oleh yang kita duga tentara," kata dia dalam jumpa pers yang sama.

Dia mengatakan, para OTK itu bergerak dengan kendaraan berbeda-beda, diduga menggunakan pelat nomor palsu, serta melakukan aktivitas pemantauan yang tidak biasa seperti memotret rumah, merekam situasi sekitar, hingga menanyakan detail pribadi keluarganya kepada tetangga secara langsung.

“Jadi ternyata mereka itu terdiri dari kurang lebih sekitar sembilan orang yang bergantian dengan motor yang berbeda-beda, kendaraan berbeda-beda dan semua plat nomornya palsu. Saya pastikan palsu,” ujar Islah.

Dia mengatakan, para OTK tersebut bahkan masuk ke ranah yang sangat personal. Mereka menggali informasi mengenai aktivitas harian anggota keluarganya, mulai dari jumlah anggota keluarga, pekerjaan, jam kerja, hingga pola aktivitas asisten rumah tangga. Menurut Islah, kegiatan ini sudah menyerupai proses profiling dan pemetaan target secara terstruktur terhadap dirinya dan lingkungan rumahnya.

“Menurut laporan tetangga juga, mereka (OTK) bertanya-tanya tentang anak saya. Anak saya berapa orang, mereka ada di mana, mereka ngantornya di mana, kerjanya di mana, Pak Islah kalau berangkat kerja jam berapa, Pak Islah kerja di mana dan seterusnya. Ada berapa orang di rumahnya Pak Islah itu anggota keluarganya, pembantunya ada berapa, pembantunya kalau datang jam berapa, apa yang dilakukan oleh pembantunya kalau pagi hari, siang hari, sore hari, dan seterusnya," kata dia.

Islah kemudian menjelaskan dugaan penguntitan tidak hanya terjadi di sekitar rumah, tetapi juga berlanjut ke aktivitas mobilitasnya bersama keluarga. Termasuk saat dia menjemput anaknya yang libur kuliah di Malaysia hingga melakukan perjalanan ke beberapa lokasi di Jakarta. Dia menuturkan adanya satu mobil yang terus mengikuti pergerakan mereka secara konsisten, mulai dari titik keberangkatan, tempat makan, hingga perjalanan kembali menuju rumah tanpa terputus.

“Saya menjemput anak saya yang liburan. Karena anak saya kuliah di Malaysia, dia libur Idul Adha, saya jemput ke bandara. Saya belum sadar (dibuntuti OTK). Nah ketika ponakan saya itu duduk di barisan belakang karena seven seater. Ponakan saya itu curiga. Ketika keluar dari rumah, ada mobil Avanza ini," kata dia.

Dia mengatakan, kendaraan tersebut terus membuntuti hingga perjalanan kembali ke rumah, termasuk saat dirinya berhenti di beberapa titik kecil seperti toko swalayan, sebelum akhirnya kendaraan itu menghilang ketika dia sudah memasuki area gang rumah. Dia menduga adanya pola pengawasan terarah semakin menguat.

“Jadi mulai dari berangkat ke bandara sampai saya mampir di restoran untuk menjamu anak saya yang baru pulang dari Malaysia di PIK 2 itu, mereka juga ikut parkir tapi tidak ikut makan. Ketika saya pulang dari Pagi Sore ke arah rumah, dia juga mengikuti terus sampai keluar pintu tol. Saya keluar dari tol, saya beli rokok, rokok saya habis, dia juga ikut berhenti dan kemudian sampai ke rumah, dia baru melepas saya ketika saya masuk ke gang rumah," kata Islah.

3. Penggunaan alat pelacak hingga aplikasi oleh OTK saat menguntit

Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di
Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (YouTube/YLBHI)

Selain itu, berdasarkan pemantauan dan pengamatan yang dilakukan, Islah menyebut adanya dugaan penggunaan alat pelacak yang menurutnya digunakan untuk memantau posisi pergerakan dirinya secara real time. Islah semakin yakin pengintaian tersebut bukan bersifat acak, melainkan terstruktur dan terkoordinasi dengan metode tertentu.

Para OTK juga disebut memanfaatkan sebuah aplikasi di gawai untuk melaporkan kejadian. Islah menyebut, dalam dunia intelijen sistem ini disebut reporting and eliciting.

"Kenapa saya bilang terorganisir juga, mereka titik kumpulnya sama. Mereka kemudian saling berbagi informasi yang didapatkan. Nah yang kedua, indikasi ini diperkuat oleh sistem aplikasi yang sama. Ini adalah sistem aplikasi pelaporan, reporting and eliciting. Jadi ini adalah sistem pelaporan dan sistem pemunculan dari target yang sedang diintai itu dengan aplikasi yang sama ini," kata Islah.

"Biasanya masing-masing instansi intelijen itu punya aplikasi pelaporan yang berbeda-beda. Nah ini kita gak tahu aplikasi ini, sistem pelaporan ini punya instansi mana, kita juga belum bisa menebak-nebak, yang jelas kita gak tahu sistem aplikasi ini milik siapa," ujar dia.

Merasa situasi semakin tidak terkendali dan berpotensi membahayakan keselamatan keluarga, Islah akhirnya mengambil keputusan untuk mengevakuasi ibu, anak, serta anggota keluarga lainnya ke lokasi yang dianggap lebih aman, sementara rumah ditinggalkan dengan penjagaan warga sekitar. Dia mengatakan, meskipun sudah berpindah tempat, aktivitas pengintaian terhadap dirinya masih terus terjadi.

“Saya kemudian harus mengungsi sama keluarga, dan juga ibu saya terpaksa saya juga ungsikan semua, dan rumah saya tinggalkan kosong dengan penjaga dari warga," kata dia.

Menurut dia, pola pengawasan tersebut masih berlanjut bahkan setelah dirinya berpindah lokasi sehingga memperkuat kecurigaannya bahwa operasi pengintaian ini dilakukan secara berkelanjutan dan terorganisir. Dari rangkaian kejadian tersebut, dia menyimpulkan, kelompok OTK yang diduga terlibat memiliki struktur yang rapi dan kemungkinan berasal dari unsur yang lebih terlatih.

“Kesimpulan saya berdasarkan analisis saya pribadi memang, kelompok OTK ini kemungkinan besar adalah sebuah tim intelijen yang terorganisir. Saya sebut terorganisir, karena besar kemungkinan dari orang-orang ini berada dalam lintas instansi yang berbeda. Tapi diorganisir oleh satu instansi saja, atas perintah satu komandan saja," kata Islah.

Meski ia tidak memaparkan bukti teknis secara terbuka, Islah juga menduga kelompok tersebut memiliki kemungkinan keterkaitan dengan unsur militer. Dia menegaskan, analisis tersebut merupakan hasil pengamatan pribadinya terhadap pola-pola yang ditemukan selama peristiwa berlangsung.

Islah sendiri tak mengetahui alasan pasti mengapa dirinya dikuntit oleh sejumlah OTK. Dia menduga motifnya kemungkinan melakukan intimidasi secara psikis maupun fisik. Saat ini Islah masih mengumpulkan berbagai bukti.

“Kemungkinan OTK ini dari militer. Kemungkinan besar. Dari 6 wajah yang kita kumpulkan itu, ini kemungkinan besar orang tak dikenal ini dari militer. Mohon jangan tanya apa dasarnya, jangan dulu. Karena kami juga sedang mengintai para pengintai ini. Kita sedang menginteli intel ini. Kita sedang melakukan penyelidikan dari para penyelidik ini," ucap dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More